WHAT'S NEW?
Loading...

Pesona Pulau Burung

Hari terakhir di tahun 2012 tepatnya hari Senin tanggal 31 Desember, saya dan teman-teman backpacker koprol memutuskan untuk berlibur bersama lagi. Masih di daerah Banten yang sebenarnya memiliki berjuta pesona alam yang indah. Setelah mengeksplor pulau Lima di Karangantu tanggal 30 Desember 2012, kali ini kami masih dibuat penasaran dengan sebuah pulau yang masih terletak di Teluk Banten yaitu pulau Dua, atau lebih dikenal dengan nama pulau Burung. Menurut administrasi pemerintahan Pulau ini termasuk dalam kawasan Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang.

Desa Sawah Luhur dapat diakses dengan transportasi umum dari terminal Pakupatan Serang menggunakan angkot ke pasar Ciruas dengan tarif Rp3.000,-. Kemudian dari pasar Ciruas menuju desa Sawah Luhur dengan angkot jurusan Pontang dengan tarif Rp5.000,- lalu turun di
rumah makan pecak bandeng sawah luhur. Disana kita dapat langsung bertanya pada penduduk sekitar dari mana akses menuju pulau Burung dengan berjalan kaki.

Setelah meminta ijin dan memarkirkan kendaraan di halaman rumah warga kami langsung berjalan menuju pulau Burung. Beruntung cuaca tidak terlalu panas, kami berjalan melalui areal pertambakan ikan bandeng milik warga. Sepanjang pematang tambak yang kami lalui, kondisi tanahnya sedikit basah dan beberapa lainnya terlihat kering retak-retak.

Banyak hal yang bisa kami lihat selama trekking di pematang tambak terebut, diantaranya adalah saung yang dibangun di atas tambak, beberapa burung bangau berwarna putih terbang rendah, ikan yang berenang naik ke permukaan tambak dan yang paling membuat kami kagum adalah ubur-ubur. Kami beristirahat sejenak sambil mengamati dan sempat mengambil foto ubur-ubur tersebut. Meski kurang begitu jelas hasil fotonya karena warna ubur-ubur yang bening.

Beberapa puluh meter sebelum sampai di pulau Burung terdapat lahan yang digunakan untuk pelatihan pelestarian mangrove. Mangrove adalah tanaman pepohonan yang hidup di antara laut dan daratan, atau rawa berair payau. Suasana sejuk hutan mangrove dan suara kicauan burung langsung menyambut kami saat kami tiba di Pulau Burung. Beberapa sepeda motor terlihat parkir di dekat papan selamat datang.


Menurut informasi, pulau Burung ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarakan GB tanggal 30-7-1937 Nomor: 21 Stbl 49 seluas 8 ha. Kemudian cagar alam ini luasnya bertambah karena adanya tanah yang timbul disekitarnya, dan pada tahun 1978 menyatu dengan daratan pulau Jawa. Sehingga sekarang pulau Burung dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua. Untuk menjamin kelestarian ekosistem pulau Dua telah diterbitkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 253/Kpts/II/1984 yang menetapkan bahwa tanah timbul di selatan pulau menjadi tanah cagar alam, sehingga luas cagar alam ini menjadi 30 ha.

Untuk memasuki cagar alam ini kita harus memiliki surat izin. Biasanya jika hanya bermain sehari saja dan tidak masuk ke dalam hutannya, pengunjung diperbolehkan masuk tanpa surat ijin. Akan tetapi apabila akan melakukan penelitian, terlebih dahulu harus memiliki Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Surat tersebut dapat mudah kita urus di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Jenis flora yang terdapat di cagar alam ini di antaranya adalah: Kepuh, Ketapang, Bangka, Api-api, Dadap, Cangkring, dan Pace. Cagar Alam ini juga merupakan tempat persingggahan dan tempat berkembang biaknya beberapa jenis burung migran dan burung-burung kecil lainnya. Antara bulan Maret-September adalah saat terbaik berkunjung ke pulau ini. Ada beribu-ribu burung bersatu di pulau ini untuk bertelur, menetas dan membesarkan anaknya, diantaranya adalah burung yang bermigrasi dari negara di luar Indonesia.

Sesuai dengan namanya, jenis fauna yang ada di pulau Burung didominasi oleh jenis aves atau unggas (burung). Menurut penelitian kurang lebih ada 14 jenis yang terdiri dari: Cangak Abu, Cangak Merah, Cangak Laut, Kuntul Putih Besar, Bluwok/Bangau Putih Susu, Kuntul Karang, Kuntul perak kecil, Kuntul Kerbau, Pecuk Padi, Roko-roko, Koak Merah, Koak maling dan lain-lain. Fauna lain adalah jenis reptilia seperti biawak dan Ular Sanca, serta jenis satwa liar lainnya yang sering di temui yaitu kucing hutan.

MENIKMATI PANORAMA PULAU BURUNG DARI ATAS MENARA PANDANG
Di pulau Burung kami bertemu dengan salah seorang petugas jagawana. Setelah beramah-tamah sebentar, kami langsung menikmati semilir angin laut. Tidak jauh dari papan selamat datang, terdapat satu gedung pos jaga,  satu gubuk terbuat dari kayu dan papan, dan menara pandang dari kayu setinggi kurang lebih 30 meter.

Saya segera naik ke atas menara pandang lalu mengedarkan pandangan dari ketinggian. Di sebelah timur cagar alam Pulau Dua dapat terlihat pulau Satu dan sebelah baratnya terlihat gunung Santri dan gunung Putri di Bojonegara. Sementara di sebelah utara merupakan pemandangan lepas teluk Banten, dan kami datang dari arah selatan yaitu desa Sawah Luhur.

Ada yang menarik perhatian saya di kejauhan di teluk Banten, seperti ada ikan besar yang berenang di permukaan, terlihat seperti hiu atau mungkin juga lumba-lumba. Sementara di atas rimbunnya hutan mangrove di pulau ini terlihat banyak burung berterbangan penuh keceriaan. Pemandangan vertikal ke arah bawah, terlihat pohon-pohon mangrove yang baru ditanam di bibir pantai. Pantai yang landai dan laut dengan ombak yang tenang benar-benar membuat saya takjub akan alam ciptaan tuhan.

Tidak terasa selama 2 jam lebih saya dan teman-teman terbius oleh pesona pulau Burung. Sebenarnya hari itu kami ingin menyusuri hutan dan berjalan sampai ke pulau Satu yang letaknya berdekatan dengan pulau Burung. Akan tetapi karena kami tidak mengantongi surat ijin, maka kami terpaksa meninggalkan pulau Burung hari itu sekitar pukul 1 siang.

Akan tetapi kami tidak langsung pulang ke rumah, melainkan melanjutkan petualangan liburan dengan berwisata kuliner di sekitar kota Serang. Sambil menyantap makan siang, kami masih terus membicarakan pesona pulau Burung dan merencanakan lagi untuk kembali kesana dengan membawa surat ijin agar bisa masuk ke dalam hutan dan melihat langsung kecantikan tersembunyi di dalamnya.

Rawa & Hutan Mangrove

Trekking melewati areal tambak bandeng

0 komentar:

Posting Komentar