WHAT'S NEW?
Loading...

Padalarang One Day Trip

Hari Minggu Tanggal 23 Desember 2012, malam di mana kegalauan itu muncul. Bukan galau karena cinta ditolak, selayaknya yang dilakukan oleh para abege-abege di sinetron yang kian marak di layar televisi yang perlahan merasuk ke dalam generasi muda dan mengganggu pola pikir mereka yang beranjak dewasa. Sebuah kalimat pengantar yang cukup panjang, yang sebenarnya tidak menggambarkan sama sekali isi tulisan ini *kemudian dijitak remote tv.

Kegalauan yang muncul tersebut adalah karena pada libur natal tahun ini, saya belum punya rencana mau jalan ke mana. Padahal dengan waktu yang cukup, 4 hari, saya bisa mengeksplorasi tempat baru. Namun pilihan saya saat itu adalah pergi ke Bandung bersama keluarga, mengingat saya sebagai seorang kakak sulung yang baik yang berjiwa family man dan kelak akan menjadi seorang kepala rumah tangga yang adil dalam memimpin keluarganya (udah, vie, cukup...). Karena sudah meniatkan tekad "minimal sebulan sekali saya harus jalan" maka berpikir keraslah saya, kemana kiranya saya harus melangkah? Di manakah daerah sekitar Bandung yang bisa saya jamah, saya raba-raba, dan saya pereteli tuntas cerita yang melekat?

 Dan ternyata Randu, teman yang saat itu berada di Bandung, memikirkan hal yang sama. Namun ternyata kami memiliki masalah yang sama, belum tahu destinasi yang mau kami kunjungi (garuk-garuk kepala bareng-bareng akhirnya). Setelah malam-malam bersemedi sekian jam di depan komputer, dari sekian banyak flash review destinasi yang kami cari, akhirnya pilihan jatuh kepada obyek wisata di Padalarang: Gua Pawon dan Waduk Siguling. Hal pertama yang saya lakukan: PASANG STATUS BB, "SIAPA YANG MAU IKUT EXPLORE GUA PAWON BESOK?" Sinting? Enggak, namanya juga cari temen jalan. Sapa tahu ada yang nyangkut, secara, lebih mudah mencari mereka daripada temen hidup'kan? *diserang Broadcast Test Contact. Dan jangan salah, apa yang saya lakukan membuahkan hasil, dua orang makhluk tidak bersalah terjerat; Oza dan Wina (keduanya temen kampus dan saya belum mengenal Wina walaupun empat tahun hidup bersama di Dipati Ukur) :3

Pagi hari tanggal 24 Desember, kami semua berkumpul di rumah saya di daerah Pasteur-Cibogo, alasannya adalah karena rumah saya dekat dengan tol Pasteur-Padalarang dan kedua, kita akan pergi dengan mobil saya. Kami semua bertolak sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Meskipun ternyata tempat ini cukup dekat, saya akui saya belum pernah pergi ke Padalarang, jadi perjalanan ini merupakan kunjungan pertama buat saya (err.. kemana aja lu? Jawab, Kupu-Kupu ane, bang~). Akses jalan ternyata tidak sulit, jalan bagus, sedikit terhambat macet di depan Kota Baru Parahyangan dan pasar. Overall, tidak ada jalan jelek yang penuh tanah dan bebatuan, semuanya bisa dikategorikan baik. Papan petunjuk Gua Pawon bisa dibilang kurang jelas, jadi buat kalian yang mau ke sini, saya informasikan dua patokan tambahan untuk mencapai belokan ke sana; Rumah Makan Setuju Utama dan ada pool tukang ojek di sebelahnya. Pukul 11.00 akhirnya kami sampai di tempat ini.

Pintu Masuk Gua Pawon
Gua Pawon
Gua Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang. Gua ini ditemukan kerangka manusia purba dan benda purbakala berupa alat makan (dalam legenda Sunda, ada tempat yang dinamakan Dapur Dayang Sumbi). Pada saat kami ke sana, hanyalah terdapat replika fosil yang ditempatkan di daerah di mana benda tersebut ditemukan. Benda asli purbakala disimpan dalam Museum Geologi di Bandung (Kota). Rencananya, di kompleks Gua Pawon pun akan didirikan bangunan museum dan benda tersebut akan disimpan di sana. Dari mulut gua, kamu bisa menyadari dua hal; suara lengkingan supersonik kelelawar yang khas dan bau kotoran mereka. 

Ya, tempat ini merupakan markas betmen, kamu bisa menemukan banyak kelelawar terbang berputar-putar pada salah satu sudut gua (dan sampai sekarang saya masih tidak mengerti, mengapa mereka melakukan hal seperti itu, ada yang bisa bantu jawab?). Tempatnya cukup gelap (disarankan membawa senter), basah, lembab, becek, dan tentu bau kotoran yang menyengat. Saya sarankan kalau mau ke sini jangan pakai gaun dan sepatu hak, tapi pakailah pakaian nyaman siap kotor dan sepatu/sandal yang anti licin dan nyaman digunakan. Kita juga bisa melihat pemandangan dari beberapa tebing gua. Paduan batu-batuan kapur berbalut hijau tanaman menguatkan kesan alam yang dinamis dan beberapa tempat tidak tertembak sinar matahari secara langsung dan meninggalkan kesan gelap dan dingin. Tak heran kalau dalam satu ruangan, kami menemukan patung-patungan Budha tanpa kepala, yang ketika diselidiki kepada penjaga setempat, itu bukanlah peninggalan dari peradaban lama Hindu kuno melainkan properti bekas syuting sebuah film misteri-misterian (hueekkk... mari muntah berjamaah)

 



Taman Batu
Selepas bereksplorasi di dalam Gua Pawon, kami tak lantas pergi. Dengar punya dengar, masih ada satu spot lagi yang bisa dikunjungi. Tempat itu adalah Taman Batu, atau bahasa kerennya, Stone Garden. Tempatnya tepat di atas Gua Pawon. Untuk mengunjungi tempat tersebut, kita perlu mendaki sedikit ke arah bukit di mana destinasi tertuju. Buat yang belum pernah mendaki gunung/bukit, hal ini akan cukup melelahkan. Tapi perjalanan menanjak ini tidak jauh, paling sekitar 20-30 menit saja. Pemandangan yang disuguhkan sungguh apik, banyak terdapat batu-batu besar tidak beraturan di atas padang rumput, yang justru bukan terlihat berantakan, namun terasa ada nilai estitika alam yang bisa kita nikmati (sok arsitektur banget ya, haha).




Waduk Saguling
Kami melanjutkan perjalanan ke Waduk Saguling ketika matahari sudah naik dan perut sudah diisi sekedarnya dengan bakso kuah yang dijual oleh mamang-mamang yang berjualan di sekitar kompleks Gua Pawon. Dari Gua Pawon, teruskan saja perjalanan lurus menjauhi jalan tadi kita datang. Rencana sebenarnya kami hendak bertolak ke gua alami di sana, Sanghyang Tikoro. Tapi karena alasan sudah cukup sore dan tidak tahu jalan pasti ke sana (padahal juga pada kecapekan mendaki ke Taman Batu, haha), akhirnya perjalanan kami lakukan hanya ke Waduk Saguling. Oh iya, di sepanjang perjalanan, tepatnya di Jalan Raya Cipatatat, jangan lupa untuk iseng melihat tebing-tebing gunung, karena di sana kamu bisa melihat belati raksasa yang sempat menghebohkan warga di sana. 

Untuk melihat Waduk Saguling secara bebas, lebih enak menggunakan motor karena untuk jalan di mana waduk berada, hanya kendaraan roda dua yang boleh bebas melintas masuk. Yang bawa mobil? Diparkirkan terlebih dahulu, dan jalan menyusur pinggiran waduk (buat yang capek sabar-sabar ya, banyak mamang tukang es krim keliaran deh). Buat mereka yang belum pernah melihat pabrik-an waduk secara langsung, pasti akan terkesima, setidaknya itu yang saya alami. Kagum melihat tabung-tabung kuning panjang di pabrik pembangkit listrik PLTA Saguling, dan juga sempat ber "oooo" ria ketika melihat langsung seperti apa tempat yang bernama waduk, "Saya berdiri di jalan di mana ini merupakan jalan yang sebelah kirinya danau, sebelah kanannya kering dan jalan airnya diatur" *kemudian sempat sempat sibuk mondar mandir ke kiri dan kanan meyakinkan diri bahwa dua bagian tersebut berbeda (Yang melakukan hal yang sama, KOMENNN!!)


 
 

 
Mesjid Al-Irsyad
Sebagai penutup perjalanan, kami menyempatkan diri untuk pergi sholat Ashr di Mesjid Al-Irsyad, kebetulan untuk pulang ke Bandung, kami pasti akan kembali melalui mesjid yang berada dalam Kompleks Kota Baru Parahyangan itu. Jujur itu pertama kalinya saya melihat mesjid yang anti mainstream dan memiliki bangunan yang berbeda dari mesjid kebanyakan, unique dan fancy. Di dalam bangunan terdapat 99 nama-nama agung, Asmaul Husna Allah SWT. Dan sebagai informasi, pada Mei 2013, saya membawa teman yang seorang turis dari Jepang berkunjung ke mesjid ini. Cerita lengkapnya bisa disimak di tulisan saya di blog yang berbeda *promosi terselubung, hahahaa *kemudian ditimpuk pake batu-batu Waduk Saguling.



Akhirnya, pukul enam sore, kami telah kembali pulang, sampai di rumah saya dengan selamat. Seberesnya melaksanakan ibadah sholat Maghrib, kami sempatkan dahulu untuk duduk-duduk lucu dan bertukar cerita sembari mencomot makanan dan menyeruput teh hangat. Nikmat sekali~

5 komentar: Leave Your Comments

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah memberikan jejak keberadaan Situs Arkeologi Guha Pawon.
    Koreksi soal Lokasi, Guha Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

    Karena lokasi Karst Citatah sampai Kabupaten Cianjur masuk wilayah Kecamatan Cipatat bukan Kecamatan Padalarang.

    Kecamatan Padalarang sampai Situ Ciburuy, selanjutnya arah ke Jakarta/Cianjur adalah Wilayah Kecamatan Cipatat.

    Kami infokan juga bila tertarik bahwa wisata Karst Citatah masih banyak lainnya, seperti Objek Wisata "Sanghyang Tikoro", "Sanghyang Poek", Sanghyang Heuleut" "Arung Jeram Bantar Caringin" dan sebagainya bisa dikunjungi juga.

    Terima kasih dan sukses selalu.


    RESTU PERMADI
    GENTRASUN Kabupaten Bandung Barat
    "Save GUHA PAWON"

    BalasHapus
  3. Yang saya tahu tempat wisata di padaLarang hanya waduk saguling saja, ternyata ada Gua pawon sama taman batu juga ya,,

    BalasHapus
  4. Saya sering banget lewat ke padalarang, tapi gak tau kalau ada tempat yg dapat dijadikan tempat untuk berwisata,

    BalasHapus