WHAT'S NEW?
Loading...

Pendakian Pertamaku, Part.2


Medan Berat Gunung Gede & Jawaban Menyebalkan

Written by. Latif Handayani

Sekitar pukul 12 siang saya dan teman-teman yang hendak mendaki ke puncak Gunung Gede tiba di pintu gerbang, dimana nanti kami akan mulai mendaki dari gunung Putri. Medannya Langsung menanjak melewati kebun sayur milik penduduk setempat, saya dengan sekuat tenaga memompa semangat untuk kekuatan saya, meskipun tetap saja saya kelelahan. Sampai di pos pertama saya sudah mulai merasakan pegal, untungnya kelompok saya ada yang minta izin untuk ke toilet, jadi kami bisa beristirahat sejenak, kemudian kami break makan siang di dekat sumber air. Kekeluargaan mulai terasa disana.


Sekitar pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan, medan terjal menghampar di depan mata. Saya mencoba menyemangati diri saya, tapi begitu memasuki jalur pendakian semua kekhawatiran yang selama ini saya simpan di benak malah dengan 'brengseknya' keluar satu persatu dari otak, menari-nari dengan lucunya membuyarkan konsentrasi saya untuk mendaki. Sampai akhirnya saya merasa beban yang saya pikul jauh lebih berat dari daypack gendut yang ada di punggung saya, saya beberapa kali break untuk beristirahat dan mengatur kembali emosi, antara dzikir dan memaki saya terus bertahan dalam pasrahnya saya menghadapi perjalanan hebat sampai tak terasa mata saya sudah begitu berat menahan bening, dan saya
berharap tak ada yang mengetahui hal ini, termasuk sahabat saya Dana yang berjalan dekat sekali dengan saya.

Ditengah kebingungan, saya mencoba menggenggam tangan Dana, berharap mendapatkan aliran semangat baru. Setengah memaksa saya meminta dana untuk mengatakan kalimat motivasi; “Dan, bilang ke aku kalau aku bisa menjalani ini semua, bilang ke aku sekarang, Dan‼”. Dana yang tidak begitu mengerti dengan apa yang saya rasakan saat itu langsung menuruti permintaan saya.

Semakin jauh saya berjalan, semakin berat beban yang saya pikul, baik fisik maupun mental, sampai akhirnya saya tidak bisa lagi menolak saat daypack saya diambil alih oleh salah satu temen saya, dan saya diberi tugas membawa tas selempang berisi penuh makanan yang ukurannya lebih kecil dari daypack saya. Akan tetapi ternyata bahwa tas selempang itu bebannya lebih berat, karena cuma separuh padan saya yang menopang tas tersebut. Sampai akhirnya tas selempang itu diambil alih lagi oleh temen saya, sehingga hanya saya hanya membawa tas kecil berisi headlamp, coklat, madu rasa, HP dan barang-barang kecil lainya tanpa air minum, sehingga saat kehausan saya  harus meminta kepada teman yang berjalan bersama saya  saat itu. 

Semakin tinggi medan dan semakin berat berat lagi perjalanan yang harus saya lalui, tetapi fikiran saya sudah lebih baik dan positif, dan fisik saya yang sudah mulai terbiasa dengan medan saat itu. Agaknya saya berjalan dengan lambat dan tidak bisa mengimbangi teman-teman kelompok saya. Saya sempat melihat  beberapa dari mereka di depan saya, tapi kemudian menghilang  di balik pohon-pohon yang lebat sekali. Saya terus berjalan bersama siapa saja yang juga peserta pendakian massal, ada dari pihak panitia ada juga peserta dari kelompok lain, sampai akhirnya saya menemukan Dana yang tadi sempat ada di depan saya,  dan sepertinya Dana juga sudah mulai merasa sangat kelelahan.

Selama perjalanan saya tak henti bertanya “Masih jauh ya? Kira-kira berapa jam lagi?” dan saya selalu mendapat jawaban menyebalkan “Sebentar lagi kok, nggak lama lagi, ayo semangat!!”. Jawaban yang sangat tidak saya harapkan, karena saya yakin jalan masih panjang. dalam hati saya bersungut-sungut “Jujur aja kenapa sih? Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian atas kebohongan ini”, haha.. saya tertawa sendiri jika teringat saat itu.

2 komentar: Leave Your Comments