WHAT'S NEW?
Loading...

Pendakian Pertamaku, Part.3



Sekeping Hati di Gunung Gede

Written by. Latif Handayani

Senyum kemenangan di Surya Kencana
Dalam keadaan yang sudah sangat kelelahan saat mendaki Gunung Gede, saya terus menyemangati diri saya sambil memperhatikan pohon yang saya lewati. Pohon bisa dijadikan patokan sejauh mana kita berjalan, dari buku yang saya baca bahwa apabila pohonnya sudah mulai pendek berarti kita sudah berada di tanah yang tinggi. Sedikit kekecewaan dalam hati saat saya perhatikan pohon yang ada di sekeliling saya tingginya masih sekitar 4 meter, seharusnya dari informasi salah seorang teman saya bahwa tinggi pohon di puncak hanya sekitar 2 meter. 

Sambil terus berjalan saya dan Dana sesekali bercanda, "kita harus memendekan pohon-pohon ini 2 meter lagi" ucap saya kepada Dana dan kami tertawa. Saya kembali memotivasi diri "Saya pasti bisa sampai ke puncak", semangat itu masih ada
bahkan membara di antara kelelahan yang ada.

Hari sudah mulai sore, sinar matahari terlihat menembus celah-celah lebatnya pepohonan, udara sudah mulai dingin. Saya dan Dana bertekad untuk sampai di Surya Kencana sebelum malam, karena kami tak mau berlama-lama berjalan dalam track-nya gelap dan udara yang sangat dingin, sememtara jaket dan baju hangat milik saya ada di dalam ransel daypack yang dibawakan oleh temen saya dan entah sudah lebih dulu berjalan jauh di atas dan saya tidak mampu mengekarnya.

Jalan setapak yang terus menanjak membuat saya menjadi badmood, dan saya terus berjalan dengan menundukkan kepala sampai pada suatu titik di mana ada jalan yang agak membelok ke kiri dan landai. Saya sangat tertarik untuk melihat ke sebelah kiri yang semakin terang. Smula saya fikir itu adalah cahaya matahari jingga yang dipantulkan oleh dinding bukit. Rasa ingin tahu yang besar membawa saya terus berjalan dan semakin dekat pada tempat terang tersebut, dan akhirnya mata saya terpesona oleh tanah lapang yang luas sekali dengan tumbuhan yang pendek, rumput kekuning-kuningan disinari cahaya matahari sore dan..., Edelwais...

Saya langsung berteriak histeris sambil berlari-lari di padang itu, menciumi gerembolan  Edelwais, dan sesekali memeluk sahabat saya Dana. Segala cerita kegembiraan tumpah di sana, diantara tumbuhan bunga abadi yang menakjubkan. Hilang sudah rasa lelah selama perjalanan. Sebuah senja di Surya Kencana yang indah, tak lupa kami berfoto dan tak henti-hentinya mengagumi pemandangan yang ada di hadapan kami. Rasanya saya baru saja mencapai sebuah mimpi yang sudah lama sekali tersimpan, lalu menjadi kenyataan. Keindahan yang membuat saya tak mampu lagi berkata-kata dan hanya berucap: “Subhanallah”.


Sebuah perjalan panjang bagi saya dengan seribu cerita yang menemani selama mendaki Gunung Gede. Pendakian yang hampir membuat saya putus asa, ketakutan saya memuncak, dan tunas kebahagian saya yang kemudian muncul. Sebuah perjalanan dimana saya benar-benar merasakan bahwa cuma ada saya, alam dan Allah Sang Pencipta. Pendakian berat dimana saya harus melawan diri saya sendiri, untuk bertahan dengan keyakinan yang ada. Perjalanan di mana saya benar-benar ada di titik 0 kehilangan diri saya, dan kemudian saya kembali lagi menemukan diri saya yang sesungguhnya.

Sebuah perjalanan yang tak akan pernah saya lupakan. Pendakian pertama saya ke gunung untuk menikmati alam ciptaan-Nya yang sudah lama sekali saya inginkan, dan Gunung Gede adalah tempatnya. Saya sudah meninggalkan kepingan hati saya di sana yang suatu saat mungkin akan saya ambil untuk diganti dengan kepingan hati yang lainnya yang entah tentang apa.

Yogyakarta, 6 Juni 2012

4 komentar: Leave Your Comments

  1. gue merinding cuyy bacanya.. haha..

    missing that moment. tapi perjuangan belum berakhir kan sampe surken? kita harus berjuang lagi melawan gigitan dinginnya angin senja surken dengan keadaan baju basah, gelap, dan kelelahan 101% , harus teriak "LIMAAAAA..."
    bagaikan anak ayam kehilangan induknya..

    sejujurnya, ada rasa takut kala matahari mulai menyembunyikan dirinya senja itu, tapi gue harus mengabaikan pikrian2 negatif.. haha.. dan finally, setelah hampir putus asa (ngelempar daypack dan duduk di tanah sekenanya) ada yang menemukan kita :D hihi....

    OUR FIRST KISSING eh HIKING ya cuuy *hug* hahahahaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah!! saatnya nagih tulisan lanjutan dari Hani yang katanya lagi sibuk mau wisuda. atau... dana aja deh yang nulis lanjutannya :D *ide bagus*

      Hapus
  2. nah. bagain yang dari malam sampai turun dicibodas dan balik ke kosan itu bagian Dana heeheee..Alhamdulillah, akhirnya hari ini gue wisuda. semoga besok udah bisa nulis lagi. o ia yang baru dari papandayan bolehkali bikin ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hani, jangan memulai apa yang tidak bisa kamu selesaikan. ayo! masih inget quote itu? jgn serahkan tugas pada Dana. :D

      Hapus