WHAT'S NEW?
Loading...

Explore Yogyakarta “Never Ending Asia” (Day 1)

Oleh: Abdul Aziz
Tugu Jogja setelah renovasi
Kota Yogyakarta adalah daerah istimewa yang memikat jutaan orang. Yogyakarta yang akrab disebut Jogja juga memikat hati saya. Sudah dua kali saya ke kota gudeg ini dan dua kali pula saya merasa kekaguman yang luar biasa. Pada tanggal 25-30 Desember 2012 adalah perjalan kedua saya ke Jogja dengan menyewa sebuah mobil kijang innova saya bersama lima orang teman melaju dari jakarta menuju Jogja yang menempuh perjalan hampir 18 jam. 

Setibanya kami di kota Jogja kami tidak langsung mecari hotel atau penginapan karena harga hotel dan homestay jauh melambung saat akir tahun yang merupakan musim liburan. Kami bersepakat untuk tinggal di salah satu rumah penduduk setempat,  yang ternyata jika
disilsilahkan rumah tersebut adalah milik seseorang yang masih kerabat dari teman saya yang ikut dalam perjalanan ke Jogja saat itu. Untuk mencapai ke rumah yang akan kami jadikan homestay di jalan Jogja-Solo, desa Bayat, kabupaten Klaten, provinsi Jawa Tengah, kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari pusat kota Jogja (karena banyak lampu merah).

Pertama kali kami sampai di desa itu hanya rasa takjub yang kami rasakan, teryata teriknya matahari kota Jogja di siang hari telah berganti kesejukan udara desa Bayat yang dikelilingi oleh perbukitan dan hamparan sawah yang luas. Saat kami tiba di homestay, kami bertemu dengan pemilik rumah yang akrab dipanggil Mbah Urut dan kami memutuskan untuk istirahat sambil menikmati sejuknya udara desa Bayat.

Foto.1 Desa Bayat, Kab. Klaten, Ja-Teng
Akomodasi :
  1. Kijang Innova                              : Rp 450.000 /24hr (harga akhir tahun)
  2. Bensin (Jakarta – Yogyakarta)    : Rp 400.000 /trip
  3. Tol (Jakarta – Cikampek)            : Rp 4.500
  4. Tol (Kanci)                                  : Rp 2.500 – Rp 4.500 
  5. Penjagan (Bakrie)                       : Rp 41.000
Hari pertama pukul 08:00, kami berenam memutuskan untuk ke candi Prambanan yang hanya berjarak 10km dari homestay tempat kami menginap. Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang tercantik dan indah menurut saya, dan saya merasa jatuh hati pada kunjungan saya yang pertama di tahun 2004. Candi prambanan berada di desa Prambanan, yang secara administrasi desa ini masuk terbagi ke dalam dua wilayah yaitu sebagian masuk wilayah kabupaten Sleman (DIY) dan sebagian lagi masuk wilayah kabupaten Klaten (Jateng). Menurut catatan Candi Prambanan di temukan pada tahun 1733M oleh CA Lons, seorang warga negara Belanda. Pada tanggal 27 Mei 2006 gempa bumi berkuakuatan 5,9SR telah mengguncang komplek candi ini dan mengakibatkan kerusakan yang cukup parah, dan untuk mengingat hal tersebut maka pengelola candi pun menjadikan candi apit utara sebagai monument saksi bisu kedasyatan gempa Yogyakarta yang telah meluluh-lantahkan komplek candi Prambanan.
 
Tiket :
Parkir Kendaraan  : Rp.   5.000,- 
Tiket Dewasa        :  Rp. 30.000,- 
Tiket Anak            : Rp. 12.500,-

TIPS :
1. Terik matahari yang menyengat membuat jasa penyewaan payung tumbuh dan berkembang pesat dan harganya variatif, semakin mendekati kompleks harganya semakin murah mulai dari Rp. 5.000,- sampai dengan Rp. 3.000,-
2. Jika ingin membeli sovenir saya sarankan untuk membeli di luar kawasan candi karena berdasarkan pengalaman saya semakin keluar candi maka harga akan semakin murah bahkan bisa berbanding jauh.
3. Jangan memakai baju hitam atau baju yang tidak menyerap keringat, dan gunakan Sun Glasses serta topi mungkin sangat di butuhkan disana karena cuaca di kawasan candi sangat panas.

Sore hari pukul 15:00 kami bertolak dari candi Prambanan menuju ke pasar sore Malioboro yang berada di penggalan Jln. Ahmad Yani dan diapit pasar Beringharjo dan Benteng Vredeburg. Saya sempat berbincang dengan pedagang di sekitar Malioboro, dan dari perbincangan tersebut saya baru tahu ternyata cikal bakal pasar sore Malioboro adalah pedagang kaki lima yang dulu berjualan di depan kawasan benteng Vredeburg, lalu di pindahkan ke daerah yang sampai saat ini menjadi sangat terkenal dengan nama pasar sore Malioboro. Barang-barang yang di jual relatif sama dengan barang – barang yang di jual di Malioboro, seperti kaos Sablon aneka warna yang bertuliskan banyak hal tentang Yogyakarta dengan kisaran harga mulai dari Rp. 30.000,- s/d Rp. 50.000,- (tergantung corak dan bahan) atau pernak pernik seperti ganungan kunci yang berharga Rp. 1.000,-.

Setelah puas menghabiskan sore di pasar sore malioboro kami pun sepakat menghabiskan malam di Jalan Malioboro. Inilah moment yang saya tunggu-tunggu karena bagi saya jalan ini merupakan representasi dari Jogja itu sendiri, karena di jalan Malioboro saya bisa mendapatkan segala sesuatu tentang Jogja. Mulai dari souvenir seperti berbagai model hasil kerajinan batik seperti sendal batik, baju batik, tas batik, celana batik hingga berbagai sovenir kecil yang berbau batik, makanan oleh-oleh khas Jogja, wisata kuliner dan hingga tentu saja celotehan pedagang dengan logat khas bahasa Jawa. Jalur Malioboro sebenarnya adalah penggalan dari tiga jalan di kota Jogja, yaitu jalan Pangeran mangkubumi, jalan Malioboro dan terakhir adalah jalan Ahmad Yani yang berpangkal di Tugu Yogyakarta dan berujung di titik nol kilometer kota Jogja (Kantor Pos Yogyakarta). 

Foto 3. Potret Malioboro malam hari
Pada sisi kanan jalan di Mailoboro bisa ditemukan banyak pedagang kaki lima dan toko-toko penjual aneka oleh-oleh dan sovenir sedangkan pada kiri jalan kita bisa menikmati berbagai macam makanan yang berkonsep lesehan (buka sore-malam) serta beberapa Mall seperti Mall Malioboro. Tidak hanya itu, jika berjalan menyusuri jalan Malioboro kita juga dapat melihat Gedung Agung, pasar Bringharjo, benteng Vredeburg, hingga monumen serangan Oemoem 1 Maret. Menurut beberapa pedagang yang saya temui dengan sedikit wawancara, saya memperoleh informasi bahwa biasanya di Plaza monumen Serangan Oemoem 1 Maret tersebut kerap digelar aneka pertunjukan, seperti pertunjukan musik dan pertunjukan Happening Art. Sementara di kawasan depan benteng Vredeburg kita bisa melihatbanyak anak muda, mahasiswa/wi, pekerja seni hingga komunitas-komunitas yang ada di Jogja yang selalu menghabiskan malam untuk sekedar nongkrong dan atau menggelar pertunjukan.


Tips:
1. Sediakan banyak uang receh jika ingin makan di lesehan malioboro ini, karena  para pengamen malioboro ini akan silih berganti menemani saat makan.
2. Jaga baik-baik barang bawaan anda karena di jalan malioboro ini ramai maka saya sarankan untuk selalu waspada untuk menghindari hal-hal yang akan mengganggu liburan kita.
3. Untuk para pelancong yang memiliki dana terbatas, disarankan makan di lesehan yang ada di belakang pertokoan malioboro (kanan jalan) karena harganya jauh lebih murah dan rasannya pun sama enaknya.

0 komentar:

Posting Komentar