WHAT'S NEW?
Loading...

Alat Snorkelingku yang Hilang Sebelum Dibeli

Tanpa diduga, kemungkinan karena tidak seimbang, banana boat pun oleng dan.. "BYUUUR!" kami semua terguling, jatuh koprol di perairan dalam.

Sabtu, 9 Februari 2013 saat mentari mulai mengurangi sorot tajamnya, kami bersepuluh (sebagian peserta #TeWe ) ditemani nakhoda memutuskan untuk melakukan snorkeling di sekitar Pulau Lima. Karena penasaran dengan spot snorkeling yang bagus kami memutuskan agak menjauh dari pantai. Sebagian menunggangi banana boat sementara sisanya termasuk saya menaiki speed boat.

Memang di lokasi ini dengan jarak sekitar 200 meter dari bibir pantai, karang dan biota laut lain cukup hidup meski pandangan terhalang oleh kurang jernihnya air.

Menyaksikan pemandangan bawah laut yang dihiasi hamparan karang dan ikan-ikan kecil secara langsung baru pertama kali saya rasakan. Bersyukur sekali mendapat kesempatan melihat cuplikan sebagian keindahan taman laut pesisir Teluk Banten.
beberapa snorkeling, sebagian ber-banana boat (^ー^)ノ
beberapa snorkeling, sebagian ber-banana boat (^ー^)ノ
Selesai menikmati pemandangan karang ditemani ayunan riak ombak tanpa sadar kami semua terbawa oleh arus menjauh ke arah laut yang lebih dalam, kami yang masih berenang bergegas mendekat ke rombongan. Saya memutuskan untuk pulang ke pantai menggunakan banana boat, saat itu masih dengan peralatan snorkeling yang lengkap.

Ketika perjalanan pulang kami sedikit berbelok dari lokasi berenang, agar lurus ke arah Dermaga pulau dengan kecepatan boat sedang. Aksi manufer ini ternyata memicu tergulingnya banana boat sehingga semua penumpang terhempas mendarat di perairan :-)). Sungguh di luar dugaan, kaget bercampur gelak tawa mengantar pendaratan kami. Memang penunggang banana boat itu serunya 'dijatuhkan', namun itupun biasanya di dekat bibir pantai yang kedalamannya di bawah sekitar 5 meter lho... bukan di perairan dalam seperti ini >,<.

Ketika kepala muncul di permukaan tanpa sadar alat snorkeling yang saya kenakan sebelumnya tidak ada :-S, tengok kanan-kiri-depan-belakang tidak ada juga tanda-tanda, lalu memastikan dengan bertanya ke salah seorang teman katanya alat tersebut kemungkinan tenggelam, sudah diduga. Ternyata tanpa sadar dia terlepas dari kepala ketika terjatuh tadi.

Dengan perasaan was-was dan cemas saya melapor kepada nakhoda speed boat yang membawa kami. Beliau berkata nanti coba dibicarakan saja dengan rekannya, Pak Daeng, salah satu pengurus Pulau sekaligus nakhoda perahu. Sesampainya di Pulau, saya berdiskusi dengan beliau perihal snorkel & masker tersebut, setelah panjang lebar kami berbincang pada akhirnya diputuskanlah saya harus mengganti alat yang hilang tersebut. Pak Daeng menyampaikan bahwa harga barunya adalah sekitar Rp 500.000,- . “Wow! Harga sebesar itu sih bisa untuk budget pelesir saya berikutnya dong!” gumam saya. Dikarenakan alat yang hilang tersebut hitungannya 'barang second' maka diputuslah kebijakan bahwa saya bisa menggantinya seharga Rp 350.000,- saja. Masih termasuk lumayan juga sebetulnya harga baru tersebut, saat itu masih berfikiran di ranah budget backpacker-an :D. Ya sudah saya rasa ini memang bagian dari tanggung jawab yang harus dipenuhi, karena sebelum hilang saya yang mengenakan alat tersebut.

Masalah belum selesai sampai di situ, perjalanan ke Pulau Lima akhir pekan itu saya putuskan memang ala 'backpacker-an', dengan kata lain budget pun ala backpacker ;) dengan jumlah tunai yang dibawa disesuaikan dengan estimasi biaya perjalanan. Atas kejadian ini saya jadi ingat dengan yang disampaikan oleh Gol A Gong, sang penulis Te-We bahwa traveling adalah proses pembelajaran. Ya, saya belajar banyak dengan kejadian yang sudah dialami. Salah satunya Budget (tunai) ekstra ternyata perlu dan cukup penting apalagi jika mengalami hal yang tidak terduga seperti ini, jauh dari anjungan tunai mandiri juga jauh dari daratan peradaban.

Setelah beberapa saat berfikir kemudian mencoba bernegosiasi, dan Pak Daeng kemudian memberi dua pilihan yaitu membayar sejumlah uang atau mengganti barang yang serupa. Jika memilih pilihan ke-dua ada jaminan yang harus ditinggal di Dermaga Karangantu nanti. Ya! Pilihan ke-dualah yang diambil meski KTP harus ditahan sementara, bagaimanapun harus siap untuk ikuti alurnya. Saya mencoba meminta jangka waktu pengembalian sekitar satu minggu, dan berencana untuk mencari terlebih dahulu snorkel + masker 'second' di luaran sana, barangkali ada yang sesuai :-P.

Padahal bulan sebelumnya sudah direncanakan untuk membeli supaya punya alat sendiri.. ini sama saja dengan alat snorkelingku yang hilang sebelum dibeli :-).


Lokasi #pelesir di event #TeWe


Tulisan dibuat oleh Ihwanul Iman (ujung kiri), ketika mengikuti event Backpacker Koprol : Te-We, More Than Traveling
 
Cek #365bidikan-nya di tumblr Ihwanul Iman's Sight

3 komentar: Leave Your Comments

  1. Ya udah beli dua aja kalo gitu..hehehe

    BalasHapus
  2. Hihi ide bagus.. habisbitu dibawa snorkeling ke derawan ya bang :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. sambil disewain gitu ya? $_$

      Hapus