WHAT'S NEW?
Loading...

Surga di Karang Taraje

Untuk diketahui diawal, ini bukan cerita tentang bagaimana sekumpulan sahabat menemukan pencerahan untuk kembali kepada Tuhan di sebuah pantai berkarang di salah satu obyek wisata daerah Sawarna, Karang Taraje, selayaknya sinetron “Hidayah” yang pernah diputar di tipi-tipi kesayangan anda. Sama sekali bukan.


Taman Wisata Pantai Karang Taraje adalah sebuah obyek wisata yang termasuk ke dalam kompleks wisata Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Lokasinya tidak jauh dari Pantai Pulo Manuk, hanya 4 KM (asumsi menggunakan kendaraan bermotor yah, bukan kendaraan berotot alias jalan kaki).
Pemandangan laut yang bagaikan hamparan permadani biru adalah hal pertama yang bisa kita lihat dari kejauhan. Mencoba berjalan mendekat, udara pantai yang khas akan merasuk lembut ke dalam hidung, dinginnya semilir angin seakan menyelimuti panas dari teriknya sinar matahari. Kemudian, pandangan kedua mata ini akan dicuri oleh kumpulan batu-batuan karang dan tanaman hijau di pinggiran pantai, mungkin perasaan takjub dan kecewa akan bercampur aduk saat itu. Takjub dengan apa yang disajikan saat itu, dan kecewa karena kita tidak bisa bermain dan berenang sesukanya, hehe.
Karang Taraje memang bukan sekedar nama. Nama Karang Taraje yang berarti Karang Tangga, adalah karena terdapat karang-karang besar yang menyerupai anak tangga untuk melewatinya. Obyek wisata pantai yang masih merupakan sambungan dari Pantai Ciantir dan Tanjung Layar ini memiliki banyak batuan karang di pinggiran pantainya. Aliran air dan ombaknya besar, yang memang menjadi khas dari Pantai Selatan. Sehingga, haram hukumnya tidak mencoba berenang atau bermain-main sampai ke tengah pantai di sini buat yang coba nyari iseng. Kalau luka lecet akibat karang buat kita adalah biasa, tapi kalau badan hilang nyawa melayang terbawa arus bukanlah hal yang bisa dikompromikan lagi. 

Lalu, di manakah surga dunia yang saya maksud? Coba tengok gambar di bawah ini!


Hoho, jangan kaget, jangan bengong. Ya, karena memang inilah yang saya maksud dengan surga dunia di Karang Taraje ini, WC UMUM!! 

Sebagai informasi, WC Umum di Karang Taraje adalah barang langka. Ada tiga bangunan wc umum yang terdapat di tempat ini. Namun dua dari tempat tersebut sudah rusak dan dinyatakan tidak dapat beroperasi. Hanya satu unit wc umum yang bersebelahan dengan mushola yang masih dapat dioperasikan. Coba bayangkan kalau kamu tiba-tiba mendapatkan rangsangan HIP (Hasrat Ingin Poop) terus WC Umum di sana ternyata tidak dapat digunakan. Apa yang akan kamu lakukan? *Dalam kondisi normal ya, bukan kayak game Digimon di mana Digimon kamu bisa mpup di mana aja kalau udah gak tahan dan gak ketemu WC Umum.

Berdasarkan informasi dari Pak Ujang, tukang parkir yang ditugaskan berjaga di Karang Taraje oleh Pemda dari Pelabuhan ratu, WC Umum di sini sumber airnya tidak menggunakan sumber air dari pompa jet sumur seperti kebanyakan kamar mandi pada umumnya, dia menggunakan torrent yang tersambung langsung dari mata air pegunungan. Dan yang menjadi media perantara antara sumber mata air dan WC ini adalah selang sepanjang ±500 meter, yang menjalar dari pohon ke pohon di sekitar sampai mata air pegunungan. 

Jadi kalau misalkan ketika kita membuka kran dan tidak ada air yang mengalir, berarti ada masalah yang terjadi pada selangnya; entah selangnya yang lepas, bocor, terbelit-belit, atau berantakan dimainin sama monyet (Secara sangatlah tidak mungkin, untuk saat ini, kalau mata air gunungnya berhenti mengalir). Nah, biasanya kalau sudah seperti itu, temannya Pak Ujang, saya tidak bertanya namanya siapa, sebut saja, "Aki Pendaki Pohon", nampaknya juga sudah berumur dan sama-sama berjaga di sana, harus memanjat ke atas pohon ke tempat di mana selang itu bertengger dan memastikan masalah yang terjadi di selangnya. Yah, coba bayangkan saja resikonya kalau dia jatuh terpeleset.

Ada satu informasi lagi yang perlu kalian ketahui, yaitu terdapat tarif masuk untuk mengunjungi obyek wisata ini. Harganya terhitung murah dibandingkan obyek wisata di Sawarna. Tapi ternyata dengan harga yang segitu, masih banyak turis yang enggan membayar tiket masuk. Pak Ujang memang tidak memaksa setiap pengunjung yang datang untuk membayar tarif masuk, dia tidak mau sampai terlibat konflik dengan mereka. Saya bahkan sempat melihat rombongan anak SMA yang baru sepulang sekolah dari Bayah mengendarai sepeda motor masuk begitu saja, dan Pak Ujang hanya meminta mereka mereka untuk berhati-hati bermain di sana.

Pak Ujang (kiri) dan temannya, Aki Pendaki Pohon (kanan)
Dengan pendapatan yang minim dari pekerjaannya sebagai tukang parkir, Pak Ujang masih tetap dapat tersenyum menjalankan pekerjaannya, tanpa mengeluh biarpun penghasilannya serba pas-pasan. Dia memiliki dua orang anak, anak lelakinya sudah pergi merantau ke Jepang bekerja dalam bidang pelayaran, dan anak perempuannya saat ini sedang menempuh kuliah di Cilegon. Hal yang luar biasa darinya adalah dia menanamkan semangat untuk berjuang dengan gigih mencapai cita-cita kepada anak-anaknya biarpun dalam kondisi yang susah.

"Tempat ini adalah tempat yang menjadi asal muasal nama Karang Taraje" - Pak Ujang
Kamu bisa temukan base camp nya nelayan lobster di sini





Laut yang biru, karang besar yang ciamik, “WC” surga dunia, cerita dari nelayan lobster (tidak saya ceritakan di sini :p ) dan sharing Pak Ujang, menjadikan perjalanan wisata saya ke Karang Taraje menjadi sangat berkesan.


*Photo from camera Nissa Nister and Raniyah

6 komentar: Leave Your Comments

  1. Baca tulisan nya, jadi kangen ke sawarna :) membeli lobster dari elayan yg sangat murah meriah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trus diapain lobsternya, mana ceritanya? mau baca doong

      Hapus
    2. wah kemaren gak sempet nanya sama nelayan lobster.
      harganya berapa tuh bang waktu nawar?? :p

      Hapus
  2. Wow! Keren.. Aku mau kesana deh kalo diizinin Tuhan. Muehehehe.. Nambah lagi dong daftar wisata yang mesti aku datengin, nabung lebih giat -,- Itu pak ujang semoga panjang umur ya, jadi pas aku kesana mau ketemu pak ujangnya juga. Hebat pisan pak ujang! Salut, tempat wisata yang harusnya orang-orang pada bayar ini mah engga, dibiarin lagi. Bener-bener euy, aku save photo pak ujangnya yah, sugan ketemu disana. Wkwkwkwk..
    Terima kasih, tulisannya bikin aku malam ini pengen mimpi dateng ke sana. Yeay!

    BalasHapus
  3. wah kayaknya perlu dah koprol" di sana mantap kayaknya semoga bisa nemu jalan ke tempat ini lah....

    BalasHapus