WHAT'S NEW?
Loading...


Tulisan ini dibuat ketika gue sedang menyambi pekerjaan lembur gue di ruang kerja klien. Waktunya? Tengah malam, lebih dikit sih. Mungkin kalau gue adalah Cinderella, kondisi gue sekarang udah kehilangan magic yang bikin gue jadi rupawan. Walaupun sebenernya kalau gue ngaca, tampang gue acak-acakan karena jam segini belum ketemu pulau kapuk, haha. Entah kenapa otak gue jadi cair, gue lagi pengen nulis. Ya, mungkin secara gak sadar, gue mengingat kalau ada target buat bikin lima tulisan dalam setiap bulan. Mumpung ada waktu, kenapa enggak?



Terhenyak hati ini ketika membaca informasi yang diberikan oleh teman-teman sesama petualang, beberapa pendaki gunung dinyatakan tewas dalam perjalanannya di bulan ini. Seorang bapak berusia 53 tahun meninggal ketika mendaki Gunung Semeru dan remaja SMA kelas X ketika mendaki Gunung Gede. Berduyung-duyung informasi dari berbagai sumber disampaikan oleh teman-teman, menambah informasi untuk pertanyaan yang membuat kita was-was, “Kenapa sih mereka bisa meninggal di sana?” 


Kompas.com
Petualangan mendaki gunung saat ini menjadi sebuah trend, perjalanan yang menggoda bagi para pemburu eksistensi. Tidak dapat dipungkiri banyak pendaki pemula yang mencoba mendaki gunung, berharap mampu menaklukan suatu daratan dengan ketinggian di atas 2500 mdpl. Saya meyakini, persiapan yang dilakukan oleh mereka pastinya diusahakan dengan baik, well prepared. Sepatu, jaket, senter, tas keril, dan tak lupa cemilan-cemilan ringan menjadi hal wajib yang mereka siapkan.

Waktu berlibur yang tidak sebentar merupakan momen yang tepat untuk menggunakan semua peralatan tempur itu. Namun pada kenyataannya, mungkin ada beberapa hal yang mereka lupakan atau anggap sepele. Buat saya, kondisi alam dan kesiapan diri yang optimal merupakan dua hal yang menjadi hal yang patut dipertimbangkan dengan matang. Dan di tulisan inilah saya akan berbagi opini mengenai kedua hal tersebut.

Kondisi alam mencakup bagaimana cuaca, iklim, suhu dan hal-hal lain terkait dengan destinasi yang akan kita datangi. Indonesia memiliki dua macam musim, yakni kemarau dan hujan. Kedua musim tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang berpengaruh dengan tempat yang akan kita kunjungi.
Musim hujan cenderung merupakan pilihan yang kurang bersahabat bagi para petualang. Pagi yang berawan, sehingga pemandangan sunrise terhalang awan mendung. Jalur trekking yang berlumpur dan basah karena hujan, membuat langkah kaki menjadi lebih berat. Gelombang laut yang tidak bersahabat. Suhu yang cenderung jatuh ekstrim ketika malam tiba menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi beberapa orang. Sehingga diperlukan persiapan yang jauh lebih matang, jauh lebih daripada cukup untuk bepergian ketika musim hujan tiba. Perlu pendampingan yang ekstra untuk seorang pemula dalam melakukan perjalanan ke tempat yang termasuk kategori ekstrim. Saat ini di Indonesia, musim hujan kira-kira datang dari bulan November/Desember, keras di akhir Desember/awal Januari dan  dan berakhir di bulan Maret/April.

Musim kemarau bisa dikatakan musim yang “aman” bagi para petualang. Musuh utama yang mereka hadapi adalah panas matahari yang menyengat. Apabila tempat yang didatangi ketersediaan airnya mencukupi, maka persiapan yang ala kadarnya cukup untuk seseorang pergi ke satu destinasi. Musim ini bisa dikatakan musim yang baik untuk para petualang pemula menantang alam. Sekaligus melihat sejauh apa batas kesanggupan dirinya dalam menghadapi perjalanan dengan medan yang berat. Musim kemarau kira-kira dimulai dari bulan Mei/Juni, keras di bulan September/Oktober, dan berakhir di bulan November/Desember
Peralihan musim hujan ke kemarau biasanya menjadi salah satu pilihan yang paling digemari oleh para petualang dan pendaki gunung. Kondisi alam yang baru kembali pulih, tanaman-tanaman yang baru dan masih bermekaran, nuansa warna-warni dari bunga-bunga yang tumbuh, menjadi incaran semua orang. Masa-masa peralihan biasanya di sekitaran triwulan April-Juni.

Dan bahasan terakhir adalah mengenai kesiapan diri. Kesiapan diri bukanlah tanggung jawab orang yang mengajak kita berpetualang, tapi 100% TANGGUNG JAWAB KITA SENDIRI!

Kitalah yang paling mengetahui kurang dan lebihnya diri kita, bukan orang tua kita.
Kitalah yang tahu batas kemampuan diri kita, bukan rekan jalan kita.
Kitalah yang paling mengenal baik diri, bukan teman kita.

Mata kita terlanjur silau dengan waktu libur yang panjang dan kata-kata petualangan yang mendebarkan, sehingga kita lupa dengan batasan diri yang kita miliki. Stamina, ketahanan tubuh, kekebalan terhadap panas/dingin, penyakit bawaan yang dimiliki merupakan hal yang perlu disadari di awal. Usia pun kerap menjadi satu hal yang perlu kita dipertimbangkan pula. Latihan fisik yang terkadang menjadi sesuatu yang disepelekan. Pola makan yang tidak teratur menjadi sesuatu yang biasa. Kebiasaan-kebiasaan buruk inilah yang pada akhirnya akan menjadi beban bagi diri kita di situasi dan kondisi yang tidak kita bisa duga.

Setelah meyakini fisik yang cukup, mental pun perlu dipersiapkan dengan matang. Simple-nya, kesiapan mental adalah bagaimana kita memantapkan diri untuk aksi yang akan kita lakukan, mengetahui sepenuhnya setiap resiko yang akan kita hadapi, dan menyadari bahwa keputusan yang diambil adalah benar-benar keputusan yang berasal dari diri kita.

Terakhir dari saya, ada dua pertanyaan fundamental yang perlu kita ketahui jawabannya untuk memulai setiap perjalanan;

Tanya orang-orang, teman-teman kita, “Musim apakah yang paling baik dan bagus untuk pergi ke tempat X, musim kemarau atau hujan dan mengapa?”

Tanya diri kita dengan seksama, “Siapkah kita untuk mendatangi tempat X di waktu yang kita tentukan tersebut?”

Semoga setiap perjalanan yang dilalui sahabat menjadi sebuah cerita manis yang menginspirasi bukan cerita tragis yang ditangisi.

"Karena hidup bukan untuk dihabiskan di satu titik dalam peta. Pergilah, buatlah garis dalam peta kehidupanmu dan lihatlah berbagai macam ciptaanNya.”



Hari itu, saya kembali membuka catatan-catatan lama (buku primbon, haha), tak sengaja menemukan quotes di atas. Quotes ketika saya mulai melakukan sebuah perantauan untuk pertama kalinya. Tentu saja, ketika saya membaca tulisan itu, semangat traveling saya yang terlihat mulai berdebu kembali lahir.  

Sepakat ketika banyak orang bilang, "Menulislah, apapun! Jika tulisan itutidak bermanfaat untuk saat ini, yakinlah tulisan itu akan bermanfaat suatu saat nanti. Dan jika bukan bermanfaat untuk dirimu, yakini jugalah bahwa tulisan itu akan bermanfaat buat orang lain."

Berwisata ke kompleks gunung Krakatau. Petualang yang penuh aneka ragam. Kamu bisa memulai petualangan ke pantai pasir hitam pulau anak Krakatau, melakukan attack ke zona aman pendakiannya, dan menelusuri pulau-pulau cantik lainnya sambil bermain snorkling melihat pemandangan biota laut dan terumbu karang. 

Menghadapi kesibukan ibu kota, setiap orang membutuhkan tempat yang nyaman serta hommy. Di tengah-tengah aneka restoran di sepanjang Jalan Sabang, dari luar D' Marco Cafe terlihat seperti cafe pada umumnya, tapi memasuki cafenya suasana yang hangat dan bersahabat membuat yang berkunjung merasa senang untuk berada di dalamnya. Walaupun kecil, tapi kesan cozy tercermin di dalamnya.