WHAT'S NEW?
Loading...

Lagoon Cabe Tak Seindah Dulu

 http://31.media.tumblr.com/e724171d8b5a1011f1034e66ac5c1294/tumblr_ms8wosdBH21sg2vemo1_1280.jpg
Terumbu karang itu berwarna-warni. Melambai-lambai mengikuti arus bawah laut. Ikan-ikan yang juga penuh warna berenang riang. Seolah menyapaku yang datang untuk melihat keindahan dunia bawah laut Lagoon Cabe di komplek gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Tapi itu dulu, 2 Desember 2012. Saat pertama kalinya aku berwisata ke Krakatau yang dikenal dunia karena letusannya pada 1883 yang maha dahsyat sehingga membuat dunia menjadi gelap selama berhari-hari karena debu vulkaniknya menghalangi sinar matahari.

Alasan berwisata ke Krakatau bukan hanya karena sejarah letusannya, tetapi juga pesona keindahan mahluk laut yang bisa dinikmati dengan snorkeling. Sayang seribu sayang, Lagoon Cabe yang dulu menjadi primadona sudah meredup keindahannya. Tak jelas apa penyebab, namun aku takut bahwa aku menjadi bagian dari perusak keindahan Lagoon Cabe.

10 Maret 2013 saat aku datang untuk kedua kalinya. Saat itu musim angin badai. Gelombang laut tinggi. Sehingga perjalananku bersama rombongan wisata saat menjelajah pulau dengan perahu motor tak ubahnya menaiki wahana kora-kora atau roaler coaster di Ancol. Semua kami tempuh dengan penuh kekhawatiran dan berpegang pada doa yang tak pernah putus. Ya, demi mendaki Krakatau dan snorkeling di Lagoon Cabe.

Tapi apa yang aku lihat disana? Terumbu karang warna-warni itu tertinggal sedikit saja. Patah dimana-mana. Aku mengira terumbu itu rusak karena hantaman gelombang laut yang kuat. Ada tangis diam-diam dalam hati.

25 Agustus 2013, ini kali ketiga aku ke Krakatau. Beberapa tunas terumbu karang terlihat baru muncul. Mereka seperti bayi yang baru dilahirkan. Indahnya memang belum kembali seperti semula. Namun tingkat kerusakan masih bisa dibilang sama. Patah dimana-mana. Tapi tunas-tunas baru itu adalah harapan masa depan.

Ada hal yang membuat aku kesal ditengah bahagiaku melihat bayi terumbu pada kedatanganku yang ketiga kemarin. Saat aku hendak menyudahi snorkeling dan kembali ke kapal. Aku mendengar seseorang berteriak dari atas perahu.

"Yeay, gue dapet nemo dua!"

What! Nemo ditangkap? Aku mencari sumber suara itu, di atas kapal motor dengan label "Karya Usaha" terlihat seorang perempuan sedang meraih gelas air mineral yang berisi air laut dan 2 ekor ikan badut dari temannya yang masih mengapung di permukaan laut. Rupanya temannya itu pandai menyelam, sehingga dapat meraih ikan-ikan nemo yang hidupnya bersembunyi di antara terumbu karang yang masih hidup.

Sekali lagi, aku kesal melihat itu. Meski dalam hati sedikit terhibur karena mereka yang kurang ajar itu bukan dari rombongan yang aku bawa untuk berwisata ke Krakatau.

Ingin menegur, tapi ternyata aku termasuk dalam golongan orang dengan selemah-lemahnya iman. Aku tak ingin membuat keributan disini. Namun dalam hati aku terus mengutuk perbuatan mereka, dan berdoa semoga mereka disadarkan.

Aku segera kembali ke perahu motorku yang ditambat bersebelahan dengan perahu yang disewa oleh rombongan mereka yang mengambil ikan badut itu. Sampai di atas perahu, aku segera menemui ranger yang memandu rombonganku saat berwisata di Krakatau. Kukabarkan perihal ikan badut yang ditangkap itu. Aku memintanya untuk menegur mereka. Dan ranger yang akrab disapa Mas Bro pun sigap, segera mendekati mereka dan menegur agar mengembalikannya ke laut.

Aku atau juga Backpacker Koprol bukanlah organisasi atau komunitas pecinta alam, tapi kami tak akan pernah rela jika keindahan alam dirusak. Bahwa kami juga berusaha mengingatkan kepada seluruh peserta trip agar sama-sama menjaga alam. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, membuang sampah pada tempatnya dan jangan menyentuh terumbu karang dan jangan menangkap biota laut apapun saat snorkeling. Apa jadinya jika laut banyak sampah? Apa jadinya jika terumbu karang rusak?

Coba kita baca lagi Perilaku Snorkeling yang baik untuk lingkungan yang pernah dikutip dari web organisasi yang peduli pada dunia laut. Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar