WHAT'S NEW?
Loading...

TaBu Village, desa wisata ramah lingkungan


Suka mendaki gunung? Sudah sering mendatangi pulau-pulau kecil yang indah tersebar di seluruh Indonesia? Atau mengeksplorasi banyak kota-kota istemawa yang kaya akan budaya? Yuk sesekali berwisata ke desa.

Jack Alawi di rumah terapung
Kota Serang provinsi Banten yang terkenal dengan wisata sejarah kerajaan Banten Lama, Benteng Speelwijk peninggalan belanda dan Klenteng tertua sejak abad ke 16, ternyata juga memiliki keunikan lain yaitu desa wisata ramah lingkukangan (Eco Village) yang diberi nama Desa Tapak Bumi (TaBu Village). Desa wisata ini terletak tidak jauh dari Pelabuhan Karangantu, yang pernah menjadi pelabuhan terpenting di Indonesia. 

Jauh sebelum pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta menjadi pusat perdagangan nusantara, lebih dulu dibangun pelabuhan Karangantu, Banten. Kala itu, Karangantu telah menjadi bandar perdagangan terbesar di Pulau Jawa. Saudagar-saudagar Cina, Arab, Gujarat, dan Turki banyak mengangkut rempah-rempah yang kemudian dijual lagi di Eropa melalui pelabuhan Karangantu.  Begitu  majunya  perdagangan  kala  itu,  hingga  Banten  menjadi  tempat  pusat
perdagangan domestik dan internasional.
Namun sayang, penaklukan Banten oleh pemerintah kolonial Belanda, yang diikuti pembangunan pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan Karangantu tidak lagi menjadi pusat perdagangan penting. Secara otomatis kegiatan ekonomi kesultanan Banten mandek. Kini, pelabuhan Karangantu tidak lagi menjadi pelabuhan utama di Banten setelah Pelabuhan Merak juga dibangun.

Meski pelabuhan yang pernah menjadi pintu gerbang perdagangan internasional itu kini tinggal kenangan karena tidak adanya bukti-bukti yang menggambarkan kejayaannya di masa lalu. Akan tetapi sejarah itu tetap saja tidak boleh dilupakan. Kini kondisi pelabuhan Karangantu yang terkesan kumuh itu digunakan untuk pelabuhan pusat perdagangan ikan untuk daerah Serang, dan sudah mulai dibenahi dengan menata ulang dan dibangun insfrastruktur jalan beton oleh Dinas Pekerjaan Umum.


Dengan dibangunnya TaBu village ini diharapkan mampu mengambalikan nama besar pelabuhan Karangantu sehingga dapat dijadikan wisata sejarah, sekaligus menginspirasi dan mencontohkan kepada masyarakat sekitar untuk turut melestarikan alam dengan konsep eco village.

TaBu village yang dibangun di atas lahan seluas 4 Ha dimana lahan tersebut merupakan tambak (empang) ikan bandeng. Berkunjung ke TaBu village kita bisa melihat beberapa bangunan unik terbuat dari bambu dan atapnya dari daun rumbia, seperti rumah terapung di atas empang berbentuk pendopo berkapasitas 50 orang dan jembatan. Selain itu juga ada 2 kincir angin sebagai penghasil listrik yang juga ramah lingkungan.

Banyak hal yang bisa dilakukan di TaBu Village. Menikmati angin dan pemandangan teluk pesisir Banten termasuk sunset dan juga sunrise, atau pemandangan tambak dan sabana yang eksotis dengan latar belakang gunung karang di sebelah selatan. Hunting foto, memancing, menginap atau berdiskusi di rumah terapung, merasakan sensasi melewati jembatan unik dari konstruksi bambu, bermain perahu karet di tengah empang, atau berlayar ke pulau Burung, pulau Tunda dan pulau Panjang juga merupakan kegiatan menyenangkan di TaBu village.


Pengunjung juga dapat melakukan hal yang lebih dari sekedar berwisata, yaitu dengan melakukan penanaman pohon di lahan hutan bakau yang telah rusak, atau bersepeda ke kawasan situs sejarah Banten Lama. Selain itu, berwisata ke TaBu village akan lebih berkesan dengan wisata kuliner bandeng bakar lumpur. Rencanakan liburan dan hubungi Kang Das di nomor 085646000339. Kang Das adalah arsitek sekaligus pemilik empang bandeng dan TaBu village yang akan menyiapkan bandeng bakar lumpur jika memesan seminggu sebelum kedatangan.

Untuk mencapai TaBu village dengan angkutan umum, dari arah Jakarta menggunakan bus dan turun di daerah Patung-Serang, kemudian lanjut menggunakan angkutan umum (angkot) ke Pasar Lama dengan tarif Rp3.000,- Dari Pasar Lama langsung menuju pelabuhan Karangantu menggunakan angkot dengan tarif Rp3.000,- Setelah sampai di pelabuhan Karangantu dapat langsung bertanya kepada penduduk sekitar dimana TaBu village (desa Tapak Bumi).

Foto by Jack Alawi

0 komentar:

Posting Komentar