WHAT'S NEW?
Loading...

Dokter Pohon

Beberapa bulan lalu saya sempat menonton berita di stasiun TV Swasta, sekitar Bulan Januari 2012 saat banyak hujan lebat beserta angin seperti badai dan menumbangkan pohon-pohon di jalanan utama Jakarta. Yang membuat saya tertarik dengan berita ini adalah sebuah profesi unik, seseorang yang karena kepeduliannya terhadap lingkungan terutama pohon, sehingga kemudian dijuluki 'Dokter Pohon'. Berita tersebut dimuat dalam situs berita Okezone.com, silakan klik link ini untuk menonton langsung video liputan tersebut.


Sebenarnya saya mengenal istilah 'dokter pohon' waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Pada jam istirahat saya kadang lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan sekolah, dan satu buku yang saya ingat yang pernah saya baca selain buku-buku cerita rakyat adalah buku berjudul 'Dokter Pohon'. Buku tersebut menceritakan tentang seorang laki-laki yang hidup pada masa Perang Dunia II.
Kepeduliannya terhadap lingkunagan terutama pohon-pohon di sekitar desa tempat tinggalnya, dan membuatnya dikenal banyak orang terutama setalah Amerika Serikat mejatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Peristiwa tersebut membuatnya begitu prihatin dengan rusaknya hutan dan mematikan banyak sekali pohon-pohon. Lalu ia mulai mengekplorasi kedalam hutan, memeriksa satu persatu pohon, dan merawatnya apabila dia menemukan pohon yang sakit.

Saya sangan ingin membaca sekali lagi buku itu, saya tidak yakin buku tersebut masih ada di SD tempat saya mulai menimba ilmu tahun 1991. Dan saya benar-benar putus asa setelah usaha saya mencari literatur tentang 'dokter pohon' dalam buku itu di internet, saya tidak bisa menemukannya bahkan di wikipedia dan melalui mesin pencari google.

Tapi saya sedikit terhibur dengan menemukan artikel dari salah satu blog, yang ditulis tahun 2010. Artikel tentang 'dokter pohon' perempuan di Jepang bernama Konami Tsukamoto, yang mejalankan profesinya dengan penuh kecintaan dan mendapatkan gelar pertama sebagai seorang 'Juumokui' (ilmu kedokteran baru) pada tahun 1992. Setiap hari Konami memeriksa setiap pohon, menggunakan alat-alat selayaknya seorang dokter, dibutuhkan waktu 2 jam untuk memeriksa satu pohon, dan membutuhkan waktu 2-3 bulan perawatan untuk pohon yang sakit hingga sehat. Cerita selengkapnya tentang 'dokter pohon' perempuan berusia paruh baya ini bisa dibaca pada blog berjudul 'Pelangi Sakura'.

Sekarang saya mengenal 2 orang 'dokter pohon' dari Jepang. Jepang memang terkenal sangat peduli lingkungan seperti diceritakan juga dalam blog Pelangi Sakura. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Saya menduga pasti ada orang-orang yang peduli pada pohon-pohon di Indonesia, ditengah maraknya penebangan liar untuk memperoleh keuntungan pribadi dari kekayaan hutan Indonesaia. Namun pertanyaannya, ada berapa banyak dokter pohon di Indonesia? Apakah Profesi tersebut mendapat apresiasi atau dukungan dari pemerintah?

0 komentar:

Posting Komentar