WHAT'S NEW?
Loading...

Catatan Perjalanan Backpacker Koprol di harian Banten Raya Post

Salam koprol! Sudah lebih dari seminggu tidak menyapa sahabat koprolers lewat blog. Yups, Admin sedang mempersiapkan acara yang bakalan seru banget untuk bulan Februari 2013 nanti. Sudah tau donk ya acaranya "Te-We, More than Traveling". Tapi disela kesibukan, sebenernya tetep nyempetin buat ngetrip yang ringan dan deket-deket rumah. Dan dari hasil trip itu tetep dibuat catatan perjalanan tapi belum di publish ke blog karena naskahnya dikirim ke media lokal. Dengan sangat senang hati dua naskah catatan perjalanan +BP Koprol dimuat di harian Banten Raya Post. Berikut dibawah ini tulisan kedua yang dimuat tentang bukit Gunung Pinang, tulisan pertama yaitu Catatan Perjalanan "Meraba Komplek Gunung Anak Krakatau" belum bisa di publish di blog karena sedang dalam proses keikutsertaan lomba karya tulis. Doakan menang ya sobat koprolers. Thank you.


WEEKEND DI WANA WISATA GUNUNG PINANG
Oleh: Jack Alawi, relawan Rumah Dunia,
dan anggota organisasi pecinta alam Arcapala (Arah Cakrawala Pecinta Alam).

Setelah awal bulan Desember lalu saya berwisata di Komplek Gunung Anak Krakatau bersama Backpacker Koprol. Wisata selanjutnya, Minggu, 09 Desember 2012, adalah di Wana Wisata
Gunung Pinang, Kramat Watu, Kabupaten Serang-Banten. Kali ini saya berwisata dengan teman-teman dari Rumah Dunia, Arcapala (Arah Cakrawala Pecinta Alam) dan Backpacker Koprol. Mereka adalah Yori Tanaka, Suni Ahwa, Afida, Nurul, Riezky, Ghaniyyu dan Achmad Dasuki.

Pagi itu langit Kota Serang begitu cerah, kami berangkat dari kota ini pukul 09.00 WIB dengan mengendarai empat sepeda motor. Sepeda motor yang kami kendarai melaju santai, kami hanya ingin menikmati weekend ini dengan rileks menghirup udara segar dan menikmati pemandangan hijaunya pohom-pohon di tengah-tengah rimbunnya hutan. Melepas kepenatan aktifitas sehari-hari.

Perjalanan kami menuju Wana Wisata Gunung Pinang ini hanya berjarak 8 km dan hanya memakan waktu 30 menit. Bila menuju Gunung Pinang dengan kendaraan angkutan umum, dari Serang naik angkot di Royal dengan jurusan Cilegon dan turun pas kaki Gunung Pinang dengan ongkos Rp. 2 ribu per orang. Begitu pun bila dari kota Cilegon naik angkot di Serdang dengan jurusan Serang dengan ongkos Rp. 2 ribu per orang juga.
Sesampainya di kaki Gunung Pinang sebelah utara ini, saya langsung menghirup udara segar yang masuk dengan nikmatnya sampai ke dalam dada dan mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut. Udara yang begitu menyegarkan jiwa dan raga ini tidak bisa saya rasakan di kota. Tempat ini harus dijaga untuk keharmonisan alam dan keberlangsungan kehidupan kota yang sehat.

Gunung Pinang ini berketinggian 300 mdpl dan luasnya 222 Ha. Pada zaman Belanda, hutan di Gunung Pinang cukup rapat dan subur. Namun dengan sering dibakar oleh penduduk yang mempunyai kepercayaan bahwa bila hutan dibakar akan turun hujan, hutan pun menjadi gundul. Akhirnya kawasan Gunung Pinang ini berhasil direboisasi pada tahun 1978-1988, dengan sebagian besar pohon yang ditanam adalah pohon jati dan mahoni. Dan pada tahun 1991 resmi dibuka untuk wisata umum. Gunung ini dikelola oleh Perum Perhutani Provinsi Banten.
Gunung Pinang ini juga sering digunakan untuk penelitian, kemping, dan Juga sering buat pemanasan fisik para pendaki gunung untuk persiapan naik gunung yang lebih tinggi.
Setelah kami memarkirkan motor, kami menuju warung kecil. Di warung ini kami membayar administrasi masuk plus asuransi dengan uang Rp. 3.250,- per orang dan membayar uang parkir Rp. 2 ribu per motor.

“Bu, naik ke puncak kira-kira berapa jam ya kalau jalan kaki?” tanya saya ke ibu petugas administrasi.

“Paling juga satu jam doang kok. Kalau naiknya pake motor atau mobil, lima menit juga sampai,” senyum si ibu penjaga. “Iya Dik, mendingan jalan kaki aja, lebih sehat dan bisa sambil olah raga.”

“Iya, Bu, makasih.” Sahut kita bersama.

Kami memulai perjalanan naik ke puncak pukul 10.00. Kamera sudah saya keluarkan dari tas dan langsung mata kamera membidik pemandangan-pemandangan pohon yang rimbun nan indah. Kami berjalan dengan santai. Di sepanjang jalan banyak pohon flamboyan yang sedang berbunga dengan warna merah. Indah sekali pemandangan bunga-bunga flamboyan yang menutupi sebagian daunnya. Sebenarnya bunga flamboyan juga ada yang berwarna kuning atau ungu, namun di sini hanya ada yang berwarna merah saja. Beruntunglah kami datang saat musim hujan, di mana pohon flamboyan berbunga pada musim ini.

Jalan aspal ini banyak dipenuhi oleh daun-daun kering yang gugur dari pohonnya dan dicampur bunga flamboyan yang sebagian gugur pula. Saat seperti inilah menambah eksotis pemandangan.

Udara yang sejuk, dipercantik dengan alunan merdu kicauan burung-burung, membuat indra pendengarak saya selalu terjaga. Kulit pun tak tertingal merasakan belaian angin sepai-sepoi.

Sambil melangkahkan kaki dan menikmati segala keindahan gunung, saya teringat akan legenda yang ada di Gunung Pinang ini. Legenda tentang anak yang durhaka kepada ibunya, seperti ini legendanya: Pada jaman dulu, hidup satu keluarga miskin di Teluk Banten. Satu keluarga itu sudah ditinggal mati oleh kepala keluarganya dan keluarga itu hanya tinggal ibu dan si anak yang bernama Dampu Awang. Dampu Awang merantau bersama saudagar kaya raya bernama Teuku Abu Matsyah dari Negeri Malaka.

Setelah Dampu Awang menikahi putri Teuku Abu Matsyah dan memiliki harta warisan mertuanya, dia pun kembali ke Banten untuk berdagang. Namun Dampu Awang yang rumahnya persis di muka pantai tidak lagi mengakui ibunya.

Sang ibu pun sedih dan bermuram durja. Lalu sang ibu berdo’a agar Dampu Awang mendapatkan musibah. Akhirnya do’a si ibu diijabah. Tiba-tiba langit menjadi mendung pekat, guntur menyambar-nyambar ke bumi. Langit menumpahkan hujan deras. Angin puyuh besar datang meliuk-liuk ganas di atas laut, menyedot Kapal Dampu Awang.

Kapal pun terbang masuk ke dalam pusaran angin dan akhirnya terlempat ke selatan dengan keadaan jatuh terbalik. Jadilah kapal itu Gunung Pinang. Begitulah singkat legendanya.


MENIKMATI DARATAN BUMI DARI ATAS GUNUNG
Selain kami, ternyata banyak orang yang naik gunung ini, jalan kaki maupun memakai kendaraan motor atau mobil. Ada yang sepasang kekasih, sekelompok muda-mudi seperti kami dan ada juga yang sekeluarga. Mereka ada yang membawa tikar dan juga membawa bekal makanan dan minuman.

Beberapa puluh meter sebelum puncak gunung, ada sebuah gardu kecil yang dari situlah kami bisa menikmati pemandangan di bawah gunung. Kami menikmati pemandangan hamparan rumah warga, sawah-sawah, empang tambang ikan, dan pantai di sepanjang Teluk Banten beserta pulau-pulau di sekitarnya seperti Pulau Panjang, Pulau Burung dan pulau-pulau lainnya.

Di tempat ini kami berfoto-foto dengan landscape di bawah yang begitu indah. Sambil duduk, saya mensyukur nikmat Tuhan yang tak terhingga untuk para makhluknya.

Setelah dari situ, kami ke puncak. Ternyata di puncak banyak orang-orang sedang santai menghirup udara segar dan memakai perbekalan yang dibawa dari bawah. Kendaraan motor dan mobil banyak terparkir di sepanjang jalan di bawah tower telkom.

Sampailah kami di puncaknya. Di puncak ini terdapat makam yang sering diziarahi oleh warga, walaupun tidak jelas siapa orang yang dikubur di tempat ini.

Setelah dari puncak, kami pun turun dengan perasaan puas. Dan tenaga yang telah di charger untuk menjalani aktifitas keseharian kami masing-masing dengan penuh semangat.

******

2 komentar: Leave Your Comments

  1. wah wisata lokal nih
    post foto2nya juga dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di akun facebook, Helen :) nanti dikirim linknya ke twitter ya..

      Hapus