WHAT'S NEW?
Loading...

Semeru, Catatan Seorang Nekat atau Bodoh Part.4


Track Malam dan Ranu Kumbolo

Formasi dalam pendakian gunung Semeru malam itu menempatkan saya untuk berjalan paling belakang, sebagai penunjuk jalan saat itu adalah mas Toton, kemudian disusul dibelakangnya Alvie, mas Ricky, mas Rindra, Abrian , dan Woi. Kami sepakat untuk mengatur ritme jalan kami, 30 menit jalan, 5 menit istirahat. Sesekali saya coba matikan head lamp saya, mencoba berjalan di bawah cahaya bulan, tapi nihil. Rimbunnya hutan menghalangi cahaya bulan sebagai penerang perjalanan kami. Di Awal perjalanan saya memakai jaket berlapis, satu jaket penghangat didalam dan satu windstopper pelapis paling luar untuk mencegah angin dingin menerpa tubuh, kemudian Setelah berjalan cukup lama, keringat mulai mengucur melalui pori-pori kulit, artinya kalori yang ada dalam tubuh mulai terbakar. “fiuuuuh” beberapa kali saya menghela nafas dan menyeka keringat. Jaket inner akhirnya saya lepaskan agar kalori dalam tubuh bisa keluar. Lega rasanya. Setidaknya hal tersebut bisa mengurangi saya berkeringat berlebihan. Artinya, akan ada banyak cairan yang keluar dari tubuh yang bisa menyebabkan saya dehidrasi.

Cukup lama kami berjalan,  dan entah berapa kali break kami beristirahat, disetiap pos yang berada di jalur pendakian kami sempatkan beristirahat, untuk menjaga stamina agar tidak terkuras habis. Selama perjalanan saya menghitung sudah ada 3 pos yang kami singgahi. Disetiap pos ada semacam
shelter untuk bernaung, namun di pos ke-3 keadaannya sangat memprihatinkan, atapnya roboh, mungkin karena ditiup badai.

Suasana malam itu begitu sunyi, suara-suara hewan malam terdengar menyambut ditambah obrolan-obrolan kecil diantara kami, diselingi pertanyaan klise yang ditujukan kepada mas toton, “masih jauh mas?”. Perjalanan kami malam itu butuh konsentrasi penuh, karena jika terjadi kesalahan, hilang folus, kami bisa terperosok kedalam jurang. Jika digambarkan, kami berjalan memutari sebuah bukit dan menjejaki jalan setapak yang berada dipinggiran lereng, disertai alang-alang, sulur pohon, beberapa pohon tumbang dan akar-akar yang melintang di jalan setapak itu.


Akhirnya setelah berjalan cukup lama, kurang lebih 6 jam perjalanan kami sampai di akhir jalur, Ranu Kumbolo perlahan muncul seperti tetesan air raksasa yang jatuh dari langit dan membesar didepan kami. Sebuah danau di ketinggian dengan pohon pinus dan cemara yang berbaris rapi disekelilingnya. Beruntunglah kami saat itu sedang purnama sehingga air danau tampak mengilap diterpa cahaya bulan, tanpa riak, seakan tersenyum tenang menyambut kedatangan kami. Dikejauhan tampak bukit pinus dan barisan cemara layaknya permukaan pinggiran mangkok hijau raksasa yang menjaga danau dengan tenang. Kerlip lampu penerangan dari tenda-tenda pendaki yang bermalam di Ranu Kumbolo malam itu menghiasi pinggiran danau.

Seakan lupa dengan lelah letih sisa perjalanan dan keinginan untuk segera beristirahat, saya melangkah cepat menuruni bukit, kala itu angin lembah menerpa dengan lembut namun dinginnya merasuk hingga ke sumsum tulang. Saya yang mengawali untuk turun, dan disusul yang lain dibelakang. Setelah berhati-hati menuruni jalan setapak yang cukup curam itu kami berada di tanah lapang yang cukup luas. Rasa lelah yang mendera hilang seketika yang kemudian disambut dinginnya udara malam di Ranu Kumbolo membuat saya ingin segera mendirikan tenda dan bergegas beristirahat. Dan beberapa saat kemudian saya terlelap didinginnya malam Ranu Kumbolo.

2 komentar: Leave Your Comments

  1. Huuaa.. racun pengen koprol kesanaa :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh dana gak ikutan sama Babo & Anggi dkk ke Semeru banreng Riyani Djangkaru?

      Hapus