WHAT'S NEW?
Loading...

Semeru, Catatan Seorang Nekat atau Bodoh Part.3

Tungku perapian & makanan ‘maknyus’ Ranupane


Setelah bersesak-sesakan dengan jeep, perjalanan kami lanjutkan menuju basecamp awal pendakian Mahameru. Pukul 17.15 kami tiba di Ranupane yang ramai dengan para pendaki. Sebagian dari mereka baru tiba, sebagian ada yang hendak berangkat melanjutkan perjalanan ke puncak mahameru, dan sebagian lain hendak naik kedalam jeep untuk pulang menuju Malang, ada juga yang hendak mendaftar di posko seperti yang akan kami lakukan. Semua pendaki yang hendak mendaki mahameru wajib untuk mendaftar di pos ini, gunanya untuk mendata siapa saja yang mendaki pada hari itu, setelah turunpun atau hendak pulang, para pendaki wajib melapor kepada petugas, hal ini menandakan pendaki turun dengan selamat.


Makan malam di Ranupane
Udara dingin menyambut kami di Ranupane sore itu, seiring hilangnya sinar matahari senja sehingga memaksa saya untuk mengenakan jaket berlapis. Dinginnya maghrib itu tidak akan saya lupakan, dingin yang jauh lebih dingin jika dibandingkan dengan kota tempat saya tinggal, Bandung. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah dinginnya air Ranupane yang menusuk sampai ke tulang. Hal itu saya rasakan saat berwudhu ketika air yang menempel dikulit dipadukan dengan udara yang sangat dingin berhasil
membuat saya menggigil. Saya cuma mampu berucap, “Masya Allah..dinginnya pool!”. Dan saya pun melaksanakan sholat magrib dalam keadaan yang hampir membeku.

Setelah selesai sholat kami putuskan untuk briefing, 7 orang personil gabungan ini terdiri dari, mas Toton, mas Ricky, mas Rindra, Alvie, Abrian, Woi dan saya sendiri. Saat itu kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo, dengan pertimbangan fisik anggota tim yang masih segar bugar, dan untuk memudahkan perjalanan selanjutnya. Sebelum melanjutkan perjalanan kami putuskan untuk isi ‘bahan bakar’ dahulu. Segelas teh manis hangat, terasa nikmat di lidah hingga kerongkongan. Rumah warga yang disulap menjadi rumah makan menyambut kami dengan tungku perapian di tengah-tengah ruangan, sepertinya khas rumah-rumah yang ada di Ranupane, dengan menu sederhana tapi terasa nikmat, sayur lodeh, telur dadar dan nasi hangat menjadi sumber energi kami untuk perjalanan nanti, “maknyus” seperti pak bondan bilang. Semua personil lahap menyantap makanan yang tersaji, sambil duduk menghangatkan diri di perapian.



Kemudian kami persiapkan diri untuk segera berangkat meneruskan perjalanan, lampu senter dan headlamp dikeluarkan dari carrier masing-masing, siap untuk digunakan. Malam yang begitu indah, rembulan yang hampir purnama menerangi malam itu, ditambah dengan bintang-gemintang disekelilingnya, menambah kesan syahdu perjalanan kami. Doa kemudian dipanjatkan seraya memohon izin pada sang Kuasa, agar kami diselamatkan dari mara bahaya dan pulang kembali dengan selamat. ”treekk” senter dan headlamp dalam posisi “on”.

Langkah-langkah kecil malam itu bersegera meninggalkan Ranupane. Kemudian saya coba untuk mengingat-ingat perjalanan yang dilakukan oleh Genta dan kawan-kawan dalam novel '5cm', “Oh, itu rupanya yang dilihat Ian pada malam hari di Ranupane”. Pagar gerbang pemakaman jelas terlihat dibawah cahaya bulan. Saya tidak berani untuk memperhatikan lebih lama, karena yang ada dibenak saya adalah mengingat penyebab adanya nisan-nisan itu. Baru sebentar berjalan, kami berhenti sejenak didepan gapura selamat datang yang sengaja dibangun untuk para pendaki, dan memberi kesempatan kepada Woi untuk menyalakan GPS-nya, menandakan awal pendakian kami.

Saat itu arloji saya menunjukkan pukul 20.30, Kaki kami mulai mengayun, melangkah menyusuri jalan desa sebelum akhirnya masuk kedalam rimba hutan melalui jalan setapak. Dalam dingin gelap malam langkah-langkah kecil menyusuri jalan yang telah disusun dengan paving blok. Debu-debu yang berterbangan karena terinjak-injak, menghalangi jarak pandang kami. Hidung dan mulut kami harus ditutup dengan masker atau merelakan menghirup debu itu masuk kedalam saluran pernafasan. Jalan kecil itu kian menanjak, nafas kami tersengal-sengal karena kesulitan bernafas ditengah debu dan kelelahan. Sampai akhirnya kami akhirnya berada di jalan yang cukup landai. Kami memastikan semua anggota tim untuk bernafas dengan lancar. Mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan. Perjalanan kemudian kami lanjutkan menembus rimbunnya hutan, pohon-pohon besar dan ranting dedaunan.

4 komentar: Leave Your Comments

  1. ini kayaknya bakal jadi cerita yang memiliki bagian paling banyak heeheee eh udah ada emo nya ia? :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... part 4 udah ngantrii mau di posting, part 5678 lagi ditulis Randu :D

      Hapus
  2. Mana foto koprolnya nih..;hehehe

    Salam kenal..:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal :D yuk gan koprol bareng trus difoto nanti...

      Hapus