Indonesia pernah mengalami masa kejayaannya pada masa lampau dengan kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh nusantara. Kerajaan-kerajaan tersebut berdasarkan nuansa agamanya dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok jenis kerajaan, yaitu kerajaan Hindu, Budha dan Islam.

Mahkota kesultanan Banten
Kerajaan dengan nuansa Hindu adalah yang paling banyak di Indonesia, 3 kerajaan Hindu tertua di Indonesia yaitu Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur tahun 400 M, Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat tahun 500 M, Kerajaan Mataram di Jawa Tengah tahun 732 M, dan kerajaan-kerajaan Hindu lainnya yaitu kerajaan Medang, Kahuripan, Kediri, Singasari, Majapahit, dan Padjajaran. Kerajaan Budha yang pernah ada di Indonesia adalah kerajaan Kalingga di Jepara, Jawa Tengah tahun 640 M, dan kerajaan Sriwijaya di Palembang abad ke VII. Kemudian pada abad ke XVI setelah Islam masuk ke Indonesia, kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia pun bernuansa islami yaitu kerajaan Demak di Jawa Timur pada tahun  1513-1546,  kerajaan  Pajang di  Surakarta  tahun  1568-1586,  kerajaan  Mataram  di Kota
Gede (Yogyakarta) pada abad XVI, dan terakhir adalah kerajaan Banten pada tahun 1556-1580. 

Seperti posting terdahalu tentang perjalanan saya dan teman-teman para founder Backpacker Koprol ke kawasan situs sejarah Banten Lama, kali ini saya tertarik untuk menuliskan secara lengkap tentang situs-situs sejarah peninggalan masa kejayaan kerajaan Islam terakhir tersebut. Meskipun pada 4 November 2012 lalu kami hanya sempat mengunjungi Museum Kepurbakalaan Banten, namun sepanjang perjalanan dengan kendaraan roda empat, sejak memasuki kawasan wisata sejarah Banten Lama banyak situs-situs sejarah yang bisa kami lihat. Maka dari itu rasanya merupakan hal menarik jika bisa dijelaskan secara lengkap mengenai situs-situs sejarah Banten Lama yang ada yaitu,
  • Menara Masjid Agung Banten
  • Keraton Surosowan
  • Vihara Avalokitesvara
  • Benteng Speelwijk
  • Keraton Kaibon
  • Masjid Pecinan
Menara Masjid Agung Banten
Menara Mesjid Agung Banten. Dahulu digunakan untuk mengumandangkan azan dan mengawasi perairan laut. Konon menara ini dibangun semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucazoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel memang membelot ke pihak Banten, dan kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna. (Sumber: www.navigasi.net)

Menara Masjid Agung ini kemudian menjadi simbol kota Banten Lama, yang seperti pernah saya tuliskan dalam posting Gunung Pinang, bahwa menara ini dapat terlihat dari puncak bukit Gunung Pinang. Masjid dengan menara ini selalu ramai setiap harinya, terutama oleh para ibu-ibu pengajian yang ingin berziarah di makam-makam sultan Banten beserta keluarganya yang ada di sisi kiri masjid, salah satu makan tersebut adalah makam sultan Maulana Yusuf, yaitu anak dari Sunan Gunung Jati.

Keraton Surosowan
Melihat reruntuhan bangunan Keraton Surosowan, istana itu dibangun pada tahun 1526. Keraton ini dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin, sultan kedua Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut.

Keraton Surosowan memiliki luas kurang lebih 3,8 hektar. Keraton ini lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten di Kampung Banten, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Serang. Salah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian adalah Pancuran Mas. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas.

Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808. Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16. (Sumber: www.koranbanten.com)

Vihara Avalokitesvara
Vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara ini, telah berdiri sejak abad ke 16 dan dikenal sebagai salah satu vihara tertua di Indonesia. Vihara ini dibangun oleh salah satu raja Banten yang pernah memerintah di tahun 1652 bernama Syeh Syarief Hidayatullah.

Saat itu Syeh Syarief Hidayatullah menikahi seorang putri Tiongkok. Sunan Gunung Jati yang merupakan salah seorang dari Wali Songo, melihat bahwa ada banyak perantau dari Cina yang membutuhkan tempat ibadah. Maka kemudian Sunan Gunung Jati berinisiatif untuk membangun sebuah vihara untuk tempat peribadatan umat Budha pada masa itu, vihara tersebut kemudian diberi nama Vihara Avalokitesvara.

Bagi masyarakat Banten sendiri, bangunan vihara ini tidak hanya sekedar menjadi bangunan bersejarah ataupun tempat peribadatan semata, tetapi juga sebagai simbol bagaimana masyarakat lampau mampu mewariskan keharmonisan dalam menghadapi setiap perbedaan yang ada. Masyarakat Banten memang dikenal sebagai komunitas mayoritas muslim, namun keharmonisan beragama di kawasan Banten Lama ini terjalin sangat baik, bahkan tak jarang penduduk yang tinggal di sekitar kawasan vihara ikut terlibat dan membantu ketika ada acara dan perayaan-perayaan di vihara, contohnya seperti perayaan ulang tahun Buddha.

Toleransi beragama dan keharmonisan hubungan antara umat Islam dan umat Buddha di kawasan Banten lama juga dapat terpancar dari arsitektur bangunan Masjid Agung Banten Lama yang terletak tak jauh dari kawasan vihara. Masjid Agung Banten Lama yang juga adalah ikon Banten lama memiliki arsitektur bangunan yang bergaya Eropa Cina. (sumber: www.koranbanten.com)

Benteng Speelwijk
Adanya beberapa makam dengan bentuk khas Eropa di sekitar benteng melengkapi ciri khas budaya barat. Lokasi Benteng Speelwijk ini tidaklah terlalu jauh dari Masjid Agung Banten, sekitar 500 meter ke arah utara.

Meskipun tidak utuh lagi, beberapa sudut benteng ini meninggalkan bentuk bangunan yang masih bisa dinikmati. Pada bagian utara, walaupun tidak utuh tetapi masih dapat dilacak fungsi dan kegunaannya. Ruangan bawah tanah diduga merupakan ruangan yang dipakai sebagai kamar tahanan khusus dan tahanan biasa. Di bagian tembok masih berdiri sebuah bangunan pengintai yang menempel di atas tembok itu. Tembok benteng itu, diduga mempunyai dua fungsi, yakni sebagai pertahanan dan pemukiman. Di salah satu sisinya tampak sebuah lobang bekas hantaman peluru meriam.

Benteng ini didirikan pada tahun 1682, mengalami perluasan pada tahun 1685 dan 1731. Benteng ini untuk mengontrol segala kegiatan yang berkaitan dengan Kesultanan Banten dan juga sebagai tempat berlindung/bermukim bagi orang Belanda. Benteng ini semakin mengokohkan posisi Belanda dalam usahanya memonopoli perdagangan merica yang berasal dari Lampung Selatan untuk kemudian dijual lagi kepada pedagang-pedagang asing yang berasal dari Cina, Malaysia, Arab, India dan Vietnam. (sumber: www.koranbanten.com)

Keraton Kaibon
Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata keibuan. Pada waktu itu, sultan ke 21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah.

Pada tahun 1832, keraton dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda bersama-sama dengan keraton lainnya, termasuk Keraton Surosowan. Asal muasal penghancuran keraton berdasarkan sejarah yaitu ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daendels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuan). Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daendels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon.

Meski demikian, ada banyak bagian bangunan yang masih berdiri tegak hingga sekarang, yaitu pintu-pintu dan deretan Candi Bentar khas Banten atau disebut gerbang bersayap. Masih dapat dilihat pula Pintu Paduraksa, pintu khas Bugis yang sisi kanan dan kirinya tersambung, tidak seperti kebanyakan pintu keraton yang bagian atasnya tidak tersambung.

Ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah juga masih tersisa seperempat bagian. Kamar ini khas karena bagian lantainya dibuat lebih menjorok ke bawah (tanah) untuk diisi air sebagai pendingin ruangan. Di atasnya dipasang papan yang berfungsi sebagai lantai. Saat ini, masih terlihat adanya lubang-lubang penyangga papan. Meski saat ini dikelilingi permukiman penduduk yang makin padat, istana seluas dua hektar itu tetap terjaga sebagai cagar budaya. Keraton yang terletak di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang ini juga masih dikelilingi kanal dan Kali Banten seperti saat pertama kali dibangun pada awal abad 19. (sumber: www.koranbanten.com)

Masjid Pecinan Tinggi
Seperti namanya, Masjid Pecinan Tinggi dibangun di sebuah pemukiman cina pada masa Kesultanan Banten. Terletak kurang lebih 500 meter ke arah barat dari masjid Agung Banten, atau 400 meter ke arah selatan dari Benteng Speelwijk. Berbeda dengan Mesjid Agung Banten yang masih berdiri dengan kokoh, Mesjid Pecinan Tinggi bisa dikatakan tinggal puing-puingnya saja. Selain sisa fondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang, juga masih ada bagian dinding mihrabnya. Disamping itu, dihalaman depan disebelah kiri (utara) mesjid tersebut,  masih terdapat pula sisa bangunan menaranya yang berdenah bujur sangkar. Menara ini terbuat dari bata dengan fondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang. Bagian atas menara ini sudah hancur, sehingga wujud secara keseluruhan/utuh dari bangunan ini sudah tidak nampak lagi. 

Tidak banyak literatur yang menjelaskan asal usul didirikannya mesjid ini, kecuali hanya menjelaskan bahwa Mesjid Pecinan Tinggi ini merupakan mesjid yang pertama kali di bangun oleh Sultan Hasanudin sebelum kemudian mendirikan Mesjid Agung Banten.

Tidak jauh dari menara tersebut dan masih dalam area yang sama terdapat pula sebuah makam cina. Entah apa kaitannya antara makam tersebut dengan mesjid pecinan tinggi, yang jelas makam tersebut hanyalah satu-satunya yang terdapat di lokasi ini. Tulisan cina yang ada di makam tersebut masih terpatri dengan jelas yang menjelaskan bahwa yang dikuburkan disana adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng+Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao dan batu nissan tersebut didirikan pada tahun 1843. Bisa jadi kedua orang itu adalah imam/ustadz/pemuka agama sehingga layak dimakamkan disamping Mesjid Pecinan Tinggi. (Sumber: www.navigasi.net)

Foto by Google Image