WHAT'S NEW?
Loading...

"Sebotol kecil Pasir dari Mahameru"

Apa yang mendorongmu untuk melakukan travelling?
 Mencari pengalaman baru?
 Menikmati sebuah pemandangan yang tiada biasa?
 Sekedar mengisi waktu kosong?
Atau mencari momen di mana adrenalinmu bisa dipacu maksimal?

Buat saya, semua jawaban di atas benar, selama kita punya jawaban atas setiap pertanyaan tersebut.

Dan itulah yang juga saya rasakan ketika melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Semeru. Menantang pengalaman baru di medan yang belum pernah saya jejaki sebelumnya. Satu hal yang selalu diingatkan oleh teman saya, Gilang, pada hari-hari persiapan,


 "banyak-banyak lari, vie, latihan cardio, biar badannya siap" 

Persiapan fisik yang matang (bukan kuat #noted) nampaknya merupakan syarat wajib buat para pendaki gunung. Bagaimana tidak, bayangkan kita mendaki gunung dalam keadaan sakit, baru jalan puluhan menit, keliyengan, bahkan bisa pingsan. Kita sendirilah yang seharusnya sadar dengan fisik kita, dan batasan yang kita miliki.

"Kalau bicara kesadaran diri, berarti kita yang ngerasa lemah ini ga akan pernah bisa naek gunung? T_T " SALAH BESAR. Merasa lemah bukan berarti fisik kita lemah (#noted). Meyakini
diri kita lemah, maka akan melemahkan pula fisik kita. Dan sebaliknya, meyakini kalau diri kita kuat, maka akan menguatkan diri kita pula. Itulah salah satu pengalaman yang saya rasakan dalam perjalanan mendaki Gunung Semeru. 

 "KEKUATAN MENTAL" 

adalah kekuatan mental, sebuah formulasi mimpi, semangat, keyakinan, dan kemauan. Adalah kekuatan mental pula, yang tetap membuat saya mendaki menuju Mahameru dalam keadaan cedera otot kaki. Cedera otot kaki? Ya, sebuah kecelakaan lucu yang terjadi pada pendaki gunung pemula ini, salah dalam langkah ketika mengambil ancang-ancang memanggul backpack yang berukuran 75 liter. Alhasil otot kaki di antara betis dan lutut saya mengalami cedera. Tidak terlalu berat, namun cukup membuat saya lebih cepat lelah menahan rasa yang ditimbulkan. Di saat seperti itu, saya ingat Randu berujar, 

"Kalau udah mendaki gunung itu, udah bukan bicara fisik, vie, Mental. Cewek pun kalau mentalnya sudah kuat, mendaki gunung mah gampangg. Cowok juga bisa kalah.." 

Saat poto ini diambil, kupikir langkahku selesai di Kalimati 
Adalah luar biasa teman saya, Randu dan Gilang, begitu sampai Kalimati, Jumat dini hari mereka melanjutkan pendakian ke Mahameru. Saya dan teman saya, Brian, tidaklah sanggup untuk ikut serta, terutama dengan kondisi kaki saya, kalaupun ikut, yang ada menjadi pengganjal perjalanan mereka. Tengah malam itu saya merasa sangat sedih, karena saya sadar, saya tidak mampu "muncak" dalam keadaan seperti ini. Rencana kami, Jumat siang ini kami akan turun dari Kalimati dan melanjutkan perjalanan pulang. 

Saya yang sudah berpikir kami akan turun Jumat itu, akhirnya mengisi pagi hari di Jumat itu dengan mengambil air di Sumbermani, sarapan dan tidur-tidur siang. Sempat kuberpikir kalau pendakianku ini adalah sebuah perbuatan sia-sia. Namun kutampik kembali hal tersebut, kuingat kembali bahwa sejauh yang saya alami, banyak keindahan ciptaanNya yang tiada habis dapat kita syukuri di setiap perjalanan ini. Sampai satu waktu, setelah kepulangan dari perjalanan nekat Randu dan Gilang (lebih lengkap bisa dibaca di sini), Brian berkata, 

"Kayaknya gw mau muncak deh malem ini, nanggung juga, udah sampai sini. Kalau kalian mau turun, duluan aja. Nanti gw nyusul aja."
  
Hal ini akhirnya menjadi wacana rombongan kami, sayup-sayup di antara tidur siangku, akhirnya kudengar diskusi tersebut, lalu saya terlibat, sampai akhirnya,  kalimat-kalimat "lucu" dari teman-teman pun bermunculan, 

"Ayo, vie, muncak, udah sampai di Kalimati, udah ketinggalan kereta dan sampe bela-belain naek pesawat ke sini, masa ga ke Puncak?"  

"Masa kalah sama cewek, vie? Tuh lihat rombongan itu, ceweknya juga ada yang muncak!"  

"Sekali seumur hidup, vie, belum tentu ada waktu lagi ke sini lagii~" 

akhirnya saya memutuskan untuk mendaki ke puncak Mahameru. Dengan persiapan yang matang, sebagian besar peralatan berat pendakian kami simpan di tempat berkemah, Kalimati. Dengan berbekal air minum 2 liter dalam blader berselang, jaket tebal, dan celana double training+kargo, sarung tangan, kupluk hangat, makanan-makanan yang cepat terserap tubuh, seperti madu dan biskuit, dan tongkat kayu, akhirnya pada pukul 22.00 WIB kami berangkat untuk menaklukan puncak Mahameru, melewati Arcopodo terlebih dahulu. 

Kalau orang bilang di daerah Arcopodo ada dua arca, kami tidak menemukannya. Salah dua alasannya adalah, mungkin karena bukan arca tersebut yang menjadi tujuan kami dan kedua, kondisi malam hari. Sehingga, untuk dapat melihat perbedaan antara tanjakan dan tepian tanah, dengan petak jalan yang hanya cukup untuk satu orang saja, saya sudah bersyukur. Untungnya dengan keberangkatan kami yang "cukup pagi", kami tidak harus berjalan mengantri berdesakkan dengan banyak orang. Tapi bukan berarti kami dapat mendaki santai. Penetapan waktu 5-10 menit jalan, 2-3 menit istirahat, adalah ritme yang kami tentukan dalam pendakian ini. 

Perjalanan yang lebih menantang pun dimulai dari batas akhir Arcopodo, titik terakhir wilayah vegetasi, berganti dengan tanjakan gunung berhiaskan pasir dan bebatuan. Pendakian dengan sudut sekitar 60% itu bukanlah hal mudah, rasa sakit di daerah hamstring tendon yang selalu menggigit acapkali saya mengangkat kaki kanan melebihi perut saat melangkah naik, menjadi sebuah ketakutan di dalam diri saya,  

"Cedera kaki ini mungkin akan bertambah parah"  

Teman saya yang tadinya berjalan dengan tegap pun berubah-ubah posisi dari berdiri, membungkuk, merangkak, sampai merayap, karena kondisi fisik yang lelah dan terjalnya bukit pasir. Adalah dengan mencukupkan istirahat dan mengonsumsi makanan minuman yang cukup yang kami lakukan untuk menghadapi hal ini. Beberapa pendaki baru pun menyusul kami, setiap berpapasan dengan mereka, rasa lelah yang sama-sama kami rasakan mungkin membuat suasana terasa dekat dengan mereka, senyum dan sapa selalu terjulur manis dari mulut ini. 

Rasa lelah yang berakumulasi dalam diri saya akhirnya kian terasa. Waktu pendakian yang semula 4-5 menit, kini hanya 3-4 langkah. Satu hal yang selalu saya ingat adalah perkataan Gilang selepas pendakiannya di malam sebelumnya,  

"Kalaupun istirahat, jangan tidur, vie, kalau tidur, nanti jadi males naik gunungnya" 

Masa sih? padahal kalau tidur badan kita bisa lebih bugar lagi. Benar, tapi itu seandainya kondisi tempatnya tepat, bukan di medan seperti bukit pasir Semeru ini. Saya hanya bisa menerka, tidurnya kita di perjuangan seperti itu, akan membuat api semangat kita padam.  

Di titik tersebut, saya mengingat kembali niat dan tujuan saya, semua pengorbanan yang sudah saya lakukan, teman-teman saya yang sejauh ini sudah men-support saya dalam perjalanan ini, dan besarnya bantuan Tuhan dengan memberikan cahaya bulan purnama yang luar biasa terang. Tidak ada lagi kekuatan motivasi yang lebih besar dari apa yang saya rasakan malam itu, semangatku berkobar kembali, seakan menambah pundi tenaga yang ada di tubuhku. Setiap satu langkah yang saya lalui, seribu potret imaji motivasi berseliweran di hadapanku, membuatku tetap bertahan. Terlebih ketika kumelihat kibasan cahaya lampu dari teman pendaki yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak di tepi puncak, sempat kukira itu adalah bintang, namun karena dia bergerak, segera kusadari itu adalah gerakan lambaian tangan seseorang. 

MELANGKAH ... DAN TERUS MELANGKAH NAIK ...  

Pasir batu seakan tiada mampu membendung keinginanku. 
Terkadang ku terseret turun karena pijakan yang tidak stabil 
Namun tiada rasa menyerah yang kurasa, tetap kumelangkah naik  

Bergantinya bukit pasir menjadi barisan mayoritas batu besar, menandakan pendakianku sudah hampir mencapai tujuan. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya yang juga mengejar terbitnya matahari pagi pun merasa mulai takut tidak terkejar. Jalan ke atas semakin sulit, semakin terjal.  

jarak 100 meter ke atas, tidak sama dengan 100 meter berjalan di daratan. 

"BENTAR LAGI PUNCAK!" adalah sebuah kalimat layaknya pedang bermata dua.

Di satu sisi dia mampu mengeluarkan tenaga yang tersembunyi, di sisi lain, setelah menempuh beberapa langkah, ekspektasimu akan dihadapkan kepada sebuah pemikiran lain, 

"TERNYATA MASIH JAUH, GAK SEDEKAT ITU, TAPI GUE SUDAH CAPEK.." 

Yakinlah, dan terus melangkah maju  
Yakinlah, dan tetap berpikir positif dan optimis  
Yakinlah, dan tetap atur ritme langkah dan istiratmu  
Yakinlah, dan percayalah kamu akan berhasil 

Saya di Puncak Mahameru
Pukul 5 pagi hari, akhirnya saya berhasil mencapai Puncak Mahameru. Sebuah pemandangan lanskap dataran pasir batu luas kini hadir menggantikan bukit pasir yang menemaniku selama 5 jam perjalanan. Sensasi luar biasa itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, langsung saya bersujud syukur, itulah satu-satunya ekspresi rasa yang bisa menggambarkan kebahagiaan pada saat itu. Pelan-pelan saya mulai melangkah maju, mendekati khalayak yang sudah terlebih dahulu sampai. Mereka berfoto, bersenda gurau, sambil menunggu sang fajar tampil di ufuk sebelah timur. Menggunakan pakaian yang super tebal, jaket inner dan outer JackWolfskin serta balutan kafayeh bermotif kotak biru putih, ternyata tidak sanggup menahan dinginnya udara dan pelukan angin kencang di puncak gunung itu.

Hal pertama yang disadari dan pusingkan adalah ketika saya tidak mengetahui ke mana arah kiblat untuk melaksanakan Sholat Shubuh, karena saya pun tidak menggunakan jam tangan yang berkompas, sehingga saya harus menanyakan orang-orang terlebih dahulu untuk memastikan hal tersebut. Hamparan lukisan Tuhan mulai dari langit pagi yang cerah, munculnya matahari pagi, serta barisan gunung mampu membuat kita terlena untuk bertahan lebih lama di atas sana.

Pukul 7 pagi, sesudah melakukan potret-potret ringan dan rekaman video untuk dokumentasi, serta mengambil sedikit pasir sebagai kenang-kenangan, akhirnya kami turun dari Mahameru. Perjalanan luar biasa ini belumlah usai, kita masih harus menempuh perjalanan pulang yang tidak sebentar. Mari kencangkan tali tas carrier, cukupkan menghimpun energi dari makanan, dan kembali menguji fisik dan mental kita, untuk kembali ke kehidupan hari-hari kita, menceritakan sedikit cerita yang memesona ini lewat sebotol kecil pasir dari Puncak Mahameru.

"Pasir Puncak Mahameru" Simple namun menyimpan banyak cerita.

20 komentar: Leave Your Comments

  1. Balasan
    1. masih belajar posting, masbro, thx buat komennya :)

      Hapus
  2. Mahameru lagi -_- jadi pingin kesana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke sana lah mbak Noe, banyak kan tuh anak2 yang pada mau ke sana, ada Latif, Babo, Dana, Herry, ngomong2 deh ke mereka, koprol bareng ke Mahameruu XD

      Hapus
    2. rencana mereka bulan november klo gak salah, aku gak bisa cuti panjang selama akhir tahun sampai dg bulan Februari tahun berikutnya. however aku punya tg jwb kerjaan.. ;)

      Hapus
  3. Dan mungkin gue bakal nangis saat mencapainya..... T^T Hiksss.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. pastinya nangis syukur yah, luar biasa berat perjuangannya mendaki ketinggian 3676 mdpl itu :)

      Hapus
  4. Keren...selalu terharu baca kisah ataupun mendengar cerita teman yang abis dari Mahameru...mupeng tapi memang butuh persiapan fisik dan mental tentunya,,,,mudah-mudahan di suatu hari di tahun 2013, Mahameru....Salam Kenal.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih udah berkunjung n ngasih komentar, salam kenal juga, naff :)

      bener banget, kalau mau trekking naek gunung harus siap segala sesuatunya. Fisik, mental, dan peralatan tempur yang dibawa ke Semeru, terlebih kalau kita berniat buat sampai puncak gunung, bukan hal yang mudah (mengingat lama perjalanan saya yang awam ini, sampai 7 jam perjalanan)

      Semoga mimpinya bermain ke Semeru tercapai yaa, menikmati kekayaan alam milikNya, sambil tak lupa tetap menjaganya juga

      Hapus
  5. hemmmm...klo lo bisa...gw juga bisa kali ya hehehe...well like u said, selain fisik juga mental harus siap...never give up, jadi inget pas pertama muncak di Gn Gede...selangkah demi selangkah...hehehe...OK next..my dream destination, Mahameru! sampai jumpa nanti...thx vie bwt sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Devi, lo kapan mo ke Mahameru? gue tetep.. maunya nanti 4 tahun lagi :D

      Hapus
  6. subhanallah,, ampe berkaca2 baca ini.. mau nanya donkk ,,,SOLAT nya gmn pas di puncak bang??tayamum kah??tayamum itu kan harus kena kulit bukan?terus?melepas jaket dan sepatu donk??

    BalasHapus
    Balasan
    1. pas sholat di puncak? sholat gitu aja kok, haha. Paling nanya kompas dan tanya2 orang. karena gak terlalu ngerti arah kiblat dengan patokan matahari terbit

      Tayammum kan menyeka bagian muka dan lengan dengan debu yang suci mensucikan, dilipat aja bajunya sampai lengannya terlihat dan bisa disapu dengan debu tersebut. Gak harus sampai lepas sepatu kok :)

      Hapus
  7. Bang, apa tips nya selain semangat dan mental dalam mencapai mahameru? Apa perlu sepatu khusus banget ya? Kebetulan saya mau ke sana mei nanti, terutama saya tanya tentang mendaki bukit pasir yang gampang merosot itu, gimana mengantisipasinya? thengkyu ya Bang

    Alberto (salam kenal)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal yang perlu diperhatikan:
      1. Dari resort TNBTS, pendakian yang diijinkan itu hanya sampai Kalimati, jadi pendakian ke puncak merupakan pendakian ilegal. Jadi perlu dicamkan bahwa keselamatan diri pribadi itu sangat penting, jangan merepotkan orang lain ketika naik dan turun pendakian

      2. sepatu khusus banget gak perlu. Alat naik yang saya gunakan cuma 4: sepatu gunung, tongkat kayu panjang yang saya temukan dalam perjalanan (ada 2 lebih baik), dan tangan kaki saya. Sisanya diserahkan sama mental dan fisik masing2. karena sehebat apapun alatnya, kalau kitanya sendiri payah, gak bisa jaga kesehatan, dan maksain gak jelas, yang ada malah merepotkan diri sendiri (bisa kecapekan di tengah perjalanan) dan bahkan orang lain (temen pendakian gagal muncak gara2 kita capek dan mau turun)

      3. Tips: Siapin fisik. Atur Nafas dan ritme pendakian. Gunakan alat bantu, semacam tongkat panjang (pole), siapkan makanan minuman ringan cepat diserap tubuh yang cukup

      Hapus
    2. Ok thanks banget masukan dari anda. Apakah pendakian 5cm juga ilegal bang?
      Yah, hope for the best aja lah buat mei nanti, entah sampai mana mendaki.

      Hapus
    3. Kalau bicara FILM:
      klo dibilang ilegal sih mungkin enggak yah. Karena pastinya itu udah kerjasama dengan pihak dari TNBTS itu sendiri. Dan ada pihak yang dari TNBTS yang pasti juga memastikan klo puncak dalam keadaan aman untuk didaki saat itu.

      Kalau bicara buku dan kita:
      Ya, berarti gimana caranya kita harus bisa memastikan kalau naik ke atas itu gunung dalam kondisi aman didaki. Semangat ya, jaga kesehatan n fisik!

      Hapus
  8. merinding baca'y.. -___-")
    thx banget buat infonya.
    jadi makin tau.

    BalasHapus
  9. pengen kesana ,,
    tapi dah di tutup.,.,.
    siallllll

    BalasHapus
  10. Kacau banget bawa pasir Mahameru. Untung gak kenapa-napa lo. Hahaha.

    BalasHapus