WHAT'S NEW?
Loading...

Curug Gendang, Petualangan dan Teman Baru

Siang itu matahari bersinar terik, ketika kami berempat menyusuri tebing-tebing yang cukup terjal untuk mencapai tujuan kami siang itu. Kami mengayun langkah dengan hati-hati. Jalanan yang terjal tidak menyurutkan niat kami untuk sampai ke atas walaupun kami memakai sandal dan sepatu flat shoes yang lebih baik dipake ke mall. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara gemercik air yang semakin kami mendekat, semakin terdengar jelas dan semakin kami mempercepat langkah. “Lho, memangnya kami mau ke mana? Heehehhee…”
"Our Destination"
Tujuan petualangan kami hari itu adalah Curug Gendang, objek wisata yang terletak di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Karya alam yang satu ini bisa dibilang sangat mengagumkan, air yang mengalir deras dari hulu sungai jatuh bebas dari bibir bebatuan ke bagian yang lebih rendah akibat terpisah oleh tebing-tebing tinggi tempat sungai mengalir.

Curug Gendang memiliki tinggi sekitar 7 meter, luas sekitar 10 meter, kedalam sekitar 13 meter dan berada di ketinggian 170 meter di atas permukaan laut. Curug ini dipagari oleh tebing-tebing tinggi sehingga membentuk seperti danau kecil di bawahnya. Bisa dikatakan destinasi wisata air terjun termasuk obyek wisata yang peminatnya lebih sedikit dibandingkan pantai atau gunung.

Aku, Laras, Tasha dan Nurul, yang berangkat dari Jakarta ini pergi mengeteng menggunakan angkot dan menyambung dengan ojek untuk pergi ke tempat tersebut. Kami menaiki angkot sekitar 3 jam dari Serang. Tidak ada macet, akan tetapi karena jarak tempuh yang jauh dan jalan yang sedikit telah rusak terkikis oleh ban bus-bus besar atau truk besar yang berseliweran di jalan. Banyak juga jalan yang berlobang dengan ukuran bervariasi mulai dari kecil, sedang sampai lumayan besar yang membuat perut sedikit mual. Rasa mual diperparah dengan laju Mang angkot yang cepat tanpa memperhatikan lubang-lubang tersebut. Perut serasa mual dan kepala pusing. Karena tidak tau jalan, kami selalu bertanya kepada supir angkot yang kami panggil Mang Angkot.

Sesampainya di pos penjaga yang lebih mirip lapak/warung kecil, kami turun dari ojek. Seorang bapak penjaga datang dan menjelaskan beberapa hal kepada kami. Bapak Penjaga yang bernama Pak Tata itu menjelaskan beberapa hal:
  • Kalau awan gelap dan kelihatan seperti akan turun hujan, segera kembali ke pos penjaga karena jalan bisa sangat licin sehabis hujan.
  • Untuk mencapai lokasi curug, kami harus berjalan lurus mengikuti jalan setapak dan jangan keluar rute, seperti jangan berbelok ke kanan, ke kiri ataupun ke bawah.
Mungkin Pak Tata sedikit ragu melihat kami berempat yang semuanya cewek dan memakai sendal, bukan sepatu yang nyaman untuk menaiki bukit tersebut.

Aku sendiri sebenarnya ragu untuk melanjutkan perjalanan karena takut kesasar dan gak tau arah jalan pulang, masa karena hanya ingin ke sebuah curug, kita harus tersesat dalam hati. Tapi yang namanya ‘dimana ada kemauan disitu ada jalan’ memang benar adanya.

Sekelompok remaja yang dari sekilas saja kami tau kalau mereka masih anak kuliahan juga ingin ke curug tersebut. “Yey, ada teman!”, kataku dalam hati. Karena satu tujuan, jadilah kami bergabung dengan kelompok tersebut, untungnya mereka baik dan mempersilahkan kami berjalan di bagian tengah, mungkin karena kami berempat cewek semua. Sepanjang jalan kami berkenalan satu sama lain dan tiba-tiba menjadi akrab.


Perjalanan dari pos jaga ke curug cukup membutuhkan tenaga karena jalannya hanya setapak yang cukup dilalui oleh satu orang saja. Di bagian tertentu jalannya curam dan dilalui air terjun yang kecil-kecil sehingga membentuk sungai kecil. Jujur aku senang banget karena sudah lama sekali tidak hiking, apalagi membayangkan sungai yang jernih dan curug yang indah.

Setelah berjalan kira-kira 45 menit, sekitar pukul 13.30 kami sampai diatas, di Curug Gendang. Rasa lelah dan keringat yang bercucuran serasa terbayar setelah melihat air jernih yang mengalir dari hulu sungai. Tanpa basa basi kami langsung jeprat-jepret berfoto ria dengan berbagai pose.


 

Melihat air jernih yang mengalir dari hulu sungai, tidak sabar rasanya untuk menceburkan diri ke sungai. Arus deras yang mengalir membuat aku ragu untuk melakukanya. Akhirnya aku hanya mencuci wajah dan merendam kaki ke dalam air. Teman baru kami yang lain tanpa ragu langsung berenang-renang ria di sungai sedangkan yang lainnya asik menikmati keindahan alam sekitar dan jernihnya air sungai yang mengalir. Karena tidak bisa berenang, iri sekali melihat yang lainnya asik menikmati sungai jernih yang tidak pernah aku temukan di Jakarta atau di Bandung.


Awalnya aku memang cuma bermain air bersama yang lainnya, tapi godaan dari air jernih tidak dapat kutolak lagi. BLURR! Aku menceburkan diri ke dalam sungai. Cess… sensasi dingin dan sejuk air sungai langsung merasuki tubuhku, “Gile.. enak banget…!!” Betah rasanya berlama-lama dan berendam disini. Saat itu aku tidak peduli dengan keterbatasanku yang tidak bisa renang, bodo amat deh. Toh nanti ada yang lain yang akan menolong kalau seandainya aku terbawa arus sungai yang deras, hehe.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih, hari sudah sore. Dengan berat kami beranjak dari sungai dan kembali ke pos penjaga. Di sepanjang perjalanan pulang, canda dan tawa mengiringi setiap langkah bersama teman baru kami. Senang rasanya berkunjung ke tempat indah yang jarang dikunjungi orang lain dan mendapat teman-teman baru.

Sesampainya di pos penjaga kami berpisah dengan genk teman baru kami. Sekali lagi kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Ojek carteran kami ternyata telah menunggu di pos penjaga, mungkin mereka takut kami tidak bisa menghubungi telpon mereka yang kami minta diawal karena sinyal yang susah di atas bukit. Mang tukang ojek mengantarkan kami kembali ke gerbang masuk curug, Ternyata tukang ojeknya baik-baik juga padahal awalnya aku sempet khawatir. Sesampainya di gerbang, kami meminum segelas teh panas sebelum kembali ke Serang.

How to Get There (cara kami):
  1. Kami memulai perjalanan dari Jakarta dengan menaiki travel sampai Kota Serang. Ongkos travel dari Jakarta – Serang seharga Rp 70.000.
  2. Dari alun-alun Kota Serang menyambung sampai ke Simpang Tiga Cilegon menggunakan angkot dengan ongkos Rp 3.000.
  3. Dari Simpang Tiga kami melanjutkan perjalanan dengan angkot berwarna silver tujuan Anyer dan sekitarnya, sampai gerbang masuk Curug Gendang sebesar Rp 13.500.
  4. Untuk menuju Curug Gendang dari gerbang tersebut, kita bisa berjalan kaki ke atas bukit  yang berjarak kira-kira 3 km. Kami sendiri menyewa ojek untuk sampai ke pos penjaga yang berjarak sekitar 2 km. Ongkos ojek untuk PP (pulang-pergi) sampai pos penjaga sebesar Rp 20,000.
  5. Dari pos penjaga masih harus berjalan kaki untuk mencapai curug dengan jarak sekitar 1 km.


Tulisan dibuat oleh Ely Prajani (kedua dari kiri), ketika mengikuti event Backpacker Koprol : Te-We, More Than Traveling

0 komentar:

Posting Komentar