WHAT'S NEW?
Loading...

Mencicipi Rabeg, makanan favorit sultan kerajaan Banten

Berkunjung ke suatu daerah yang baru dan belum pernah dikunjungi sebelumnya pasti merupakan pengalaman menarik terutama bagi traveler. Banyak hal baru yang bisa membuat traveler menjadi semakin kaya akan pengalaman dan pengetahuan, dan salah satu hal yang menjadi agenda wajib saat traveling biasanya adalah wisata kuliner.

Banten, sebuah provinsi yang ada di bagian barat pulau Jawa juga memiliki makanan khas yang juga merupakan warisan budaya asli Indonesia. Selain sate bandeng yang telah dibahas pada posting wisata kuliner sebelumnya, kali ini mari kita mencicipi masakan dari potongan-potongan kecil daging dan jeroan kambing yang populer di Banten dengan nama Rabeg.

Rabeg merupakan masakan berbahan dasar daging dan berkuah seperti semur. Namun meskipun sama-sama berkuah rabeg tetap berbeda dengan semur yang memiliki cita rasa manis dari kecap ditambah gurihnya bawang putih. Rabeg memiliki cita rasa pedas dengan bumbu dasar bawang merah, bawang putih dan lada. Rasa pedasnya menjadi lebih kompleks
dan unik dan lebih kaya dengan ditunjang bumbu lainnya yaitu jahe, lengkuas, cabe rawit, biji pala, kayu manis. Kuah rabeg berwarna cokelat hasil dari percampuran air murni dan bumbu rempah yang bisa menghangatkan tubuh. Kuah tersebut juga dipercaya dapat mengurangi kandungan lemak.

Proses pembuatan rabeg juga tidak terlalu rumit, setelah daging direbus dan dipotong-potong lalu dimasukan kedalam tumisan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan. Air sisa rebusan daging (kaldu) kemudian dicampurkan kedalam tumisan daging dan bumbu dan dimasak sampai kuah mengental dan meresap ke dalam daging. Untuk menghilangkan bau prengus kambing biasanya bisa ditambahkan daun salam, dan bunga lawang (pekak, star anise) untuk menampilkan aroma harum.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan rabeg di Banten, makanan ini banyak dijual malam hari di sekitar kota Serang dan Cilegon. Cukup pasang mata untuk mencari warung tenda dengan tulisan "RABEG". Harganya juga tidak terlalu mahal, berkisar antara Rp10.000,- sampai Rp15.000,- per porsi, sudah termasuk nasi uduk/nasi biasa, kerupuk emping, dan air teh tawar hangat. Pada siang hari tidak banyak yang menjual masakan ini, hanya ada beberapa restoran atau rumah makan khas Sunda-Banten, seperti;
  • Pondok Makan Endah Sari (Jl. Jend. Sudirman, Serang)
  • Rumah Makan Rabeg H. Naswi (Jl. Raya Mayor Syafe'i, seberang rumah tahanan kota Serang)
  • Warung Rabeg Mang Sam (Komplek Arga Baja Pura, Jl. Argaraya E.1 No.10 Kotasari, Grogol, Cilegon)
SEJARAH RABEG
Rabeg menjadi semakin istimewa setelah mengetahui bahwa ternyata memiliki sejarah yang panjang. Ketika Raja Banten Sultan Maulana Hasanuddin naik haji, kota pelabuhan yang pertama didarati di tepi Laut Merah adalah Rabiq (juga dieja sebagai Rabigh). Ini adalah sebuah kota kuno yang sebelumnya bernama Al Johfa. Pada awal abad ke-17, kota ini hancur karena ombak, dan dibangun kembali menjadi kota indah dengan nama baru Rabiq. Sultan Banten sangat terkesan dengan keindahan kota itu. Beliau juga sempat bersantap dengan lahap di kota itu setelah berminggu minggu mengarungi samudra.

Sepulang kembali ke Banten, kenangan tentang kota Rabiq di Provinsi Makkah itu membuat Sultan menitahkan juru masak istana untuk memasak daging kambing. Karena tidak ada yang tahu bagaimana cara memasak kambing seperti di Tanah Suci, juru masak pun mereka-reka sendiri masakan kambing yang khas. Ternyata, Sultan sangat menyukainya. 

Sejak itu, masakan kambing empuk yang gurih dan beraoma harum itupun menjadi sajian wajib di istana. Resep masakan khas itu pun akhirnya "bocor" ke masyarakat, dan menjadi sajian populer yang wajib hadir di setiap perhelatan. Tak pelak lagi, nama Rabiq pun melekat pada masakan itu. Dalam perjalanan waktu, Rabiq pun berubah menjadi Rabeg seperti sekarang umum dieja.


sumber: detik food, foto by google image

0 komentar:

Posting Komentar