WHAT'S NEW?
Loading...

Karang Antu, Pesona Wisata yang Terabaikan

Picture by Ihwan
Menurut gue, kebanyakan orang yang suka jalan-jalan pada suatu titik dia bakal menemukan style traveling sendiri dan tempat favorit macam apa yang jadi tujuan. Gue misalnya. Gue pernah jalan-jalan ke gunung dengan jadwal intenenary yang padat plus equipment lengkap. Atau traveling jenis city tour tanpa intenenary dan bener-bener masih belom tau mau ngapain disana, ‘asal jebret’ aja. Dan semakin banyak tempat yang gue kunjungi, gue sadar bahwa gue punya passion yang berlebih sama yang namanya pantai. Nggak ada alasan spesifik kenapa gue suka banget sama suasana kombinasi antara pasir, pohon kelapa, dan deburan ombak. Tapi ini bukan berarti gue nggak suka sama tempat tujuan jalan-jalan lain selain pantai loh ya. Ya kalo ada yang mau ngajak gue jalan-jalan keliling Kamerun gratis gue sih nggak nolak walaupun di sana nggak ada pantai.

Nah, di suatu Sabtu tanggal 9 Februari 2013 gue mengikuti suatu event yang diadakan Backpacker Koprol, suatu komunitas tukang jalan-jalan yang mempunyai tagline ‘More Than Traveling’. For your information aja nih ya, gue bela-belain nggak nonton AC Milan Glory (Gue? Yup, Milanisti sejati!) di Jakarta demi mengikuti acara ini. Kenapa? Karena eh karena acara ini mengakomodir dua hobi gue sekaligus, menulis dan jalan-jalan. Di acara ini peserta di koordinir untuk jalan-jalan ke seputar daerah tujuan wisata di Banten. Kemudian dilanjutkan dengan workshop menulis yang digembleng langsung sama penulis terkenal dan asli Banten,  Gol A Gong.

Oke balik lagi ke jalan-jalan. Sampe mana tadi? Oh iya, pantai. Hari itu gue berkesempatan untuk mengunjungi salah satu pantai di Kota Serang. Menurut guide book yang gue baca namanya Pulau Lima. Gue bersama tiga orang teman, langsung sepakat menuju Pulau Lima karena sebagian dari kami belum pernah dan jaraknya dari Alun-alun Serang, meeting point kami, nggak begitu jauh.

Tiga temen gue ini namanya Ari, Nunu, dan Hutri. Semuanya punya nafsu yang gede kalo soal jalan-jalan. Ari dan Hutri adalah temen gue dari SMP, sedangkan Nunu adalah pacarnya Ari. Kita sepakat untuk bergaya backpacker dalam jalan-jalan kali ini, makanya kita nggak nyarter angkot. Bahkan awalnya kami berniat menyetop mobil bak terbuka dan minta dianterin sampe titik terdekat, yaitu Pelabuhan Karang Antu.

Kami berjalan lumayan jauh dari alun-alun ke perempatan Royal untuk cari transport. Tapi mobil bak yang ditunggu-tunggu nggak kunjung datang, lama benget kayak tanggal gajian yang masih lama juga. Oke, yang ini gue curcol. Akhirnya karena matahari yang mulai tinggi dan cuaca makin panas padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh, kami memutuskan untuk ngeteng naik angkot . Di Serang, orang yang nyetir angkot disebut juga sebagai sopir angkot (Menurut lo?)

Dari perempatan Royal itu membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk menuju Karang Antu, dan itu pake transit dulu di Banten Lama. Ongkosnya kena Rp 5.000,00 per kepala.

Setelah sampe di Karang Antu, kami bertanya-tanya sama orang sekitar tentang akses menuju Pulau Lima. Oh iya, sebelum gue cerita lebih jauh gue mau cerita sedikit tentang Pelabuhan Karang Antu boleh? Oke, thanks kalo boleh.

Begini. Dulu, jauh di zaman orang curhat lewat Twiter, Pelabuhan Karang Antu adalah pusat perdagangan terbesar di Pulau Jawa. Orang Eropa, Cina, Arab, Gujarat, semuanya mesti lewat pelabuhan ini kalo mau berdagang. Komoditas utama kala itu adalah Rempah-rempah. Banyak yang beranggapan bahwa dahulu Karang Antu pada masa jayanya adalah Singapura dari Jawa.

Sayangnya, waktu itu om-om Belanda yang konon kejamnya cetar membahana badai bernama Herman William Daendels memerintahkan untuk membangun jalan raya seribu kilometer dari Anyer sampe Panarukan dan jalan itu tidak melewati pelabuhan ini. Dia malah membangun sebuah pelabuhan lagi di Sunda Kelapa yang kemudian menjadi pelabuhan terpenting di nusantara. Akhirnya perekonomian Kesultanan Banten galau, sebelum akhirnya Daendels mengalahkan Kerajaan Banten. Secara ‘simbolik’ kemenangan Daendels ditandai dengan hancurnya Keraton Surosowan yang megah itu. Jadi kerajaan Banten itu runtuh karena diserang Belanda, bukan Negara Api (Maksud lo?).

Sejak itu lah secara perlahan Karang Antu mulai terpinggirkan. Perannya sebagai pintu gerbang perdagangan di Jawa nyaris nggak bersisa. Kini, Karang Antu hanya sebuah pelabuhan para nelayan dan tempat pelelangan ikan. Kondisinya juga lumayan bikin gue ngurut dada (dada gue, bukan dada Daendels), kotor, dan semrawut. Kalo bau sih gue masih permisif ya, namanya juga pasar ikan.

Tapi gue melihat ada sebuah upaya pemerintah Banten untuk membuat pelabuhan ini menjadi sebuah tujuan wisata. Walaupun belum banyak yang diperbuat, tapi usaha pemerintah bisa diliat dari sebuah tembok besar yang bertuliskan ‘KOTA WISATA KARANG ANTU’ di salah satu sisi sungai, menurut gue ini positif karena membuat Karang Antu memiliki landmark-nya sendiri.

Dari tempat pemberhentian angkot, kami mendapatkan informasi bahwa untuk mencapai Pulau Lima kami harus naik perahu yang bisa disewa. Kami bertanya di sebuah konter pulsa dan orang yang kami tanya menyarankan supaya kami berjalan terus sampai dermaga.

Kami mengikuti saran orang itu. Kami menyusuri jalan beton di tepi sungai tempat perahu-perahu nelayan bersandar. Di sepanjang jalan itu kami melihat kegiatan penduduk sekitar seperti menjemur ikan hasil tangkapan, nyuci perahu, atau yang sekedar bersantai leyeh-leyeh di pinggir sungai. Lumayan bikin gempor ternyata untuk mencapai dermaganya.

Sampai di dermaga, kami berjumpa dengan rombongan lain yang juga mengikuti event ini. Kalo ditotal, semuanya ada enam belas orang. Kami dikenakan ongkos Rp 50.000,00 per kepala sama yang punya perahu. Bapak berbadan kekar dan kulit terbakar matahari itu bernama Pak Daeng. Orangnya cukup ramah. Saking ramahnya kami ditawarin untuk naek banana boat dari dermaga sampe Pulau Lima. Gue, Ari, Nunu, dan Hutri yang memang terindikasi mengidap sindrom masa kecil kurang bahagia, langsung menerima tawaran itu dengan hati gembira dan badan koprol. Walaupun akhirnya Ari harus mengalah duduk di speed boat untuk mengambil foto, karena biar bagaimanapun dan dalam kondisi apa pun ketika jalan-jalan, narsis adalah sebuah keharusan. Apalagi untuk backpacker keren kayak kami.

Jadi yang berangkat dari dermaga Karang Antu itu adalah sebuah perahu nelayan berukuran sedang, sebuah speed boat, dan sebuah banana boat.  Gue antusias banget, masalahnya ini adalah untuk pertama kalinya gue menggunakan banana boat sebagai alat transportasi. Biasanya kan kalo gue naek banana boat ya ujung-ujungnya diceburin.

Perlahan banana boat kami meninggalkan dermaga dan menyusuri muara sungai. Airnya kotor, dan banyak sampah. Bau amis ikan dan solar sebagai bahan bakar perahu sangat menyengat di hidung. Di kanan kiri sisi muara banyak kapal dan perahu yang bersandar, bahkan gue ngeliat ada bangkai kapal laut udah karatan yang gede banget.

Sampai di mulut muara air yang keruh perlahan berubah menjadi hijau, dan semakin jauh ke tengah air laut mulai membiru walaupun sampah masih saja mengganggu pandangan mata. Duduk di banana boat membuat gue semakin bisa melihat keadan laut lebih dekat. Beruntung ombak lagi tenang siang itu.

Sekitar dua puluh menitan ngambang di laut, akhirnya kami berlabuh di salah satu sisi Pulau Lima. Pasirnya putih tapi banyak pecahan-pecahan kerang dan batu karang kecil, jadi harus hati-hati. Yang menarik perhatian kami adalah di sana ada sebuah dermaga kayu yang menjorok ke laut. View-nya bagus banget. Kami berempat yang emang narsis dari sononya langsung berpose foto-foto di atas dermaga kayu itu. Cuacanya juga mendukung banget. Matahari bersinar cerah, ombak yang tenang, awan putih dengan pola acak, air laut yang jernih, dan langit yang biru. Sebiru hatiku, eeeaaaa....

Di bawah dermaga kami melihat segerombolan ikan kecil-kecil. Koloni ikan itu membentuk suatu formasi yang berubah-ubah tergantung gerakan mereka. Gue beranggapan itu ikan teri. Hutri nggak setuju, karena nggak semua ikan kecil bernama teri. Nunu bilang bahwa ikan itu bernama belombong, dia mengutip kata-kata Pak Daeng. Ari menengahkan, dia bilang anggap aja itu ikan teri jenis belombong. Perdebatan pun selesai.

Menurut gue, pulau ini sedang menuju ke arah sebuah tempat wisata bahari. Kebayang, di masa depan pulau ini bakal seperti Tidung di Kepulauan Seribu. Udah banyak saung-saung dan gubuk yang dibangun di pulau ini. Bahkan di tengah pulau ada toilet umum. Berarti kan pulau ini memang sedang membangun sarana dan pra saranya.

Lalu kenapa dinamain Pulau Lima? Nggak ada jawaban pasti untuk ini. Pak Daeng yang gue harapkan bisa menjawab cuma bisa ngasih sedikit gambaran. Beliau berkata bahwa mungkin karena pulau ini berada di urutan lima gugusan pulau yang tersebar di sekitar Karang Antu. Untuk sementara misteri nama Pulau Lima tetap nggak ada yang tau. Biarlah Tukul dan Laptopnya yang nyari tau.

Yang sangat gue sayangkan di sekitar pulau ini nggak ada spot snorkeling yang keren. Ya kalo cuma mau ngeliat karang dan ikan-ikan di bawah air sih bisa. Di sebelah utara pulau ada kumpulan terumbu karang dan berair dangkal, tapi terumbu karangnya nggak berwarna dan kurang menarik.

Hari udah sore, kami udah lelah, tapi Bang Toyib belom juga pulang (masalah?). Kami memutuskan untuk kembali ke Karang Antu. Naik banana boat lagi tentunya. Kali ini lebih menantang, gue nggak pake life jacket karena males pakenya. Ini sangat nggak gue sarankan bagi yang lemah jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Setelah sampe tengah laut gue baru menyesali keputusan gue nggak pake life jacket, karena ternyata semakin sore ombak semakin gede. Wajah kami berempat lumayan panik, tapi itu diterjemahkan sama yang nyetir speed boat bahwa ekspresi kami sangat menikmati perjalanan tersebut. Jadi deh tuh banana boat malah dimaenin ke kiri dan ke kanan. Kami sepakat untuk ngelitikin tuh supir speed boat begitu mendarat. Naek banana boat itu satu hal, dan naek banana boat ke tengah laut nggak pake pelampung dengan kemampuan berenang pas-pasan itu hal lain lagi. Untungnya Tuhan selalu beserta orang-orang keren. Jadi aman.

Sebagai penutup, gue mau menceritakan sedikit tentang penduduk di Karang Antu. Selagi ketiga temen gue bersih-bersih, gue sempet ngobrol sama salah satu istri nelayan di sektar situ. Ibu itu lagi menyusui anaknya. Ya, biar gue perjelas, MENYUSUI. Gue berusaha untuk fokus menatap wajah si ibu dan bukan bagian lain, seperti jempol kakinya.

Ibu itu ternyata punya tiga anak. Suaminya adalah seorang nelayan rajungan yang melaut dari pagi hingga menjelang sore. Rajungan itu dijual seharga dua puluh lima ribu per kilogram. Tapi bisa sampe empat puluh ribuan kalo udah sampe tingkat pengepul.

Si ibu itu juga cerita betapa penghasilannya sangat terbantu sejak kawasan ini ditetapkan menjadi kawasan wisata. Dia bisa menyewakan perahu kepada para pendatang atau membuka warung. Makanya warga di Karang Antu mulai kreatif, mereka mengerahkan segala sumber daya dan potensinya. Seperti membuat saung terapung yang bisa di sewakan untuk para penggemar mancing. Saung itu bisa ditarik perahu ke tengah laut dan disewakan seharga dua ratus ribu rupiah seharian.

Gue pernah baca di bukunya Trinity, The Naked Traveler, bahwa sebenarnya Phi Phi Island di Thailand dulunya adalah sebuah kawasan penambangan timah. Dan sekarang? Tau dong Phi Phi Island? Tempat syutingnya film abang gue Leonardo Di Caprio yang berjudul The Beach itu loh. Indahnya luar biasa kan? Ini adalah hasil dari kepedulian pemerintah yang niat banget untuk merevitalisasi sebuah tambang timah yang gersang, menjadi pantai yang aduhai. Impact-nya bukan hanya sekitar Phi Phi Island aja yang ngerasain, tapi juga bagi Thailanda seluruhnya. PDB (Product Domestic Bruto) negara gajah putih itu nyaris setengahnya dari sektor pariwisata, dan Phi Phi Island memberikan kontribusi yang besar. 

Kesimpulannya adalah, potensi wisata di Karang Antu ini sangat besar. Cuma kurang di manage aja. Di Pulau Lima misalnya, gue berharap developer yang mau berinvestasi di sana memang bener-bener berniat mengembangkan pariwisata di sekitar situ. Bukan hanya memikirkan untungnya aja. Pemerintah bisa saja membantu dengan merevitalisasi bagian-bagian laut dan ekosistem yang rusak. 

Gue yakin kita juga bisa. Selama ada niat, dan backpacker-backpacker keren seperti gue, Ari, Nunu, dan Hutri terus bertambah, maka masa depan pariwisata di Serang bakal cerah. Secerah hatiku. Aseeekkk....

Udah gitu aja.


Tulisan dibuat oleh Nicholas Saputra Yosfiqar Iqbal (tengah merah), ketika mengikuti event Backpacker Koprol : Te-We, More Than Traveling
 
Cek tulisan Iqbal lainnya di blog pribadinya, Kening Lebar







0 komentar:

Posting Komentar