WHAT'S NEW?
Loading...

Gunung Pinang

Tiga dari admin BackPackerKoprol adalah orang Banten, tapi siapa yang sudah pernah mendaki Gunung Pinang diantara mereka? Belum ada, padahal salah satu dari mereka, yaitu saya, tinggal di komplek perumahan dekat dengan Gunung Pinang yang memiliki legenda mirip dengan cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat.
Foto diambil dari jalur tol Cilegon timur
Konon ceritanya, di daerah pesisir teluk Banten hidup seorang janda miskin dengan anak laki-laki bernama Dampu Awang. Dampu Awang kemudian merantau dan menikah dengan anak gadis dari seorang pemilik kapal yang kaya raya, dan Dampu diangkat menjadi nahkoda. Suatu hari Dampu dan istri beserta pengawalnya berlayar dari negri malaka ke Banten, dan saat sampai ke teluk Banten dampu tidak mengakui ibunya yang miskin. Akhirnya saat Dampu
kembali berlayar, kapalnya dihantam badai angin puyuh dan terlempar jatuh tertelungkup, dan kemudian menjelma menjadi Gunung Pinang.

Gunung Pinang merupakan kawasan PERHUTANI yang kemudian dijadikan daerah wana wisata, milik KPH Banten yang letaknya tepat di jalur utama lalu lintas Serang-Cilegon. Gunung Pinang sebenarnya adalah sebuah bukit yang tingginya hanya 300 mdpl dengan luas 222 Ha. Memang tidak terlalu menantang jika koprorels membandingkan dengan gunung-gunung tinggi yang pasti menjadi kebanggan Indonesia seperti Semeru, gunung Gede, Bromo atau Rinjani. Tetapi kawasan gunung Pinang yang masih sejuk bisa jadi pilihan untuk sekedar berolah raga melewati track berupa jalan beraspal yang sudah disediakan. Untuk mencapai puncak kita bisa berjalan kaki sejauh ± 2 kilo meter.

Pemandangan di dalam kawasan gunung pinang merupakan hutan dengan jenis tanaman campuran seperti diantaranya adalah jati dan mahoni. Sementara dari atas puncaknya kita bisa menikmati panorama pemandangan lepas kota Merak, pulau Burung, dan kawasan situs sejarah Banten Lama dimana disana terdapat situs sejarah kerajaan Banten Girang abad ke-16, masjid agung dan terdapat makam Sultan Maulana Yusuf, anak dari Sunan Gunung Jati.
Panorama dari puncak gunung pinang
Setiap akhir pekan dan hari libur, track gunung pinang selalu ramai oleh pecinta olah raga sepeda gunung. Selain track jalan yang sudah diaspal, Gunung Pinang juga memiliki tack Downhill yang pernah digunakan sebagai ajang International Downhill Championship 2009. Track downhill ini memiliki medan yang cukup berat dan menantang, maka tidak disarankan untuk pemula dan sebaiknya memilih track jalan beraspal.

Gapura selamat datang pada International Downhill Championship 2009


Selain track downhill, Gunung Pinang juga memiliki sirkuit offroad yang merupakan salah satu sirkuit offroad terbaik di tanah air. Bulan November 2011 lalu digelar Kerjurnas Djarum 4x4 Real Adventure di sirkuit ini yang diikuti oleh 22 tim off-roader dari seluruh Indonesia.
Kejurnas offroad di sirkuit Gunung Pinang
Offroader sedang beraksi di sirkuit Gunung Pinang
Sejarah Gunung Pinang
Pada zaman penjajahan Belanda, hutan gunung pinang cukup rapat dan subur. Sampai kemudian mulai gersang setelah ulah penduduk setempat dengan kepercayaan bahwa dengan membakar dan menebang hutan maka akan turun hujan. Sejak ditetapkan sebagai kawasan hutan tetap oleh Dinas Kehutanan pada tahun 1935, kemudian berganti nama menjadi Perum Perhutani pada tahun 1978, kawasan hutan tetap gunung pinang direhabilitasi mulai tahun 1979 sampai dengan 1988, dan suasana hutan gunung pinang digambarkan seperti suasana perang.

Keberhasilan reboisasi dan pembagian tanaman berdasarkan petak memubat kawasan ini dapat dijadikan sebagai sarana pengetahuan dan tempat pengenalan tanaman bagi para pelajar dan umum. Jalan beraspal dengan rute melingkar yang dibuka sejak tahun 1991 bisa juga dilalui dengan kendaraan roda empat, jadi bagi pengunjung yang tidak terbiasa berjalan jauh bisa juga mencapai puncak dengan kendaraan. Selain tempat duduk dan menara pengamat kebakaran, di puncak gunung pinang juga terdapat tempat sampah, jadi pesan penulis jika terinspirasi oleh tulisan ini dan hendak mendatangi gunung pinang, please; "jaga kebersihan, buanglah sampah pada tempatnya". Salam koprol.

Photo by Google Image

0 komentar:

Posting Komentar