WHAT'S NEW?
Loading...

Perjalanan Penuh Makna Menuju Puncak Anak Krakatau


"Karena hidup bukan untuk dihabiskan di satu titik dalam peta. Pergilah, buatlah garis dalam peta kehidupanmu dan lihatlah berbagai macam ciptaanNya.”



Hari itu, saya kembali membuka catatan-catatan lama (buku primbon, haha), tak sengaja menemukan quotes di atas. Quotes ketika saya mulai melakukan sebuah perantauan untuk pertama kalinya. Tentu saja, ketika saya membaca tulisan itu, semangat traveling saya yang terlihat mulai berdebu kembali lahir.  

Sepakat ketika banyak orang bilang, "Menulislah, apapun! Jika tulisan itutidak bermanfaat untuk saat ini, yakinlah tulisan itu akan bermanfaat suatu saat nanti. Dan jika bukan bermanfaat untuk dirimu, yakini jugalah bahwa tulisan itu akan bermanfaat buat orang lain."

18 Oktober, akhirnya saya kembali melangkahkan kaki untuk mencoba belajar, melihat dan mengenal salah satu sudut di bumi ini. Setelah sekian lama tidak melakukan sebuah perjalanan panjang, akhirnya Anak Gunung krakatau berserta kronco-kronconya berhasil membayar rasa haus saya. Bersama sebuah komunitas yang baru saya kenal, Backpacker Koprol, saya memulai perjalanan ini.

Jumat, 18 Oktober, Sepulang kerja, saya langsung 'berlari' menuju terminal Leuwi Panjang, mengejar bus Jurusan Bandung-Merak. Ngarepnya sih dapet bus berlabel ARIMBI, tapi sayang bukan bus itu yang menemani perjalan saya ke merak. Tapi gak apa-apa, yang penting sampai!


Dalam perjalan menggunakan bus, selain sesi tidur, ada satu sesi yang selalu saya nikmatin, yaitu sesi berkenalan dengan soulmate sebangku (ciee). Entah nasib atau apa, tapi selama saya hidup dan melakukan sebuah perjalanan menggunakan bus, tidak pernah ada lawan jenis duduk disamping saya. Selalu saja para pria yang menemani, haha. Padahal tampang saya gak menyeramkan, jelek pun tidak (kata saya, hahaha). Ya sudahlah, saya terima nasib ini dengan tangan terbuka. Kali ini, pria matang yang sudah berkeluarga yang menjadi soulmate saya. 

Beliau bernama Mas Ucu, usianya terbilang cukup muda, 33 tahun. Berperawakkan cukup kurus tetapi tinggi dan terbilang berkulit putih untuk ukuran orang indonesia. Kami mengobrol panjang lebar, mulai dari rutinitas kegiatan saat ini, tentang sulitnya kehidupan hingga manisnya berkeluarga, hingga mimpi kami masing-masing. Malam itu saya belajar banyak dari beliau. Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk bertemu kembali suatu saat nanti yah Mas Ucu. :)

Hampir enam jam saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju Pelabuhan Merak, tidak terlalu terasa karena saya menghabiskan separuh waktu dengan membaca dan tidur (bukan kebluk, tapi cerdas yah, hahaha). Sesampainya di merak, saya berkenalan dengan seluruh Anggota Backpacker Koprol yang telah menanti. 13 Personil terkumpul untuk melakukan ekspedisi ke Anak Gn.Krakatau; Bang Alvie, Bang Yedi, Bang Haris, Bang Fandi, Bang Indra, Bang Roni, Bang Irvan, Bang Rangga, Mba Dindi, Mba Lia, Mba Vita, dan Mba Naya.


Berbicara tentang Krakatau, tentu ini menjadi sebuah pengalaman pertama saya mengarungi sebuah perjalanan lintas pulau. Mengingat saya tinggal di Pulau Jawa, dan Krakatau di daerah Lampung, Sumatra. Yah yah yah, bisajadi itu semua yang membuat saya begitu bersemangat ketika menaiki kapal Feri. Dek demi dek saya jelajah, hingga tiba di dek paling atas. Dek dimana saya bertatapan langsung dengan langit malam. Saat itu dalam hati terbesit sebuah kalimat kecil, "Oh gini toh rasanya naik kapal besar, mungkin ini yang dirasakan Leonardo Di Caprio dalam film Titanic yah" :p


Pukul 03.00 subuh, kami tiba di pelabuhan Bakauheni, kami langsung melanjutkan perjalan menuju Dermaga Canti, dermaga yang nantinya ada sebuah perahu yang telah disewa untuk menjadi kendaraan pribadi kami selama berekspedisi. 



Pukul 05.00 pagi, kami sampai di dermaga Canti. Setelah melakukan shalat subuh, sarapan dan berfoto ria, kami akhirnya melanjutkan perjalanan di pukul 06.00 pagi menuju tempat singgah kami, Pulau Sebesi.

Sebelum singgah di Pulau Sebesi, kami menyapa dua buah pulau terlebih dahulu, Sebuku kecil dan Sebuku Besar. Tempat dimana menjadi area pertama untuk bermain snorkeling. Kedua pulau ini menunjukan hartanya,walaupun beberapa terumbu karangnya terlihat carang, tapi kehidupan bawah lautnya cukup memesona kami.


Di kedua tempat ini pula lah saya dan rekan-rekan mendapatkan sambutan selamat datang dari para penghuninya, UBUR-UBUR. Kami semua "dicium" ubur-ubur. Disengat maksudnya. Banyak yang berukuran kecil di sana, sehingga ketika kita sedang bersnokrling-ria, kita tak sengaja menabrak mereka. Dari semua orang yang ada, saya rasa yang paling disukai ubur-ubur itu Bang Haris. Bagaimana tidak, sekujur tubuh bang Haris, bahkan hingga daerah muka terkena sengatan ubur-ubur tersebut, hahaa. Sepuasnya bermain snorkeling di kedua pulau ini, kami langsung menancapkan gas menuju pulau Sebesi.


Pulau Sebesi, pulau yang sangat tenang dan tepat untuk beristirahat dari kepenatan rutinitas yang ada. Saat ini, di pulau Sebesi masih menggunakan jenset sebagai alat penerangnya. Dengan alat tersebut, membuat pulau yang berpenghuni 500-1000 orang ini, harus merasakan nikmatnya cahaya listrik secara bergantian. Kami sendiri mendapat jatah energi listrik mulai pukul 18.00 hingga 24.00 (walaupun pada kenyataannya, sampai jam tiga pagi masih mendapatkan listrik). Yah, walaupun sengsara karena tidak cukup listrik untuk mencharge HP saya, tapi ini termasuk bagian kenangan yang saya ingat dari perjalan saat itu.


Pukul 15.00, setelah shalat dan beristirahat, kami kembali melakukan perjalanan untuk bermain snorkeling di Cemara Satu dan mengejar sunset sambil bermain pasir putih di Pulau Umang-umang.


Malamnya kami mempersiapkan diri untuk menikmati santapan yang sudah dihidangkan. Di balik redupnya cahaya dan gelapnya malam, kami menggelar tikar di tengah bangunan dengan pemandangan laut. Di sesi ini kami habiskan untuk saling mengenal satu sama lain, bercerita tentang pengalaman perjalanannya masing-masing. Hingga pukul delapan malam kami saling bercengkrama. 

Langit malam Pulau Sebesi menjadi saksi bisu sebelum kami melakukan ekspedisi sebenarnya. Pendakian menuju puncak Anak Gunung Krakatau dan perjalanan untuk menjumpai cahaya Abadi Pulau Sebesi yang sebenarnya. 

Pukul 04.00 dini hari, kapal sewaan kami berlayar dari dermaga Pulau Sebesi menuju Gunung Anak Krakatau. Terlihat petir di langit saat itu seakan-akan mengantarkan kepergian kami dari dermaga. Ombak dermaga masih cukup tenang, membuat sebagian dari kami yang belum berpengalaman merasa aman. 30 menit berlalu, ombak semakin menunjukkan keperkasaannya. Satu orang dari kami mulai mual, diikuti oleh dua hingga empat orang berikutnya. Yah! Lima orang dari kami saat itu mengalami mabuk laut. Sebagian lagi dari kami sudah terlelap karena obat ANTIMO yang telah diminum sebelumnya. Saat itu, perjalanan masih harus menempuh 1 jam 30 menit untuk sampai di daratan Pulau Gunung Krakatau. Di dalam kapal dan di tengah-tengah lautan, sebagian dari kami hanya bisa berharap "Semoga cepat sampai".  

 
Pukul 05.30, kami tiba di daratan Pulau Anak Krakatau. Nafas lega keluar dari kami semua. Daratan pasir hitam menyambut kami, ditambah aroma belerang yang cukup kuat. Setelah asik berfoto-foto di kaki gunung, kami memulai pendakikan kami. Dalam waktu 30-45 menit, kami berhasil mencapai puncak zona aman Gunung Anak Krakatau. Pemandangan yang sangat indah di tempat tersebut membayar segala lelah perjalanan kami. 


Pukul 08.00, Kami meninggalkan Pulau Gunung Anak Krakatau, kali ini perjalanan kami lanjutkan menuju Labuan Cabe. Menurut nakhoda kapal, tempat inilah yang paling bagus untuk bermain Snorkeling.  Sekitar 30 menit perjalanan dari Anak Krakatau, akhirnya kami semua sudah tiba di sana. Sebuah tempat yang ternyata memang benar akan keindahan bawah lautnya. Banyak sekali ikan-ikan yang hidup disini. Terumbu Karang yang tumbuh disini pun menambah nilai plus keindahannya. Setelah puas bermain snorkeling, kami kembali menuju Pulau Sebesi. Mempersiapan diri untuk melihat "Cahaya Sebesi yang sebenarnya".  

Pukul 13.00, kami berjalan lebih dalam di pulau Sebesi, konon katanya, walaupun cahaya listrik harus dinikmati secara bergantian, tapi di Pulau Sebesi telah lahir sebuah Cahaya Abadi. Sekitar 10-15 menit kami berjalan dari basecamp, kami sudah tiba di pusat Cahaya Abadi Sebesi. Tahukah kalian cahaya itu ? Cahaya itu adalah kumpulan anak-anak Sebesi yang sedang belajar Al-Quran. Sekitar 122 anak terkumpul untuk belajar di sebuah mushola. Anak-anak sebanyak itu hanya diajar oleh dua orang tenaga pengajar. Dan yang bikin hati saya tersentuh adalah ketika pengajar berkata biasanya mereka mulai belajar dari Ba'da Maghrib hingga jam 22.30 malam hari. Dengan segala keterbatasan yang mereka punyai, mereka tetap istiqomah untuk mempelajari Al-Quran halaman demi halaman. Subhanallah. 


Pukul 14.00, kami akhirnya meninggalkan pulau Sebesi. Kembali menuju halaman rumah kami masing-masing. Melalui perjalanan pulang yang panjang, dan akhirnya sampai kembali ke kampung halaman, Kota Kembang pada pukul empat dini hari keesokan harinya.
Eksotika Cahaya Sebesi, Gunung Anak Krakatau, dan seluruh kronco-kronconya memberikan ruang baru di hati saya. Ditambah kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman Backpacker Koprol, perjalanan kali ini menjadi lebih luar biasa berkesan. Dari sinilah saya menemukan bahwa di sudut lain bumi, masih ada yang bisa tersenyum dibalik keterbatasan yang mereka miliki. Dan lebih dari itu semua, dalam perjalanan kali ini saya belajar tentang arti berbagi dan bermanfaat bagi sesama. 

Terima Kasih Allah, terima kasih Backpacker Koprol.

 


Tulisan ini dibuat oleh Muhammad Fitrah

18 komentar: Leave Your Comments

  1. aaak jd kangen krakatau, apalagi pemandangan bawah lautnya keren bgt terutama di pulau panjang dll

    BalasHapus
  2. uwaaaaaaaaaaaaaa,,,seruuuuu,pingin kesana ^^

    BalasHapus
  3. Krakatau emang keren, apalagi kalau lagi aktif terus camping di pulau seberang. KEREN! Cek aja catpernya di blogku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. peralatan rumah tangga

      wuihhh gmna jadinya tu camping disana pas lagi aktif ???
      bahaya kah ???

      Hapus
  4. Ingat Krakatau ingat cerita tentang letusannya yg maha dahsyat itu.

    BalasHapus
  5. waa keren gan jadi pengen ni kesana :) hhhe
    salam persahabatan :) kunjungi balik yaa

    BalasHapus
  6. subhanallah ..

    btw, november saya mau kesana .. backpack .. mau nanya, dari dermaga canti bisa gak sewa perahunya disana ? atau harus reserve terlebih dahulu, mas ?

    mohon infonya yaa ..

    salam nyasar #lho :D

    BalasHapus
  7. cerita backpacker koprol agan menginspirasi geng backpacker saya. dan akhir tahun 2014 ini kami berencana mau ke sana. tolong info lebih lanjut ya gan. karena info backpacker ke sana masih minim sekali. terutama rute dan budget tanpa travel agen.
    butuh info secepatnya.
    trims

    balas ke mia.muslimah@yahoo.com

    BalasHapus
  8. Catpernya bagus nih. Mohon info itinerary mas, saya rencana awal januari mau kesana. Adakah kontak person yg rekomen. Trims bgt.
    Tolong reply ke ryosen9[et]yahoo.com.

    BalasHapus
  9. itu yang kena sengat uburubur berbekas ga ?

    BalasHapus
  10. wah kata orang pemandangan bawah laut di krakatau paling asik y ??? (y)
    semoba bisa kesampaian jga kesini :)

    BalasHapus
  11. Pengen banget nyicipin naik gunung... tapi gatau gimana mewujudkannya. gak punya temen yg punya hobi kayak gitu, dan saya ga yakin mampu :(

    BalasHapus
  12. "Karena hidup bukan untuk dihabiskan di satu titik dalam peta. Pergilah, buatlah garis dalam peta kehidupanmu dan lihatlah berbagai macam ciptaanNya.” Ini kereeen banget :D

    BalasHapus
  13. Setelah baca ceritanya ternyata Backpacker itu seru banget ya,,,

    BalasHapus