WHAT'S NEW?
Loading...

Who We Are: Here We Start To Koprol

Ngga pernah terbayangkan kalau sebuah event akan mempertemukan saya ke orang-orang paling gokil dan paling koprol di sepanjang sejarah hidup saya. Berawal dari Gabung Mulung Tidung 3, yaitu sebuah event sosial untuk mengajak banyak orang untuk peduli pada kebersihan lingkungan tempat pariwisata, khususnya pulau Tidung. Saat diberitahukan soal event ini, seorang kawan yang saya kenal dari Kaki Gatel menawari saya untuk menjadi salah seorang Team Leader. Dan tawaran tersebut saya sambut dengan baik. Setelah beberapa kali rapat, kemudian ditentukanlah saya untuk menjadi Team Leader 5 dengan wakil Team Leader Dzaellani dan Nurul serta seorang sweeper bernama Vivi.

Saya pun mulai bergerilya mencari "mangsa" untuk menjadi anggota team. Satu per satu teman-teman bergabung di kelompokku. Selain saya gabungkan mereka di grup BBM, saya pun membuka grup rahasia di Faceboook khusus untuk tim kami. Dari perkenalan singkat di grup BBM dan pertemuan di GBK, aku sudah menangkap sinyal-sinyal bahwa mereka "berbeda". Ya, "berbeda" dengan arti yang positif. Kami seolah dipertemukan oleh takdir.

Hari yang dinanti-nanti pun tiba, yaitu 29 September 2012, kami bertemu di Dermaga Bahtera Jaya sebelum bertolak ke Pulau Tidung. Total 49 orang dari anggota team yang akhirnya ikut. Beberapa di antaranya berasal dari Bandung, Yogya dan Surabaya. Ini sebuah pengalaman baru bagi kami semua. Menjadi moment yang tidak akan pernah bisa kami lupakan dan akan menjadi awal perjalanan yang lain bagi kami semua. Tidak peduli dengan banyaknya perbedaan antara kami semua, perbedaan umur, status dan latar belakang malah menjadi warna tersendiri bagi kami semua.







Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan di atas laut, tibalah kami di Pulau Tidung, salah datu dari jejeran kepulauan seribu dan terletak jauh di utara. Menginjakan kaki kembali di Pulau Tidung setelah berbulan-bulan lamanya menjadi nostalgia tersendiri bagi saya, ada yang berubah hanya dalam hitungan bulan. Ohhh...saya rindu untuk sampai ke Jembatan Cinta.



 

Setelah kami beristirahat sejenak di homestay yang telah ditetapkan panitia, kami pun melakukan tujuan utama kami ke Pulau Tidung ini yaitu memulung. Semula mereka diminta memulung di Dermaga, tapi saya rasa sayang kalau cuma sampai sana saja, jadilah saya berinisiatif untuk mengajak teman-teman untuk memulung di Tidung Kecil yang harus ditempuh dengan melewati jembatan cinta. Jembatan cinta kali ini sudah rusak parah, lebih-lebih dari terakhir kali saya mengunjungi Tidung. Kita tidak boleh lengah sedikit pun saat melintasi jembatan cinta, bisa-bisa kita terperosok ke dalam lubang dan jatuh ke laut. di beberapa spot terlihat bekas-bekas jembatan yang terbakar. Namun hal ini sama sekali tidak menggoyahkan semangat team untuk terus berjalan hingga sampai ke Tidung Kecil. Sayangnya disebabkan karena kecepatan saya berjalan sebagian team miss keberadaan kami, jadilah team terbagi menjadi dua. Saya dan beberapa rekan ke kanan dari arah jembatan, sedang sebagian kami ke arah kiri dari jembatan. Sebenarnya memang yang harus kami pungut adalah sampah plastik dan kaca yang dapat di  daur ulang. Namun buat kami apa pun yang mengotori bibir pantai adalah sampah, dan tujuan kita membersihkannya, jadi semua yang kami temukan termasuk sampah kasur, sampah bantal, tas, sendal jepit, semua kami masukan ke dalam trash bag dengan tanpa mengeluh walau harus menguras tenaga kami saat mengangkatnya. Sementara di sisi satunya pun kami melakukan tindakan yang sama, seolah-olah kita memang sudah satu "klik". Selesai mengumpulkan semua sampah, kami pun menggotong sampah tersebut keluar pulau, namun sayangnya harus dibawa kemana sampah itu kemudian, malah menjadi kebingungan tersendiri. Seharusnya sampah-sampah tersebut dibawa ke dermaga, namun mengingat jarak tempuh Dermaga Cinta dan Dermaga itu mencapai 2-3 kilo perjalanan, tidak memungkinkan dengan lelahnya fisik teman-teman. Jadi saya meminta team meletakan sampah-sampah tersebut bersama dengan kumpulan sampah-sampah lainnya dan meminta teman-teman untuk kembali ke homestay.



 


Asal kata "Koprol"

Sekembali kami ke homestay dalam keadaan lapar dan lelah sambil menunggu makanan, kami bercengkrama. Entah bagaimana dimulainya, namun yang jelas kata-kata "Koprol" dimulai oleh satu teman dari tim kami yang gokil, pencetus kata tersebut dimulai oleh Alvie. Setiap kali ada hal-hal konyol dan tidak masuk akal, dia akan menanggapinya dengan "Koprol". Awalnya cuma celetukan biasa, lama-lama ini jadi menular ke satu tim. Setiap kali ada hal-hal yang konyol atau unik atau pun yang ngga banget bakalan jadi "Koprol".

Tak lama makan malam pun sampai ke homestay, sambil berkoprol-koprol ria kami menikmati makan malam yang cuma tempe, sayur dan kerupuk. What we could expected anymore? Namanya juga sedang jadi volunteer? Walau cuma seadanya, dengan obrolan yang hangat dan kebersamaan, tempe pun bisa terasa jadi steak.




Sebetulnya saya punya rencana untuk mengadakan kumpul-kumpul dengan seluruh anggota tim, namun entah bagaimana, setelah makan malam, saya bermaksud untuk rebah-rebahan sejenak. Namun yang terjadi kemudian saya malah tidak ingat apa-apa. Saya terbangun dengan berdengungnya azan shubuh, saya membuka mata dan melihat ke kanan kiri, saya tersadar kalau saya tertidur di lantai tanpa beralaskan apa pun, saya juga melihat kawan-kawan sudah tertidur layaknya ikan asin dijemur, setengah sadar saya melihat teman lelaki tidur di sebelah kanan saya, jadi saya bangun dan masuk kamar perempuan dan melanjutkan tidur ayam lagi di sana (ini TL kebo banget yah? Hehehe). Setelah saya bangun satu persatu kawan pun bangun untuk shalat shubuh. Saya juga mau tidak mau harus bangun karna memperingatkan kawan-kawan yang akan mengikuti snorkeling pagi itu. Sementara saya membiarkan kawan-kawan lainnya yang masih ingin lanjut tidur atau menikmati Tidung di pagi hari. Setelah melepas kawan-kawan snorkeling, saya sendiri sibuk berkeliling Tidung untuk menikmati pemandangan Tidung pagi hari hingga menjelang siang. Sampai di Dermaga Cinta sebagian teman-teman tim sudah berkumpul di sana untuk terjun dari Jembatan Cinta yang fenomenal itu.




Konon Jembatan Cinta dibangun sebagai sebuah pembuktian cinta dari seorang pangeran Kalimantan yang dibuang ke pulau tersebut pada zaman Belanda pada istrinya. Jembatan ini menghubungkan dirinya dengan sang istri yang konon dipisahkan di pulau kecil di selatan Tidung yang kini disebut Tidung Kecil (Sumber: penduduk Tidung). Namun jembatan tersebut hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Entah siapa yang memulai kepercayaan ini, banyak desas-desus yang mengatakan jika seseorang berhasil lompat atau terjun dari atas jembatan, maka dia akan mendapatkan cinta sejatinya. Jadilah para pengunjung yang datang ke Tidung bertaruh untuk terjun dari sana sebagai pembuktian atau cuma sekedar mempertahankan harga diri di antara kawan. Tak jarang orang hanya sampai di atas jembatan, namun berjam-jam hanya berdiri di sana karna galau harus terjun dan kemungkinan selamat, saya sendiri termasuk salah seorang yang merasakan sensasi tersebut. Saat melihat orang terjun sepertinya mudah, namun begitu sampai sana, segala perasaan bercampur aduk, apalagi saya seorang hyperphobia yaitu orang yang fobia terhadap ketinggian karna kejadian masa kecil yang saya alami, jadilah saya urung terjun. Kemungkinan terjun memang bisa saja terjun dengan selamat atau terjun dengan terluka apabila kita salah perhitungan. Setelah menunggu kawan-kawan snorkeling kembali, kami pun bermain di area sekitaran jembatan. Tak ketinggalan tim pun ikut mencoba terjun. Satu persatu kawan mulai mencoba terjun, sementara saya berteriak-teriak menyemangati dari bawah jembatan. Tidak sedikit kawan yang urung terjun dari sana. Apakah ini membuktikan kalau yang urung terjun akan membuat kita sulit jatuh cinta? Sepertinya sih itu hanya mitos atau desas-desus saja, sementara untuk kami ini adalah salah satu permainan yang sangat fun.





Setiap kali saya mengingat saat-saat di Tidung bersama teman-teman team 5, saya menjadi sangat terharu. Saya lega dipertemukan dengan teman-teman yang bisa diajak kompak, bisa diajak senang dan juga bisa diajak susah. Saya menikmati momen-momen kebersamaan dengan penuh rasa syukur. Saya memiliki keluarga yang baru dan kawan berbagi. Puas bermain di bawah Jembatan Cinta tidak lantas membuat kami lupa diri dan lupa waktu, karna memang masih ada acara yang direncanakan oleh panitia inti. Saya pun mengajak teman-teman untuk ke tempat acara tarik tambang. Sayangnya tidak semua tim berkumpul, sedang tim 5 pun ada yang berpencar, jadi hanya sebagian anggota yang ikut bermain. Permainan dibuka dengan permainan bentengan. Kami antusias mengikuti permainan ini dengan penuh semangat, Zae pun mengincar salah seorang TL tim lain dengan terlalu bersemangat. Tak pelak permainan ini membawa korban luka, Alvie jadi salah satu "korban" yang kakinya entah kenapa tersusup apa, namun luka tersebut tidak lantas menurunkan semangatnya untuk terus mengikuti permainan.

Selesai permainan tersebut, kami pun bersiap mengikuti permainan selanjutnya yaitu Tarik Tambang. Salut dan terharu dengan semangat kawan-kawan lelaki di tim 5 yang bersemangat penuh sampai 3 kali berturut-turut mengikuti permainan. Begitu juga kawan-kawan perempuan, saya pun tidak mau kalah semangat dari seluruh anggota tim. Menang kalah bukan menjadi tujuan kami, tapi partisipasi kami dalam mengikuti permainan adalah sebuah precious. Bahagia saya bisa menikmati momen ini bersama tim.


 





How can I say thank's to all team? Rasanya ucapan terimakasih tidak pernah cukup untuk menggambarkan perasaan bangga dan terharuku pada tim. Selesai permainan tarik tambang kami semua terjun ke laut untuk membersihkan diri dari pasir pantai. Koprol banget, kami malah jadi mainan domikado. Unyunya, permainan ini jadi cool karna dimainkan dengan teman-teman yang gokilis punya. Selesai main dengan dua korban yaitu Teddy dan Irfan, kami pun berpose bersama di sana. How could it be not fun?





Beginilah perjalanan seru yang mengakhiri cerita kami di Tidung. Berakhirnya acara di Tidung bukanlah berakhirnya persahabatan kami. Namun justru sebuah awal bagi keluarga baru ini. Lelah, penat dan kesal terbayar sudah dengan seluruh cerita seru di sini. Kepulangan kami dari Tidung malah menjadi awal terbentuknya Team 5 menjadi Team Koprol dan Team Racun. Jadilah sepertinya kami menggagalkan niat bunda Ari untuk "gantung tas" sebagai backpacker. Kami berharap kisah ini hanyalah kisah awal yang tiada akhir sampai kita tergerus masa dan zaman nantinya. Hanya takdir yang bisa memisahkan. Namun saya berharap, di mana pun kami berada, kami adalah sebuah keluarga besar yang dipersatukan oleh alam. Salam Koprol!!!!


                                       LIMA!!! SAY NO TO SAMPAH!!!

4 komentar: Leave Your Comments

  1. Tim 5...oyeee !!
    Tulisan ini dipersebahkan oleh "Koprol Moment" Hahahaha... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... teriak 'Oye..!!' sambil koprol :D

      Hapus
  2. cakep..tulisannya mengalir kaya lagi mencret.. haha oyeee!

    BalasHapus
    Balasan
    1. ups... be right back, mau kirim daun jambu biji ke penulisnya :P

      Hapus