WHAT'S NEW?
Loading...

Pendakian Pertamaku: Part.1 Repotnya Persiapan

Written by. Latif Handayani


Novel “5cm”, semuanya berawal dari sini. Novel yang sudah saya abaca entah untuk keberapa kalinya, kemudian pesan singkat dari teman saya Dana masuk di Blackberry Messengger (BBM) saya dan mengatakan bahwa dia ingin sekali meminjam novel tersebut. Kebetulan saat itu saya menjadikan foto novel itu untuk Display Picture BBM. Novel itu memang super inspiratif, membuat saya semakin ingin untuk hiking. Banyak sekali hal yang membangunkan sisi lain dalam diri saya yang masih “tidur”.


Kemudian saat Dana mengajak saya untuk hiking, tentu saja saya tidak menolak, dan ternyata dia memiliki link pendakian massal Mapala Rafflesia UNINDRA. Dengan mantap saat itu saya bilang, “ya, aku mau”.
Kami mulai mengatur rencana, waktu, finansial, mental, dan fisik. Meski saya merasa sedikit bingung, menapa saat itu tanpa ragu men-iya-kan ajakan Dana, padahal saya sedang dalam masa Tugas Akhir (TA) kuliah, ditambah Kerja Praktek (KP) yang belum selesai (saya kerjakan), dan banyak aktifitas organisasi ke-mahasiswa-an di kampus, semua itu membutuhkan fokus, tapi saya terus memotivasi diri saya “Saya pasti bisa!”.
Saya kembali mematangkan rencana yang sudah saya susun, sebelum saya pergi ke Yogya untuk research TA di sana. Selama saya berada di Yogya, saya merasa tidak tenang, sementara Dana terus memberikan update check list persiapan untuk ikut pendakian massal, agak merepotkan sekali memang, karena saya dan Dana masih terhitung newbie.

Kamis, 26 April 2012, saya baru sampai kembali di Bekasi, saya checklist lagi barang-barang yang harus saya bawa setelah perjalanan panjang malam hari dengan bus. Ternyata barang yang saya butuhkan masih banyak yang kurang, tapi masih ada waktu 2 hari untuk melengkapinya. Dan dalam waktu 2 hari tersebut saya harus pontang-panting mencari pinjaman kepada teman. Saya nyaris putus asa saat salah seorang teman tiba-tiba tidak menyanggupi sepatu tracking yang tadinya akan dipinjamkan kepada saya. Saya sempat merasa stres, tidak tahu harus mencari kemana lagi, waktu sudah semakin sempit, padahal sepatu trekking itu sangat penting dan tidak mungkin saya beli dalam kondisi seperti ini, dan mengingat harganya yang mahal.

Kemudian saya ingat seorang teman dari om saya yang memiliki toko adventure. Tanpa pikir panjang saya langsung curhat padanya om saya, berharap om bisa membantu. Dan Alhamdulillah siangnya saya diajak bertemu dengan teman om saya tersebut dan saya dibelikannya matras dan sepatu, waah…, saya senang sekali… Sehingga saya pun pulang dengan wajah sumringah sambil joget kegirangan, walaupun saya merasa badan sudah sangat drop. Seharian saya gunakan untuk mendapatkan semua barang yang saya butuhkan, termasuk sleeping bag yang rencananya saya pinjam dari Bang Sukro dan sudah membuat janji untuk bertemu pagi hari, tapi ternyata baru bisa bertemu jam 4 sore.
Esoknya, hari Jum’at pagi saya berangkat ke kampus dengan 1 daypack besar penuh, plus menenteng 1 kantong besar isi 2 SB dan matras. Banyak yang bertanya kemana saya hendak pergi berkemah, setelah saya menyebut “Gunung Gede”, mereka berpesan agar saya harus hati-hati dengan binatang di sana.
Setelah selesai rapat dengan teman-teman organisasi mahasiswa di kampus pada jam 11 siang, saya langsung bertemu Dana yang sudah menunggu di rumah kost. Kami langsung bersiap dan packing sampai malam hari dan saya mendapati daypack saya penuh sesak setelah selesai packing. Meskipun sudah sangat mengantuk, ditambah kondisi fisik yang drop karena kesibukan yang super, saya tidak bisa langsung tidur malam itu karena Dana mengajak saya untuk keluar mencari beberapa hal yang kurang. Kami baru kembali ke rumah kost jam 2 pagi.

Jam 6 pagi kami memulai perjalanan, tidak lupa untuk berfoto-foto, mengabadikan momen dan keadaan kami yang sudah keren dan benar-benar seperti seperti hiker. Sebelumnya kami sempatkan untuk membeli susu dan sarapan, juga nasi bungkus untuk makan siang. Betapa repotnya hari itu dan agak membuat saya malas, harus naik KOPAJA dan kendaraan umum lain dengan barang bawaan yang banyak. Akan tetapi saya langsung teringat pada novel “5cm” dan semangat saya kembali menguat.

Selama dalam perjalanan saya berkenalan dengan banyak teman baru yang juga akan mendaki Gunung Gede. Banyak pertanyaan dan kekhawatiran dalam benak saya. Subhanallah. Saya tak tahu apa yang nanti akan terjadi di sana. Sesekali tersenyum bodoh dan merasa geli jika mengingat beberapa pesan di diary yang sengaja saya tulis dan saya letakan begitu saja di kamar kost, dengan harapan teman-teman kost membaca seandainya ada hal buruk terjadi. Pada akhirnya saya pasrahkan semua pada Allah, semuanya. Saya hanya bisa terus berdoa dan memohon perlindunganNya. Saya juga sempatkan memberikan kabar pada keluarga saya agar mereka tahu kemana saya akan pergi. Tiba-tiba bayangan orang-orang yang saya sayangi muncul dan membuat saya semakin menyadari rasa sayang saya pada mereka. Berbagai perasaan bercampur dalam dada, tidak mampu menepis dan akhirnya saya biarkan begitu saja.

3 komentar: Leave Your Comments

  1. mbak nurul makasih ia udah beresin tulisan aku yang ancurr banget.ini keren mbak. ({})

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi.. edit EYD oleh Farah, aku edit cerita... maap beberapa pemborosan kata aku buang :P

      Hapus
  2. i dont know why....saya suka critanya

    BalasHapus