WHAT'S NEW?
Loading...

Berburu keramik Kasongan

Yogyakarta atau disebut juga Jogja memang menjadi salah satu kota tujuan favorite untuk berwisata, karena kebudayaan keraton yang masih terpelihara sampai saat ini sehingga Jogja disebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta dalam peta pemerintahan Indonesia. Selain itu Jogja memiliki banyak peninggalan sejarah kehidupan masa lampau yang menarik wisatawan hingga mancanegara seperti candi-candi, tugu dan bangunan-bangunan peninggalan penjajahan bangsa eropa. Daya tarik Jogja lainnya adalah banyaknya desa wisata yang memiliki keunikan sehingga sangat layak untuk dikunjungi, dan salah satu desa wisata yang pernah saya kunjungi sekitar akhir tahun 2002 adalah desa wisata belanja Kasongan.
 

Kasongan adalah sebuah desa wisata yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Terletak di wilayah Bantul, sekitar 6 km ke arah selatan dari alun-alun utara Jogja. Desa wisata dengan hampir seluruh masyarakatnya yang memproduksi keramik ini sudah mulai dikembangkan sejak
tahun 1971 dan terus maju pesat dengan peran seorang seniman besar Yogyakarta-Sapto Hudoyo. Sapto Hudoyo memberikan pembinaan kepada para pengrajin sehingga gerabah yang mulanya hanya polos, kemudian menjadi lebih memiliki nilai seni dan nilai jual tinggi.

Hanya 20-30 menit dari kota Jogja dengan menggunakan bus antar kota, kita akan memasuki kawasan desa wista Kasongan dan disambut hangat dan ramah senyum penduduk setempat di rumah-rumahnya yang disulap menjadi galeri di bagian depannya. Karena saat berkunjung ke desa wisata belanja tersebut saya masih berstatus pelajar SMK, saya tidak memiliki cukup uang saku untuk membeli berbagai hasil kerjaninan yang membuat mata saya begitu takjub. Akan tetapi meskipun demikian berkunjung ke desa Kasongan tetap merupakan hal yang menyenangkan karena para pemilik galeri tidak melarang kita untuk melihat-lihat dan berfoto.

Selain harganya yang murah, keramik dalam ukuran kecil bisa menjadi pilihan sebagai souvenir, dengan bentuk-bentuk yang bervariatif mulai dari bentuk hewan, patung-patung manusia yang digambarkan dengan pakaian khas traditional Indonesia seperti Jawa dan Bali, sampai patung tentara berlukis pakaian perang khas mancanegara. Guci-guci atau pot bunga berbagai ukuran dengan motif lukisan yang indah pasti menggoda untuk yang senang berbelanja dan mengkoleksi, juga tersedia kerajinan bunga tiruan untuk mengisi guci dan pot tersebut.


Nanti jika saya berkesempatan lagi untuk berwisata ke daerah Jogja, saya tidak hanya ingin membeli oleh-oleh dari Kasongan, tetapi juga melihal langsung proses pembuatannya, atau juga mencoba membuat sendiri guci atau keramik Kasongan.

SEKILAS SEJARAH KASONGAN
Sebelum menulis artikel ini saya mencoba mencari tahu lebih banyak tentang kasongan lewat google, dan dari wikipedia baru saya tau bahwa desa yang sekarang dikenal dengan kerajinan gerabah ini adalah sebuah lahan kosong karena dibebaskan dan ditinggalkan pemiliknya pada masa penjajahan Belanda. Warga desa tersebut ketakutan karena menemukan seekor kuda yang mati diatas lahan persawahan milik seorang Reserse Belanda yang mungkin saja akan marah dan memberikan hukuman kejam pada warga sekitar.

Karena banyaknya lahan bebas tersebut, warga desa lain segera mengakui tanah-tanah tersebut lalu beralih profesi menjadi pengrajin alat rumah tangga dari tanah liat, sehingga kemudian berkembang dan terkenal sampai saat ini dengan hasil kerajinan gerabahnya.

Seiring perkembangan jaman, dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir abad ke-20 mempenaruhi penduduk setempat untuk memperluas hasil produksinya tidak hanya produk gerabah, tapi merambah pada kerajinan lain meliputi bunga tiruan dari daun dan pelepah pisang, juga bunga pinus yang dikeringkan, perabotan dari bambu, dan topeng-topengan. Akan tetapi, hasil gerabah tetap menjadi tonggak utama  desa wisata Kasongan.

Foto by Google Image

0 komentar:

Posting Komentar