WHAT'S NEW?
Loading...

Masih Banyak Masyarakat ‘Buta Huruf’



“Jadi kita akan mulai dari mana? Ayam atau Telur?”
“Ini soal habbit, kita harus merubah habbit buruk si ayam”
“Setuju!”
“Supaya saat telur menetaskan anak ayam, induknya akan mengajarkan habbit baru yang positif”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan?”

Begitu sepenggal dialog dari panjangnya obrolan  4 orang yang aktif dalam Back Packer Koprol, menyoal sampah. Lalu, apa hubungannya antara sampah dan buta huruf? Dan apa hubungannya dengan habbit dan ayam atau telur?

Apa yang kita fikirkan saat melihat seorang anak berjalan kaki sepulang sekolah sambil menikmati permen, lalu membuang bungkus permennya begitu saja di
sembarang tempat? Sebagian mungkin akan memaklumi, “namanya juga anak-anak”, sebagian lain mungkin tak mau memikirkan dan cuek saja, atau mungkin ada yang kemudian marah lalu menasehati. Sedikit sisanya akan mertindak, memungut bekas permen tersebut dan membuang pada tempat sampah yang telah disediakan.

Inilah habbit negatif masyarakat, membuang sampah sembarangan. Kebiasaan turun temurun dan susah untuk diubah. “Tapi bukan tidak mungkin”, begitu keyakinan kami. Sedikit dari sedikit orang-orang yang peduli, atau kami ingin turut peduli lebih tepatnya.

Orang tua menyekolahkan anak-anaknya, apakah hanya untuk memerangi buta huruf saja? Supaya mereka bisa membaca dan menulis? Lalu pertanyaannya, apakah mereka tidak membaca tulisan yang tertera pada bungkus jajanan mereka “Buanglah sampah pada tempatnya”. Sekali lagi ini soal habbit.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan?”

0 komentar:

Posting Komentar