WHAT'S NEW?
Loading...

Terdampar di Pulau Lima


Minggu, 30 Desember 2012, langit begitu cerah. Saya bersama 3 orang teman anggota backpacker koprol yaitu Farah, Fauzi, dan Haqi, sudah merencanakan sejak beberapa hari sebelumnya untuk pergi ke pulau Burung atau juga disebut pulau Dua yang ada di teluk Banten. 

Kami berempat memulai perjalanan dari Kramatwatu pukul 8 pagi, menuju serang menggunakan angkot dan turun di perempatan Pocis dengan tarif tiga ribu rupiah per orang. Kami langsung berjalan ke pasar lama dan sarapan kupat tahu dengan harga lima ribu rupiah per porsi sebelum melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Karangantu menggunakan angkot dengan tarif tiga ribu rupiah. 

Selama perjalanan menuju pelabuhan Karangnantu, mata kami disuguhi banyak sekali situs peninggalan sejarah Banten Lama, diantaranya seperti reruntuhan keraton Surosowan dan menara masjid agung Banten. Hingga tibalah kami di pelabuhan yang pernah menjadi pelabuhan terpenting di Indonesia pada abad ke 16, yaitu pelabuhan Karangantu. Sesampainya di pelabuhan Krangantu, kami  berjalan menyebrangi jembatan dan  kami melihat
sebuah spanduk di pagar jembatan. Spanduk tersebut berisi informasi promo wisata ke pulau Lima yang juga terletak di teluk Banten dan hanya membutuhkan waktu 20 menit dari pelabuhan Karangantu. 

Secara spontan kami mengubah rencana untuk mencoba mengunjungi pulau Lima, padahal semula hendak menyewa perahu untuk menyeberang ke pulau Burung. Kami tertarik pada promo wisata pulau Lima karena wisata ke pulai Lima ini benar-benar baru dibuka. Dalam spanduk tersebut juga berisi informasi kontak yang dapat dihubungi yaitu Bapak Opik di nomor 087871599129, dan Bapak Chandra di nomor 08176377821. Kami tidak langsung menghubungi nomor tersebut, akan tetapi kami bertanya kepada seorang bapak pemilik warung yang ada di sekitar pelabuhan Karangantu. 

“Permisi pak, numpang tanya. Kantor yang promosi wisata pulau Lima itu dimana ya?”
Saya bertanya sambil mengembangkan senyum. 
“Jalan saja terus ke arah sana, nggak jauh sekitar 300 meter,nanti ada rumah dari papan banyak spanduknya juga.”
Jawab si bapak sambil menunjuk ke arah utara, sejurus dengan pasar Tempat Pelelangan Ikan (TPI). 
Nelayan Karangantu panen kerang hijau
 
Kami mengucapkan terimakasih kepada si Bapak, dan langsung berjalan kaki menuju arah yang ditunjuk dan kami menemukan rumah yang kami cari. Disana kami bertemu dengan Bapak Opik dan kami langsung tawar menawar harga. Sebenarnya sudah jelas tertera dalam spanduk bahwa harga per orang sebesar lima puluh ribu rupiah untuk minimal 10 orang, karena harga yang dipatok sebenarnya adalah sebesar lima ratus ribu untuk sewa kapal, termasuk banana boat dan snorkeling selama satu hari. Akan tetapi karena kami hanya berempat, maka harga  yang diberikan kepada kami hanya empat ratus rupiah saja untuk satu hari. 

Setelah deal harga, kami langsung menuju pulau Lima menggunakan banana boat dan tak lupa memakai jaket pelampung untuk keselamatan. Sepertinya banana boat ini masih asing bagi penduduk sekitar pelabuhan Karangantu, sehingga banyak orang termasuk anak-anak sampai orang dewasa berderet di pinggiran dermaga menyaksikan kami duduk di atas balon karet besar berbentuk pisang berwarna kuning itu. Banana yang kami naiki melaju pelan ditarik dengan perahu boat kecil, sepanjang pelabuhan kami melihat kapal-kapal nelayan yang parker, beberapa diantaranya terlihat nelayan baru kembali dari memancing atau panen kerang hijau.

Setelah keluar dari area pelabuhan, angin laut bertiup kencang. Arus laut mulai membentuk ombak kecil yang membuat kami terombang ambing dan membuat cipratan air laut membasahi seluruh badan kami. Suasana begitu ceria, kami berteriak memacu adrenalin karena beberapa kali hampir terguling diterjang ombak dan diterpa angin kencang. Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di pulau Lima yang masih sepi dari pengunjung karena wisata pulau Lima baru dibuka seminggu sebelum kami datang ke pulau ini. Saat itu hanya ada beberapa orang dengan anaknya bermain di area pantai dan beberapa orang sedang memancing dari atas jembatan kayu. Kami juga melihat beberapa orang bekerja membuat saung-saung yang menurut informasi dari pak Opik, saung itu nantinya akan disewakan seharga seratus ribu rupiah kepada para pengunjung pulau Lima.
Sesampainya di pulau Lima, kami langsung meletakkan ransel di salah satu saung yang ada dan memakai perlengkapan snorkeling lalu mulai mengeksplorasi laut sekitar pulau berharap menemukan pemandangan indah di dasar lautnya. Akan tetapi yang kami lihat hanya pasir dan karang-karang yang sudah mati. Kami terus berenang mengitari pulau. Dibagian barat pulau terlihat gunung dan pelabuhan bojonegara. Angin bertiup kencang dari arah barat dan membuat arus ombak yang sedikit kencang. Sementara di arah mata angin yang berlawanan yaitu timur menghadap ke laut Jawa, lautnya begitu tenang karena terlindung dari angin barat.

Di bagian utara terlihat pulau tunda dan pulau panjang, serta beberapa pulau kecil lainnya. Beberapa perahu terlihat diantara pulau-pulau tersebut dan orang-orang yang sedang memancing di atasnya. Kami juga sempat bertemu dengan salah satu dari mereka, dan melihat beberapa ikan hasil tangkapannya yang kebanyakan jenis ikan kerapu. Perut terasa lapar setelah selesai berenang mengitari pulau, kami langsung menyerbu sebuah warung milik seorang perempuan yang merupakan istri dari Pak Daeng. Pak Daeng adalah pengelola pulau Lima, warisan dari bapak mertuanya yang sudah mengurus pulau Lima sejak tahun 70-an.

Sambil menunggu pesanan mi instan goreng, saya sempat mengobrol dengan pak Daeng. Dari pak Daeng juga saya kemudian penasaran ingin masuk ke dalam kawasan hutan pulau Lima yang luasnya hanya sekitar setengah Ha. 

“Di dalam sana ada beberapa makam yang dikeramatkan, dan kadang dikunjungi oleh beberapa orang dari Tangerang.” Begitu tutur pak Daeng. 
“Makam siapa pak?” Saya bertanya penuh rasa ingin tahu. 
“Ada makam namanya Raden Mangun Jaya Kusuma yang paling sering diziarahi.” Tutur pak Daeng lagi.

Akhirnya setelah selesai mengisi perut, kami mengajak pak Daeng untuk masuk ke dalam hutan. Vegetasi yang rapat akan sangat menyulitkan kami yang tidak tau medan jika berjalan tanpa di pandu. Pak Daeng berjalan paling dengan dengan membawa parang untuk membuka jalan agar kami bisa lewat. 

Memasuki area hutan, nyamuk-nyamuk langsung menyerbu kulit kami yang tidak tertutupi oleh baju. Pohon-pohon yang tumbuh di pulau Lima kebanyakan adalah petai cina, dan beberapa pohon lain yang sengaja ditanam pak Daeng seperti pohon kedondong, srikaya, dan kelapa. 

Tanah dipenuhi dengan daun-daun kering yang gugur, serta banyak sekali kotoran burung yang kering berwarna keputihan. “Disini memang menjadi tempat tinggal burung-burung kalau menjelang sore hari.” Begitu penjelasan pak Daeng saat saya bertanya mengapa banyak kotoran burung. Menurut pak Daeng, jenis burung yang tunggal di pulau Lima adalah burung kuntul putih. Hewan lain yang ada di pulau Lima yaitu biawak. 

Setelah 10 menit berjalan kaki, kami pun menemukan makam Raden Mangun Jaya Kusuma yang kami cari. Menurut penuturan pak Daeng, Raden Mangun Jaya Kusuma adalah orang dari kerajaan Majapahit yang di asingkan di pulau Lima. Kemudian kepada penduduk setempat, Raden Mangun Jaya Kusuma meminta untuk dikubur hidup-hidup lalu dibuatkan nisan serta pagar dengan 50 batu bata. Makam ini ditemukan tahun 70-an memalui penggalian. Di sekitar makam tersebut ada sebuah sumur yang telah kering. Sumur tersebut semula digunakan untuk bersuci sebelum berziarah ke makam. 
Sektiar 10 meter dari makam Raden Mangun Jaya Kusuma, terdapat makam lain yang diketahui sebagai makam dari seorang perempuan bernama Sri Dewi Mila. Akan tetapi siapa dan bagaimana sejarah dari Sri Dewi Mila juga tidak diketahui oleh pak Daeng. Tidak tahan dengan serbuan nyamuk, kami melanjutkan perjalanan menuju makam lainnya yaitu makam Raden Jaya Ningrat (Raden Paku Banten). Menurut pak Daeng, Raden Jaya Ningrat merupakan orang dari kerajaan banten yang ditugaskan untuk menjaga pulau Lima.

Ketiga makam  yang kami  kunjungi,  terlihat beberapa bekas yang  ditinggalkan para peziarah berupa bunga-bunga yang ditaburkan di atas makam, ada kelapa muda dan beberapa kue-kue. Dan di bagian batu nisan ketiga makam tersebut dibungkus dengan kain kafan putih. 

Selesai menjelajah hutan di pulau Lima, kami pun bersiap untuk pulang karena hari mulai sore. Petualangan hari itu di pulau Lima begitu mengesankan, kami tidak hanya berlibur dengan menikmati suasana pantai tetapi juga menjelajah hutan dan mengenal sejarah Indonesia yang kaya dengan peninggalan sejarah kerajaan masa lampau melalui makam-makam yang ada di pulau Lima.

4 komentar: Leave Your Comments

  1. Ada no HP atau FB yg bisa dihubungi? saya ingin tanya2 tentang kondisi pulau Lima. Trims :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gabung aja ke grup facebook Backpacker Koprol (Forum), klik link ini http://www.facebook.com/groups/team2GMT3/?fref=ts ditunggu ngobrol disana :)

      Hapus
  2. Engga buleh buat menginap yah

    BalasHapus
  3. untuk contact person hub aja andi daud 087771803851

    BalasHapus