WHAT'S NEW?
Loading...

Suatu Hari Di Sebuah PAUD.......

Menjadi seorang sosialis, idealis atau apa lah itu namanya, tidaklah mudah. Karna motto hidup saya, "helping others is the due we pay for this life" dan terinspirasi dari lagu Michael Jackson "Heal the World" dengan kata-kata "magic"-nya, "heal the world we living, saving for our children", saya pun memutuskan untuk memberikan pengabdian saya kepada anak, jadilah saya mengajar di sebuah PAUD yang kecil dan yah cukup memprihatinkan. Oke, cukup cerita saya tentang PAUD, karna yang ingin saya ceritakan bukan tentang PAUD saya, tapi apa yang terjadi di dalamnya.

Suatu hari sebuah LSM Anak memberikan sosialisasi kepada anak-anak tentang "Hidup bersih dan sehat". Dimulai dengan hal kecil, "membuang sampah pada tempatnya". Kebetulan mereka juga memberikan sumbangan tempat sampah ramah anak. Kegiatan hari itu sangat menyenangkan untuk anak-anak, karna kelas belajar dengan cara yang "tidak biasa". Kelas dimulai dengan dongeng yang menceritakan akibat dari buang sampah sembarangan, kemudian anak-anak diperkenalkan jenis-jenis sampah yang organik dan yang non-organik serta kemana harus dibuang. Kakak dari LSM itu menjelaskan kalau yang "organik" dibuang ke tempat yang biru muda, dan yang non-organik dibuang ke yang pink. Kemudian anak-anak diminta untuk mengambil sampah yang ada di dekat
mereka lalu mengantri di depan kedua tempat sampah itu. Anak yang membuang sampah yang dibawanya dengan benar akan diberi "award" berupa permen, dan "horeee!!" serta tepuk tangan, hal-hal kecil ini sudah membuat anak-anak senang dan bersemangat. Sejak hari itu anak-anak pun mengerti kalau membuang sampah harus ke tempat sampat dan juga belajar memilah sampahnya.

Beberapa bulan keadaan ini cukup konsisten, saya pun menambahkan pada anak-anak, kedua tempat sampah yang ada di sekolah kegunaannya sama dengan dua tempat sampah yang berwarna biru dan merah yang ada di mana-mana. Jadilah di mana pun mereka memiliki sampah mereka "keukeh" membuang sampah pada tempatnya, walau mungkin mereka merasa aneh, karna orang di luaran membuang sampah asal saja, dan tidak memfungsikan kedua tong sampah itu sebagaimana mestinya. Jadi habbit itu terbentuk sendiri, sampai ada anak yang mengajari ibunya kalau buang sampah itu yang organik harus buang ke tempat sampah yang organik, begitu juga yang non-organik.

Sampai suatu hari, suatu pagi, saat saya sedang menyambut anak-anak yang datang ke sekolah, seorang anak menghampiri saya dan bertanya, "bu, ini dibuang kemana?", sambil menyodorkan sampah kertas, sesaat saya bingung, lalu menjawab, "ke yang biru muda kan, Raya?", jawab dia, "Yang biru muda sama yang pink-nya ngga ada, bu". Buru-buru saya langsung menuju tempat sampah seharusnya berada, dan benar saja tempat sampah ramah anak itu sudah tidak ada, yang ada malah berwarna orens. Kemudian anak itu bertanya lagi, "Bu, jadi Raya buang kemana?", setelah menghela nafas panjang, akhirnya saya menjawab, "untuk sementara buang ke situ saja dulu, Ray". Nasib PAUD berlokasi di Balai RW (balai warga). Sudah sedemikian rupa membangun habbit anak-anak, namun dihancurkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Rasanya kesal sekali.

Setelah diusut rupa-rupanya hari sabtu sebelumnya ada pesta pernikahan dan menggunakan balai RW. Terus karna katanya "kelebihan" tempat sampah dan 'tidak enak dilihat', jadilah tong sampah anak-anak dipindahkan ke gudangnya balai, dalam hati saya berucap kepada bapak penjaga balai itu, "bapak mau saya pindahin juga ke gudang?". Saya pun meminta agar tempat sampah itu dikembalikan ke tempat asalnya, sampai harus berargumen segala. Namun dia malah berkelit, Balai kita dipakai umum, jadi cukup satu saja, tidak perlu banyak-banyak (orang itu nyaris saja saya bungkus dengan trash bag). Saya memberikan argumen agar yang orens itu diganti saja dengan yang ramah anak, namanya juga untuk mendidik anak, dia malah berkelit lagi, repot lah, berat lah, kuncinya sama pak RW lah.. Aihhhh... Karna malas berpanjang-panjang lagi dan demi menghindari pecahnya perang dunia ketiga, akhirnya saya menutup dengan, "pokoknya tolong keluarkan saja tong itu, karna kalau sayang anak ya harus pakai pengorbanan, pak", setelah itu saya meninggalka orang tua itu.

Betapa anehnya, betapa mirisnya, kepentingan anak kalah dengan kepentingan "umum", padahal next generation yang akan jadi penerus kita di masa depan, yang akan kita wariskan bumi ini, siapa? Namun hal sekecil ini pun tidak mendapat perhatian dari masyarakat umum. Tidak adanya rasa tanggung jawab ini padahal yang membuat bumi ini rusak. Dan sebaik-baiknya untuk menyelamatkan bumi ini adalah dengan mengajarkan serta menanamkan habbit yang baik pada anak. Jadi, marilah kita belajar untuk sedikit lebih bertanggung jawab, jika bukan untuk diri kita, ingatlah anak-anak yang adalah next generation kita. Di tangan mereka lah nasib bumi ini dipertaruhkan.

~Children See, Children Do~

Nb. PAUD adalah Pendidikan Anak Usia Dini (pre-school) sama dengan TK

4 komentar: Leave Your Comments

  1. Nah ini yang aku suka, tulisan dengan cerita menggantung dan bikin penasaran. "Jadi tempat sampahnya dikembalikan lagi atau tidak?"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat sampahnya lagi semedi...

      Hapus
  2. jadi bapak mau saya pindahkan juga ke gudang?? hahaha :D

    Hal sepele bagi kita tapi bagi anak-anak akan menjadi suatu prinsip dasar pembelajaran yang akan menjadi kebiasaannya ketika dewasa nanti.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. It's a must! Tanggung jawab kita dalam pembentukan karakter anak yang baik

      Hapus