WHAT'S NEW?
Loading...

Sigandu: Pengikisan Waktu

Melihat pantai Batang saat ini, hati saya terasa perih meringis, betapa tidak? Pantai yang dulu begitu indah, begitu damai dan begitu memabukan saat ini sudah mulai mengalami perubahan yang demikian drastis.

Pagi ini paman saya mengajak ke areal pantai di penghujung pantai Batang. Di sana sedang terjadi pembangunan, batu-batu disingkirkan dan mulai dibentuk semacam kolam-kolam besar, galangan-galangan mulai disusun. Saya merasa bingung untuk sesaat, kenapa harus dibuat seperti itu. Ternyata selain dermaga, areal itu sedang dibangun gudang batubara hingga tahun 2025 nanti. Terlihat jelas, tidak ada tanaman apa pun di area tersebut. Dan betapa bahayanya bila itu dibiarkan.

Kemudian, saya beralih ke pantai Sigandu, kawasan pariwisata yang masih di bawah manajemen Taman Safari Indonesia, Cisarua. Saya masih tidak mengerti bagaimana bisa kawasan pantai di penghujung Jawa Tengah, bisa menjadi anak
perusahaan dari Cisarua sana. Terlambat sedikit, saya sudah ketinggalan banyak.
















Iseng saya berjalan menelusuri area pantai Sigandu seperti saat kecil dulu. Dulu pasir mengiringi derap kaki kami saat berlari, sekarang pasir berganti batu bata bercampur tanah liat sehingga bila tidak menggunakan sendal akan terasa lengket di kaki. Dulu keindahan alam yang alamiah tersebar dari ujung ke ujung pantai, sekarang keindahannya tak terasa lagi karna pohon-pohon yang terlihat kekeringan, warung-warung yang muncul tak teratur, sampah berserakan di mana-mana. Pelan namun pasti ombak mengikis yang sebelumnya dibangun dengan maksud memperindah suasana, dulu sepanjang pantai hutan mangrove menemani langkah kami, sekarang keseruan untuk bertualang dan menemukan gua berganti dengan "Dolphin Center" dengan harga karcis 20.000 rupiah bila ingin melihat pertunjukannya, pedihnya lagi saya mendapat info kalau akan dibangun kolam renang sekelas Water Boom di depan gedung "Dolphin Center" tersebut.

Belum lagi tepat di sebelah Dolphin Center itu berdiri sebuah cafe Billiard yang kondisinya terkesan memaksa dan benar-benar hanya untuk keperluan bisnis semata tanpa adanya nilai estetika. Kabar yang saya dengar kawasan ini telah mengalami abrasi, tapi mereka tidak merasa kalau itu adalah sebuah "teguran", dan seperti bersikap "the show must go on", apa pun yang terjadi untuk tujuan bisnis mereka akan mencoba membangun hal-hal yang bisa menambah profit. Pedih hatiku. Hilang sudah lautku. 

Dalam hati saya yang teriris terucap kata, "what the hell?", tapi saya harus berbuat seperti apa? Saya belum lah punya "kuasa" yang bisa mengatakan kepada pengembang bagaimana seharusnya tempat itu dibenahi. 

Sigandu tidak lebih dari sebuah "permainan" kepentingan dari segelintir orang yang tidak peduli pada keindahan alam yang sesungguhnya. Mungkin saat ini saya baru bisa diam, tapi bukan berarti saya akan tinggal diam. Lintasan-lintasan ide dan pemikiran telah bermunculan dan berkelebatan. Saya harus berbuat!

*Sigandu adalah nama daerah pantai yang terletak di Batang, Jawa Tengah.

Tulisan dibuat pada tanggal 1 Desember 2012

0 komentar:

Posting Komentar