WHAT'S NEW?
Loading...

Berkontemplasi Bersama Angin Mercusuar Anyer



Saya tercengang. Takjub campur takut, ditambah tak percaya. Saya hampir yakin saya belum pernah ada di tempat setinggi itu. Tapi waktu itu, di atas Mercusuar Anyer itu, saya tahu perasaan apa yang jelas singgah di benak saya: excited




Begini ceritanya. Saya mengikuti kegiatan sebuah komunitas yang disebut dengan Backpacker Koprol. Kegiatan bertajuk Te-We (travel writer) itu diadakan di Rumah Dunia, Serang, Banten selama dua hari. Hari pertama, yaitu Sabtu (09/02), tim panitia menugaskan peserta untuk mengeksplorasi Banten. Peserta dibebaskan pergi ke tempat manapun yang diinginkan, tentu disesuaikan oleh budget masing-masing dan juga waktu yang disediakan panitia. Dengan bekal uang yang minim (sekitar Rp. 100.000,00-) saya dan Intan memutuskan pergi ke Mercusuar Anyer. Ternyata bukan hanya kami yang ingin kesana, tapi juga empat orang peserta lainnya. Lalu sekitar pukul 09.30 pagi, kami berenam pun berangkat dari Alun-Alun Serang menuju Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang menggunakan angkot. Sengaja kami tidak pergi langsung ke Anyer sebab kami berencana pergi ke sana pada sore harinya untuk memburu sunset

Akhirnya sekitar pukul 16.30 sore, setelah Tasya, Eli, Nurul dan Laras menghabiskan waktu di Curug Gendang, sementara saya dan Intan di Pantai Carita, segeralah kami berangkat ke Mercusuar Anyer menggunakan angkot. Setibanya di lokasi, kami segera membeli tiket masuk seharga Rp 2.000,00 per orang. Sebenarnya, menara mercusuar telah ditutup saat kami tiba, tapi untungnya, bapak penjaga mercusuar mau berbaik hati membukakannya kembali untuk kami. 

Mercusuar Anyer memiliki total tujuh belas lantai. Itu cukup membuat lelah. Bahkan Intan menyerah di lantai kesepuluh dan akhirnya kembali turun sambil menunggu di tepi pantai. Jadi, tidak mudah untuk bisa sampai ke atas. Tapi setelah sampai di puncak, pemandangan dari ketinggian yang terhampar di hadapan mata seolah membayar setiap peluh dan nafas yang tersengal. Dan ketika saya mengitari sisi barat menara, menyaksikan dengan jelas senja yang menggantung malu di atas Laut Anyer, saya tahu pemandangan sebelumnya belum ada apa-apanya. 

Saya ngeri pada awalnya. Angin yang berhembus sangat kencang. Saking kencangnya, saya merasa bisa dihempaskan angin kapan saja. Saya pun merapatkan diri lekat-lekat ke tembok, takut melihat ke bawah. Tapi bagaimanapun, manusia tetaplah makhluk yang suka ingin tahu. Saya mengintip ke bawah, lalu dengan takut-takut menjepret pemandangan mobil yang berlalu-lalang di jalan, laut yang berkilauan, serta langit yang merona. 

Perlahan saya pun mulai berani. Saya mulai menikmati angin yang berhembus itu, tidak takut lagi akan terhempaskan. Rasanya seperti sedang ekstase. Seperti diri saya juga menguap bersama kengerian. Kemudian saya melihat laut seolah sejajar dengan saya. Saat itulah saya benar-benar menyadari bahwa bumi ini bulat. Bahkan jika saya menatap jalan tepat ke ujungnya, jalanan itu juga akan tampak sejajar dengan saya. 

Saya suka ada di atas sana. Kini saya mengerti kenapa beberapa tokoh utama di dalam film-film yang saya tonton sangat suka ‘kabur’ ke atap gedung di tengah-tengah rutinitas hidupnya. Ternyata, selain bisa menikamti seisi kota dari atas, berdiam diri sendirian di sana juga bisa membuat kita berpikir lalu berdamai begitu saja dengan apa pun yang terjadi. Mungkin itu yang dinamakan dengan ketenangan. Tapi sore itu, sayangnya saya tidak punya waktu lama untuk berkontemplasi ria bersama angin. Bapak penjaga mercusuar sudah memanggil kami untuk segera turun sebab hari sudah mulai larut. 

Hanya sampai di situ kenikmatan misterius yang saya rasakan. Saya cukup puas. Tapi kapan-kapan saya harus kesana lagi, menghabiskan waktu yang lebih lama. Anda juga.



 Tulisan dibuat oleh Raudika Lestari (ujung kiri), ketika mengikuti event 
Backpacker Koprol : Te-We, More Than Traveling

Biodata:
Penulis bernama lengkap Raudika Lestari. Memulai kegiatan menulisnya sejak punya keinginan untuk jadi pembuat film saat kelas 5 SD, tapi baru serius menjalankannya di bangku SMA (dan baru produktif setelah di bangku kuliah ([tu pun tanpa sering dipublikasikan]). Sangat hobi nonton film dan bisa nonton lebih dari satu film dalam sehari. Penulis yang baru saja terbangun dari masa ‘hibernasi’nya ini bertekad untuk mengubah dirinya yang ‘nothing’ menjadi ‘something’ dengan mencoba ‘keluar’ dari dirinya dan ‘hidup’ di dunia. Motto yang paling ia pegang selama ini tapi juga susah sekali diterapkan adalah quote dari Lebron ‘King’ James: i’m the worst enemy of me, so i can’t loose. Sementara tiga kata ajaib faforitnya yang lebih susah lagi diterapkan adalah ini: ima wo ikiro (live for the moment).

2 komentar: Leave Your Comments