WHAT'S NEW?
Loading...

Kado Persahabatan, Catatan Kecil Perjalanan

Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa,  ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih”

Penat mendera sebagian tubuhku saat hujan rintik mengguyur kota Serang Banten sore itu tepat di hari Minggu, 10 Februari 2013, hari dimana saudara-saudara kita etnis Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Hujan di tahun baru menjadi perlambang kemakmuran dan merupakan suatu kegembiraan tersendiri yang dinanti oleh mereka, namun tidak bagi aku dan empat orang lain peserta Travel Writer Workshop yang diadakan sebuah komunitas bernama Backpacker Koprol. Bagaimana tidak, tubuh lelah setelah seharian kemarin berkeliling kawasan Situs Sejarah Banten Lama, langit gelap dan petir yang bersahut-sahutan membuat kami harus berpikir ulang untuk meneruskan rencana perjalanan kami mengunjungi mercusuar dan menikmati matahari terbenam di Pantai Anyer. Aku berpandang-pandangan dengan Netty yang mengirimkan sinyal melalui mimik wajahnya padaku seolah bertanya, “gimana, Donna?....kita teruskan rencana kita?”, begitu kira-kira ia menangkap kekhawatiranku, sambil mendongak melihat langit seolah berharap hujan akan segera reda.
Beruntung tak lama kemudian hujan mulai reda, meski langit masih kelabu dan hujan bisa saja turun kembali setiap saat, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan sambil berharap semoga cuaca di Anyer cerah. Waktu sudah menjelang sore kala itu, jam ditangan kiri saya menunjukkan pukul 14.30 WIB saat kami berlima bergegas meninggalkan Rumah Dunia, tempat kami berkumpul dan belajar bersama puluhan peserta lainnya sejak kemarin. Dengan petunjuk teman-teman lain peserta workshop dan pertimbangan waktu agar bisa lebih cepat, bis antar kota berpendingin udara dengan rute Kampung Rambutan – Merakmenjadi pilihan kami dari daerah Kemang Serang menuju Cilegon

Melalui jalan tol, bis yang kami tumpangi hanya butuh waktu sekitar 40 menit dan membayar ongkos sebesar 3.000 rupiah saja untuk sampai di Cilegon. Waktu yang lebih singkat seharusnya bisa dicapai karena saat itu kami sempat mengalami macet selama 15 menit karena ada kecelakaan truk tangki terguling di KM. 81 tol menuju Merak. Disambut matahari Cilegon yang bersinar cerah, kami turun di daerah yang penduduk sekitar sebut “Damkar” untuk meneruskan perjalanan dengan menggunakan angkutan kota ke Anyer. Dengan cara biasa, tempat yang kami tuju sesungguhnya harus dicapai dengan dua kali  naik angkutan kota, namun lagi-lagi dengan alasan waktu kami memutuskan menggunakan angkutan kota yang kami sewa khusus buat kami, toh ongkosnya per orang tidak terlalu besar perbedaannya dibanding dengan cara biasa yang harus menyambung dua kali kendaraan. Hanya dengan 75.000 rupiah kami berlima bisa langsung di antar sampai tempat dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Murah, cepat dan menyenangkan.

Berbeda dengan perjalanan diatas bis menuju Cilegon yang mengharuskan kami berlima duduk terpisah dan berjauhan karena saat bis dinaiki hampir sebagian besar kursi penumpang sudah terisi, perjalanan diatas angkot serasa akrab dan bebas karena hanya ditumpangi kami berlima. Netty yang berperan sebagai bendahara di grup kami mengambil tempat duduk disamping supir, sementara aku, Ratih, Damay dan Habib duduk di belakang sama-sama menikmati perjalanan sambil mengamati dan berbincang. Sesekali aku diam, berbicara dengan diri sendiri betapa perjalanan ini menjadi sangat unik. Lima orang yang semuanya berbeda karakter bergabung membentuk tim yang luar biasa. Aku yang kadang dipanggil mama Donna karena satu-satunya yang sudah menikah di kelompok ini, Netty sang pengambil keputusan, Damay si penggembira, Ratih yang penuh pertimbangan dan Habib si bungsu dan satu-satunya pria dalam perjalanan ini seolah membentuk sebuah keluarga yang saling terikat secara kimiawi, bebas berbincang, seru bercanda dan saling menjaga. Kehangatan sebuah persahabatan. Sungguh luar  biasa.  Perfecto...

Bisa dibayangkan betapa gembira hati kami berlima sesampainya disana, memandang Mercusuar yang gagah berdiri menjulang tinggi dihadapan kami. Berulang kali kami meneriakkan yel-yel sebagai ungkapan kegembiraan kami sambil bersyukur bahwa betapa Tuhan sungguh baik mengganjar ketetapan hati kami berlima yang ngotot kesini dengan resiko cuaca buruk dan hujan sekalipun serta memundurkan jadwal kepulangan kami ke Jakarta

Dari hasil perbincangan saya dengan penjaga mercusuar, bangunan yang dibangun tahun 1885 pada masa pemerintahan Z.M. Willem III ini dibuat dengan menggunakan material konstruksi dari baja setebal 3 cm sebagai pengganti mercusuar sebelumnya yang rusak akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Mercusuar ini masih berfungsi sampai sekarang dengan memancarkan sinar yang menyala secara otomatis saat gelap tiba dan masih terlihat oleh nelayan atau kapal laut yang berlayar sampai jarak kurang lebih 20 mil arah laut.

Tak lengkap rasanya bila kami tidak naik ke atas mercusuar dan menikmati pemandangan dari ketinggian 65 meter. Sempat ragu dengan bawaan kami yg cukup berat dan merepotkan bila dibawa menaiki tangga setinggi 17 lantai dengan anak tangga rata-rata berjumlah 17 anak tangga di setiap lantainya, ransel pun kami titipkan pada penjaga dan diletakkan di sebuah lemari kayu yang memang disediakan untuk tempat penyimpanan barang. Kami merogoh kocek 3.000 rupiah per orang untuk naik ke atas mercusuar dan selama perjalanan ke atas kami sesekali menyempatkan diri  berhenti di beberapa lantai untuk mengambil nafas dan mengintip pemandangan dibawah melalui jendela. Lumayan melelahkan tapi tak sedikit pu mengurangi semangat kami untuk tetap naik ke atas

Lelah kami sungguh terbayarkan ketika kami sampai di cincin menara, melangkah keluar dan menyaksikan pemandangan laut lepas berwarna biru menghampar dibawah langit Anyer yang cerah. Kami pun serta merta memuji Tuhan untuk keindahan alam yang dianugerahan buat negeri ini. Selama 30 menit kami menikmati pemandangan laut, pantai, daratan dan gunung di kejauhan dari cincin mercusuarsambil menyaksikan  matahari yang turun perlahan menjelang senja dan dimanja oleh angin yang mesra membelai wajah kami. Rasanya ingin sekali berlama-lama, namun penjaga mercusuar telah mengingatkan kami sebelum naik untuk turun sebelum pukul 18.00 WIB.
Turun dari mercusuar kami tak segera pulang, melainkan duduk-duduk diatas sisa fondasi mercusuar pertama yang dahulu terbuat dari batu bata dan berjarak 50 meter dari mercusuar kedua. Tempat yang terletak persis di bibir pantai ini bagai sebuah ruang buat jiwa untuk menikmati perpaduan antara kebersamaan dan kehangatan. Semburat jingga langit mengiringi detik-detik dramatis tenggelamnya sang mentari, debur ombak dan desau angin yang mengiringi bagai romantisme alam yang membentuk harmoni yang indah dan mesra. Aku terpukau oleh kuasa alam, takjub dengan skenario Tuhan melalui suatu perjalanan yang menyatukan lima orang berbeda dan tak saling kenal sebelumnya. Tiada ego selain keinginan untuk saling berbagi asa dan berbagi rasa bagai saudara.  Saling mengisi dan melengkapi, ketulusan dalam memberi.

Teringat kutipan tulisan Kahlil Gibran tentang persahabatan yang mengatakan bahwa Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa,  ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.”, aku merasakannya senja ini. Sesuatu yang kusebut dengan “kado persahabatan”.....

Tulisan dibuat oleh Donna Imelda, ketika mengikuti event Backpacker Koprol : Te-We, More Than Traveling
 
Cek tulisan Iqbal lainnya di blog pribadinya, www.donnaimelda.com 

0 komentar:

Posting Komentar