WHAT'S NEW?
Loading...

Gunung Habis, Ibu Menangis.


kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
emas intan mu terkenang

hutan gunung sawah lautan
Foto saya ambil dengan kamera handphone dari dalam bus.
simpanan  kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
emas intan mu terkenang

ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa

Tiba-tiba terngiang lagu "Ibu Pertiwi" di kepala, melihat pemandangan sepanjang jalan lingkar selatan kota Cilegon, Banten. Pemandangan yang begitu mengiris dan menyayat hati. Kawasan yang sudah hampir 2 tahun terakhir ini pasrah tak berdaya, tak mampu melawan robot-robot yang dikendalikan manusia untuk mengeruk tanahnya. Alat Berat itu menyama-ratakan gunung-gunung dengan tanah, gunung-gunung disepanjang Jalan Lingkar Selatan Cilegon. Pemandangan yang setiap hari saya saksikan, dan sudah sejak
lama ingin saya tuliskan betapa sakitnya hati ini melihatnya.

Foto galian gunung di sepanjang jalan lingkar selatan, Cilegon

Foto Pembangunan Mega Proyek KS Posco

Tanah hasil kerukan tersebut kemudian digunakan untuk menguruk lahan di Kawasan Industri Estate Cilegon (KIEC) seluas 150 Ha, yang diperkirakan bisa berkembang hingga 1.500 Ha.  Lahan tersebut akan digunakan untuk membangun Mega Proyek Krakatau Posco. Sebuah perusahaan Joint Venture antara PT. Krakatau Steel (persero) dengan POSCO dari Korea Selatan, yang agreement-nya telah ditanda-tangani pada 4 Agustus 2010 dan dihadiri oleh Mentri Negara BUMN. Proyek yang membutuhkan investasi senilai 6 milyar dollar Amerika ini ternyata tidak hanya telah menghabiskan gunung-gunung di kota Cilegon saja, tapi juga menutup ribuan hektar lahan yang semula menjadi daerah serapan air.

Dengan adanya Mega Proyek KS POSCO ini jelas saja akan membawa dampak positive bagi kota Cilegon khususnya dan Indonesia pada umumnya, yaitu berupa lapangan kerja baru dimana proyek ini membutuhkan tenaga kerja sebanyak 1.000 orang lebih pada tahap awal, dan ditargetkan akan mencapai nilai produksi hingga 6 juta ton baja pertahun, yang semula hanya sebesar 2,5 juta ton. Akan tetapi disamping dampak positive itu pasti ada dampak negative yang ditimbulkan, dan dapat jelas terlihat dengan adanya perusakan alam.

Warga kota Cilegon bersama-sama dengan mahasiswa, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan perangkat desa seperti Lurah dan Camat, tak jarang melakukan demo di depan kantor walikota Cilegon, menuntut agar proyek ini dihentikan. Akan tetapi tuntutan lewat demo tersebut tidak berhasil mengingat proyek ini kabarnya mendapat perhatian kusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang turut hadir meninjau pembangunan Mega Proyek KS POSCO pada 28 Februari 2012.

Memang saya kurang begitu faham dengan tujuan pembangunan KS POSCO ini yang pastinya berhubungan dengan usaha pemerintah memajukan ekonomi Indonesia. Akan tetapi saya merasakan kepedihan setiap hari, setiap kali saya menyaksikan gunung-gunung yang hampir rata dengan tanah, dan lagi-lagi lagu "Ibu Pertiwi" terngiang di telinga saya. Ingatan saya kembali pada masa kecil saya yang sangat suka bermain di gunung-gunung kecil di desa tempat lahir saya, dan sayangnya gunung-gunung tempat saya bermain dengan teman-teman saya pun sudah musnah, rata dengan tanah.

"Sampai kapan Bumi kita bisa bertahan ditengah perusakan?"

Sebagaimana banyak dijelaskan dalam Al Qur'an bahwa gunung-gunung adalah pasak (pancang/paku) bumi. Banyak ayat menjelaskan bahwa bumi bergetar pada saat diciptakan, kemudian ditancapkan lah gunung-gunung sehingga bumi menjadi diam. (lihat surat 78:6-7 dan 16:15). Atau kita bisa liat dalam sebuah buku yang menjadi pegangan banyak universitas di seluruh dunia berjudul 'Earth' karangan Proffesor Emeritus Frank Press. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa gunung-gunung mempunyai akar yang menghujam dalam, sehingga gunung-gunung tersebut menyerupai pasak.

Gambar 7. Gunung-gunung memiliki akar yang dalam di bawah permukaan tanah. (Earth, Press dan Siever, hal. 413)
Gambar 7. Gunung-gunung memiliki akar yang dalam di bawah permukaan tanah.
(Earth, Press dan Siever, hal. 413)

"Apa yang akan terjadi jika pembangunan di bumi ini terus memakan korban gunung-gunung kita?”

2 komentar: Leave Your Comments

  1. What we could do? Just wait and see? Atau "bergerak" dengan "cara" kita?

    BalasHapus