WHAT'S NEW?
Loading...

Semeru, Catatan Seorang Nekat atau Bodoh Part.5

Semeru, saya dan mereka


Sebelum saya lanjutkan catatan perjalanan saya saat mendaki Semeru, pada part ini saya ingin bercerita tentang 6 orang saudara yang menemani saya menjejak puncak Mahameru. Di awal cerita tidak sempat saya ceritakan karena belum begitu mengenal mereka dengan baik, yang sudah saya kenal baik hanya Woi dan Abrian. Inilah deskripsi singkat dan sederhana saya tentang mereka.

Woi
Namanya Gilang, tapi saya lebih suka memanggilnya dengan panggilan Woi atau Onta. Ia teman saya sewaktu duduk di bangku SMA, di panggil begitu karena setiap kali memanggil orang dengan kata “woi” di awal, misal “woi james” “woi mi”, begitulah jadi akhirnya Ia dipanggil gilang woi, untuk membedakan dengan gilang-gilang yang lain. Onta karena Ia mirip orang arab, itu saja. Saya panggil onta jika dan hanya karena saya kesal terhadapnya. Perawakannya kurus dengan rambut ikal, hidung mancung, mirip orang arab, tingginya hanya sedikit lebih pendek beberapa cm dari saya. bisa dibilang ia yang paling high tec diantara kami bertujuh. Orangnya cuek dan egonya tinggi, sering berdebat dengan saya, salah satunya adalah perlu tidaknya plastik trash bag sebagai pelapis dalam ransel dan pemakaian rain cover yang ia anggap merusak estetika dari ransel itu sendiri dan seolah membuat desainer ransel itu tidak berguna dan Ia teguh dengan pendapatnya, “karep mu lah cuk”. Dalam perjalanan kali ini saya
daulat Ia sebagai pemimpin dan mempersilahkan mengatur segalanya, mulai dari perlengkapan kelompok dan rencana perjalanan. Biasanya di perjalanan lain teman-teman mempercayakan kepada saya. Namun karena beberapa urusan dan tidak bisa fokus untuk mempersiapkan perjalanan ke Semeru ini, saya percayakan saja kepada Woi. Tapi saya belum merasakan kepemimpinannya. Ya, semoga menjadi pembelajaran untuknya juga.

Abrian
Namanya Muhammad Abrian Kusuma, kami sepakat memanggil Ia Abri selama perjalanan ini, tapi saya lebih banyak memanggilnya dengan sapaan “Yan”. Matanya sipit, mirip orang korea, perawakannya sedang-sedang saja, tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk, tidak tinggi dan tidak pendek. Dari cerita selama di kereta, ternyata moyangnya sama dengan saya berasal dari serang juga, namun karena sesuatu hal moyangnya pindah ke Lampung. Ia tidak banyak bicara, dari yang saya nilai, Ia cenderung melankolis dan Plegmatis. Sedikit bicara banyak bekerja dan termasuk pekerja keras. Saya pernah teringat cerita tentangnya ketika melakukan pendakian ke gunung Sumbing. Saat itu ketika melakukan pendakian rombongannya di terpa badai, namun saat yang lain sudah berada di dalam tenda dengan kondisi kedinginan dan kelelahan, Ia satu-satunya yang masih berada diluar membereskan sesuatu. Dari cerita itu saya yakin fisiknya luar biasa, apalagi ia tergabung dengan pecinta alam di fakultasnya.

Alvie
Alvie Deliana, begitu nama lengkapnya. Kerap dipanggil Alvie. Orangnya ramah, Ia baru saya kenal beberapa hari sebelum melakukan perjalanan ini. Ia teman baiknya Woi. Awalnya saya kira ia seorang perempuan karena ‘Deliana’-nya. Saya kira begitu karena waktu sekolah saya kenal seorang adik kelas seorang perempuan bernama Alvi juga. Dari perawakan tingginya mungkin hampir sama dengan saya. Dan punya nasib serupa, sering susah saat mencari sepatu karena punya ukuran ‘big foot’. Di awal saya pernah cerita bahwa saya hanya berdua saat dikereta, yang harusnya bertiga karena satu lagi tertinggal kereta. Dan mas-mas satu inilah yang tertinggal kereta tersebut. Dari ceritanya saat tertinggal, Ia sedang makan, dan kemudian lari mengejar kereta sambil mengunyah makanannya. Dan akhirnya merelakan tiket keretanya hangus dan terpaksa membeli tiket pesawat untuk ke Surabaya untuk kemudian menyusul kami ke Malang. Dari perkenalan saya dengannya, Ia hanya baru kali ini mendaki gunung. Luar biasanya gunung yang akan Ia daki ini adalah gunung Semeru. Untuk masalah perlengkapan yang akan dibawa pun sering berkonsultasi dengan saya atau Woi. Dan Ia adalah salah satu pria melankolis dari beberapa orang melankolis yang ada dirombongan.

Mas Toton
Mas Toton panggilan akrabnya, belakangan saya baru tahu nama aslinya adalah Rudi Nugroho. Mas toton ini adalah orang asli Malang. Ia seorang fotografer handal. Hasil karya-karyanya luar biasa. Ia merupakan anggota rombongan tertua diantara kami bertujuh dan merupakan orang yang paling berpengalaman dalam mendaki gunung Semeru. Karenanya kami andalkan untuk menjadi penunjuk jalan. Saya baru mengenalnya saat saya berada di kota Malang. Jika dilihat dari luar terlihat wajahnya sedikit ‘angker’ namun begitu mengenalnya ternyata orangnya sangat baik. Orangnya terkesan easy going saat ditanyakan pendapat “mas kita lanjut atau istirahat?”, “Oo..bebas gimana anak-anak aja”.

Mas Ricky
Mas Rick begitu ia kerap dipanggil. Nama lengkapnya Ricky Aditya. Ia yang termuda diantara kami. Belum banyak yang bisa saya ceritakan tentang mas Rick ini. Mas rick ini aslinya adalah orang Surabaya. Dilihat dari perawakannya yang kurus tidak jaminan Ia orang yang lemah, Ia buktikan selama di perjalanan dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo Ia hanya menggunakan sandal jepit, gayanya seperti 'AKAMSI' saja.

Mas Rindra
Mungkin dari kami bertujuh, mas Rindra ini yang paling kocak. Selama diperjalanan Ia sempat bernyanyi-nyanyi “asolole” dengan nada lagu syahrini “sesuatu” dan saya tidak tahu apa artinya “asolole” dan ia juga kadang berkelakar khas Jawa Timur. Sama halnya dengan mas Toton, mas Rindra ini juga orang malang. Gayanya mas Rindra juga seperti 'AKAMSI' alias Anak Kampung Sini.

Untuk keperluan camp di Semeru kami membawa dua tenda, jadi salah satu tenda berisikan empat orang dan satu tenda lagi tiga orang. Saat itu saya dalam satu tenda bersama Woi dan Alvie. Sementara tenda satu lagi diisi oleh mas Rindra, Abrian, mas Ricky dan mas Toton.

0 komentar:

Posting Komentar