WHAT'S NEW?
Loading...

Soe Hok Gie: Pecinta Alam yang Nasionalis

Baru saja saya selesai menghapus air mata saya setelah menerima "kejutan" dari Koproler Randu di Facebook page saya. Kejutan indah itu adalah foto memoriam Gie di Semeru lengkap dengan puisi favorit saya, "Sebuah Tanya".

Gie, dengan nama lengkap Soe Hok Gie adalah seorang keturunan Tionghoa yang lahir pada 17 Desember 1942. Dikenal sebagai seorang aktifis, kolomnis, serta pujangga. Saya mengenal Gie lewat buku memoarnya, "Catatan Seorang Demonstran", yang berupa buku harian.


Gie juga merupakan pelopor Mahasiswa Pecinta Alam yang pertama. Idenya atas MAPALA pertama kali dikemukakannya suatu sore tanggal 8 November 1964 pada beberapa rekan mahasiswanya. Dengan bertujuan tiga hal, yaitu:
  1. Memupuk patriotisme yang sehat
  2. Mendidik mental serta fisik seseorang
  3. Mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial

Ide alumnus FSUI diterima dengan baik oleh beberapa rekan yang sama-sama menyukai kegiatan di alam bebas, hingga akhirnya terbentuklah organisasi MAPALA pada tanggal 11 Desember 1964.
Kiprahnya sebagai pecinta alam sangat terkenal di kalangan pecinta alam. Bila seorang pecinta alam belum mengenal atau mendengar namanya belumlah disebut sebagai pecinta alam. Tempat favoorit Gie adalah lembah Mandalawangi di Gunung Gede Pangrango. Gie adalah seorang pemuda yang amat kritis terhadap politik kala itu, namun dia tidak pernah mau terjun ke dunia politik praktis dan lebih memilih untuk melakukan pendakian-pendakian di beberapa gunung. 

Sedang kiprahnya sebagai aktifis sangat dikenal dengan kritikan-kritikannya yang tajam terhadap pemerintahan kala itu lewat beberapa media massa seperti KOMPAS, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia dan Indonesia Raya. Sosok Gie kala itu disegani namun ditakuti, dicari namun dicaci, dicintai namun juga dibenci. Sebagai seorang pemuda Tionghoa, Gie malah memiliki jiwa yang amat nasionalis terhadap Indonesia, dia begitu benci melihat banyaknya ketidak adilan di dunia politik yang mengakibatkan penderitaan pada rakyat. Dia juga menjadi pionir dalam gerakan demonstrasi mahasiswa kala itu yang menuntut TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat) yang isinya penurunan harga bensin yang saat itu melonjak tinggi sehingga sangat membuat rakyat sengsara dan menderita, merombak kabinet DWIKORA dan segera membubarkan PKI.


Seluruh perjalanan hidup Gie yang pernah berumah tinggal di bilangan Kebon Jeruk ini telah dijadikan buku oleh seorang Australia bernama John Maxwell dengan judul Soe Hok Gie - A Biography Of A Young Indonesian Intelectual, yang menandakan bahwa dirinya tidak hanya dikagumi di negeri sendiri, namun juga hingga kancah internasional. Gie juga menolak mengganti namanya menjadi nama Indonesia, di kala banyak orang Tionghoa merubah namanya menjadi nama Indonesia dengan alasan diplomatis. 


Gie mengakhiri perjalanan hidupnya di Gunung Semeru tepat sehari sebelum usianya 27 tahun dalam dekapan sahabatnya, Herman O. Lantang bersama sahabatnya Idhan Lubis yang katanya disebabkan karna menghirup gas beracun kawah Jonggring Saloka. Sebagian pendaki tidak mempercayai alasan kematian Gie karna sebagai seorang pendaki, dia pastilah dapat memperkirakan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya.


Gie sempat dimakamkan di Tanah Abang, namun kemudian akhirnya jenazahnya dikremasi dan abunya ditebar di tempat yang paling dicintainya, lembah kasih lembah Mandalawangi. Sedang prasastinya dapat kita temukan di Gunung Semeru tempat Gie menuju peristirahatan terakhirnya.


Walau Gie menutup tahun di usianya yang terbilang muda, namun kontribusinya terhadap tanah air sangatlah besar dan ini dikarenakan kedekatannya pada alam Indonesia. Hal ini seharusnya dapat selalu menjadi cambuk tersendiri bagi para pecinta alam Indonesia agar menjadi seorang nasionalis seperti yang telah dicontohkan Soe Hok Gie.

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang  tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

~Gie: 1942-1969~

 Tulisan ini kupersembahkan dengan penuh cinta teruntuk kakanda Gie

4 komentar: Leave Your Comments

  1. Pertamax... salam ya buat kakanda Gie :P

    BalasHapus
  2. cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
    yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
    bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
    sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak Pernah Berhenti Berjuang,
      Pecahkan teka-teki malam...
      Tak Pernah Berhenti Berjuang,
      Pecahkan teka-teki Keadilan...

      Hapus
    2. Aku orang malam yang membicarakan terang
      Aku orang terang yang menentang kebenaran oleh pedang

      Hapus