Yogyakarta, atau Jogja, dikenal sangat mempertahankan seni dan budaya warisan leluhur. Memiliki banyak tempat khusus untuk mengkoordinasi kegiatan yang mendukung pelestarian peninggalan budaya, alam, dan seni yang eksotik tersebut agar tidak punah. Kota Jogja seakan menyimpan keunikan dan daya tarik yang tidak akan pernah habisnya untuk dinikmati setiap saat tanpa merasa bosan. Mulai dari bangunan-bangunan tua bersejarah, pertunjukan seni, wista kuliner, serta jajaran pedagang pernak-pernik souvenir khas Jogja. 

Meski demikian berwisata ke pedesaan bisa menjadi alternatif yang tidak kalah menariknya, atau bahkan mejadi pilihan tepat. Rekreasi sembari menikmati tenangnya suasana kampung, udara yang segar tanpa polusi asap kendaraan seperti di kota-kota, dan membaur dengan masyarakat lingkungan setempat, seolah-olah berlibur di kampung halaman sendiri. Berikut adalah ulasan 5 Desa Wisata di Yogyakarta yang menjadi tempat
berlibur alternatif para wisatawan dengan nuansa seperti di Kampung halaman sendiri.

Desa Wisata Kasongan

Siapa sih yang belum tau tentang Kasongan? Namanya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta traveling. Desa wisata yang terletak di Bantul ini sudah terkenal cukup lama karena kerajinan gerabahnya. Di sini wisatawan bisa menyaksikan lansung para penduduk setempat yang berprofesi sebagai pengrajin mengerjakan kerajinan gerabah. Hampir semua rumah disulap menjadi galeri di bagian depannya untuk menjual berbagai hasil kerajinan gerabah, mulai dari keramik-keramik dalam ukuran mini sampai dengan pot-pot bunga berukuran besar setinggi bahu orang dewasa.

Hasil kerajinan gerabah tersebut memiliki nilai seni yang tinggi dengan berbagai lukisan yang menggunakan warna-warna cantik. Dijual juga berbagai bunga tiruan terbuat dari bahan organik dan unik untuk melengkapi koleksi saat berburu souvenir. Senyum hangat dan ramah selalu tersaji dari para pemilik galeri membuat pengunjung merasa betah dan nyaman berada di sini. Mereka juga sangat terbuka bagi wisatawan yang ingin mencoba atau belajar membuat kerajinan gerabah.

Desa Wisata Tembi

Adalah tempat yang tepat jika wisatawan ingin mengenal tentang budaya Jawa. Datang saja ke museum Madyosuro yang ada di desa ini. Semua serba-serbi masyarakat Jawa bisa ditemukan, peralatan dapur, persenjataan masyarakat jawa, alat musik tradisional khas Jawa sampai kamar tidur khas Jawa. Dan untuk menikmati koleksi museum Madyosuro ini wisatawan tidak dipungut biaya sepeser pun. Tepat di depan museum bisa ditemukan jajaran topeng-topeng cantik ala pewayangan Panji Asmorobangun. Proses pembuatan yang rumit dan hasil akhir yang begitu menawan, rasanya wajar saja jika satu buah topeng dihargai hingga jutaan rupiah.

Terdapat sebuah homestay dengan bangunan yang menyerupai rumah desa dengan arsitektur tradisional Jawa. Di Homestay ini terdapat perpustakaan dan ruang dokumentasi budaya. Di desa wisata Tembi, anda bisa merasakan kehidupan ala pedesaan yang tenang, nyaman dan asri jauh dari kebisingan dan kerepotan kota.

Berbagai kerajinan dari daun pandan juga bisa anda buru sebagai souvenir. Seperti kotak tissue, tempat pensil, keranjang cucian, figura, tempat aksesoris, tas, dan masih banyak lagi. Di kompleks Tembi Rumah Budaya terdapat restoran yang menyediakan makanan dengan resepnya mengikuti resep dalam Serat Chentini. Sebuah naskah kuno Jawa yang berisi rangkuman resep kuliner dari pelosok tanah Jawa. Oseng emprit, bajing goreng dan opor angsa akan memanjakan lidah saat disantap.

Desa Wisata Krebet

Jika batik yang biasa dikenal digambar di atas kain, maka batik yang dihasilkan di sini adalah di atas kayu. Tidak hanya unik, hasil kerajinan ini juga dikenal cantik dan bernilai tinggi sehingga banyak diminati oleh wisatawan domestik maupun manca negara. Produk-produk hasil kerajinan tersebut cukup beragam antara lain topeng, wayang, patung-patung binatang, almari, hingga kotak perhiasan. Desa wisata Krebet juga dapat ditemui produk kerajinan bunga.

Ingin mejajal pengalaman baru membatik di atas media kayu? Datang saja ke desa wisata Krebet di kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul. Ditawarkan juga fasilitas homestay bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tentang proses pembuatan kerajinan batik kayu atau sekedar ingin menikmati suasana alam pedesaan Krebet yang masih asri atau untuk belajar bertani kepada warga setempat.

Keunikan lain yang bisa ditemui di desa wisata ini adalah upaca merti yang rutin di adakan setiap tahun, biasanya di bulan Juni. Upacara ini merupakan bentuk rasa sukur kepada tuhan atas berkah yang selalu diturunkan di desa Krebet. Serangkaian upacara adat ini bisa menjadi sisi wisata budaya yang menandakan kekayaan Indonesia.

Desa Wisata Ketingan

Desa yang terletak di kabupaten Sleman ini dikenal pula sebagai desa wisata burung kuntul atau burung bangau. Desa ini merupakan tempat pelestarian burung Blekok dan Kuntul yang saat ini populasinya mulai menurun. Jangan coba-coba melakukan aktifitas perburuan karena hal itu sangat dilarang di sini, lingkungannya juga sangat dijaga supaya habitat unggas-unggas tersebut tidak rusak. Tersedia jasa penyewaan sepeda sehingga wisatawan bisa berkeliling menikmati indahnya pemandangan.

Waktu yang paling menyenangkan yaitu pada sore hari, saat ribuan burung baru pulang dari aktifitasnya mencari makan. Atau pada saat bulan purnama dan Jumat Kliwon. Jika biasanya setelah pulang sore hari mereka hanya bertengger di pohon, saat purnama dan malam Jumat kliwon mereka bakal beterbangan di atas Desa Wisata Ketingan mulai dari sore hingga malam hari dan menghadirkan pemandangan menakjubkan. Awalnya saat kawanan burung ini mulai menyerbu desa ketingan pada 1997, warga merasa tergagnggu dan mengusir burung-burung tersebut. Bukannya pergi justru makin banyak kawanan yang datang sehingga diputuskan untuk melestarikan dan menjadikan Ketingan sebagai desa wisata

Desa Wisata Banyusumurup

Menikmati proses pembuatan beragam aksesoris keris adalah agenda paling tepat setelah melihat beragam koleksi keris dan proses menghias keris di desa Banyusumurup. Sebuah desa wisata di Bantul yang sebagian besar penduduknya adalah pengrajin wirangka/sarung keris. Di desa Banyusumurup juga memproduksi wirangka atau sarung keris dan pendok atau bagian tangkai keris yang berfungsi sebagai pegangan. Suasana sejuk pedesaan akan segera menyapa saat wisatawan sampai di desa ini.

Jika dibandingkan dengan desa-desa lain di daerah Yogya, para pengrajin aksesoris keris Banyusumurup selalu memproduksi aksesoris yang baru setiap harinya. Hal inilah yang membedakan dengan para pengrajin aksesoris keris di desa-desa lainnya yang hanya bergantung pada pesanan. Di desa ini para perajin dalam memproduksi aksesoris keris, masih dalam skala rumahan belum berkembang menjadi sanggar atau merk khusus aksesoris keris.

Sumber: Dari berbagai sumber, Photo by. Google Image